Kondisinya Amat Kritis Airnya Sudah Tercemar Berat Limbah Industri & Rumah SUMEDANG, (PR).- Daya dukung serta daya tampung S Cikijing dan Cimande sudah tidak mampu lagi menerima air limbah industri, baik yang berlokasi di wilayah Bandung maupun Sumedang. Sementara para petani yang berada di alur sungai tsb tidak memiliki alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan air pertanian dan perikanan. "Wajar kalau kemudian para petani merasa dirugikan oleh pencemaran yang terjadi di dua sungai itu," kata Kasubdin Pengelolaan Dampak Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup, Sumedang, Ir.Usep Komaruzzaman, MM, Kamis kemarin. Melihat kondisi tsb, menurut Usep, limbah cair yang dihasilkan 14 industri di kawasan Cimanggung dan Cikeuruh yang sebagian besar bergerak di bidang tekstil harus segera diatasi. Salah satunya, yang kini sedang ditempuh membuat alternatif lain untuk lokasi pembuangan air limbah dengan meneliti daya dukung setiap sungai yang dimungkinkan dapat menerima beban pembuangan limbah cair. Sungai Citarik yang melintas di wilayah Cimanggung dan bermuara di Sungai Cimanuk merupakan alternatif yang menurut hasil penelitian memiliki daya dukung untuk menerima beban pembuangan limbah cair 14 industri yang ada di sana. "Alternatif itu, kini menjadi wacana dan sedang dipelajari para pengusaha industri. Maksimal tanggal 24 Juli nanti, semua industri akan melakukan pertemuan untuk menyampaikan kesimpulan terakhir untuk dibangunnya pipa pembuangan limbah menuju Sungai Citarik," ucapnya. Diakui Usep, hasil kajian di alur Sungai Citarik, tingkat resiko pembuangan limbah cair industri ke sungai tsb sangat kecil dan tidak sampai mengkhawatirkan. Secara biologi, air limbah dari 14 industri yang kini mencapai 347 liter/detik dan direncanakan pembuangannya memakai pipa sejauh 5,5 km akan mengalami normalisasi secara alami pada radius 7 km dari lokasi bak penampungan. "Dan pada radius 7 km itu, kebetulan tanah sawah penduduk berada dua meter di atas sungai. Jadi, tidak perlu dikhawatirkan adanya pencemaran seperti di Sungai Cikijing dan Cimande," ujarnya. Optimalkan Menurut Usep, jika tidak alternatif lain untuk membuang limbah, pencemaran yang kian tidak terkendali di Sungai Cikijing dan Cimande dalam jangka pendek dan jangka panjang dapat berakibat buruk bagi lingkungan di sekitarnya. Hal itu, terlihat dari laporan hasil analisa mikrobiologi yang dilakukan laboratorium khusus PT. Sucofindo, per Mei 2001. "Dari hasil analisa terhadap sembilan parameter baku mutu limbah cair industri tekstil di sungai tersebut, karakteristik baku mutunya mengalami fluktuatif," jelas Usep. Dicontohkannya, dari laporan hasil analisa yang baru diterimanya, kandungan ecoliform (tinja) yang dilakukan melalui metoda filtration, mencapai angka 18.000 mg/liter, padahal syarat maksimum hanya 10.000 mg/liter. Free chlorine (cl2) 0,06 mg/liter, sedangkan syarat maksimumnya hanya 0,003 mg/liter. Begitu pula nitrite (NO2-N) hasil survei mencapai angka 0,105 mg/liter, padahal syarat maksimum hanya 0,06 mg/liter. "Itu artinya, untuk buang air besar atau berak pun, kedua sungai itu sudah tidak memungkinkan lagi," katanya. Bukan hal aneh, jika masyarakat dan para petani yang bermukim di sekitar alur sungai beberapa tahun terakhir merasa dirugikan dan memprotes keras pencemaran limbah cair. Bukan saja soal ancaman terhadap ahan pertanian, berbagai keluhan menyangkut kesehatan terutama pada kulit, turut mewarnai fenomena masyarakat di sekitar alur sungai itu. "Dampak secara kimia dan dari segi kesehatan, saya tidak bisa menjelaskan. Hanya, saya tidak bisa menyalahkan para petani dan masyarakat yang mengajukan protes. Bayangkan saja, kedua sungai itu merupakan tadah hujan sehingga kalau pun ada air mengalir, sebagian besar merupakan limbah cair industri," ungkapnya. Karena itu, meski akan ada alternatif pembuangan limbah, penanganan instalasi pengolah air limbah (IPAL) di masing-masing industri harus dioptimalkan. Hasil analisa mikrobiologi menunjukkan, dari sembilan baku mutu limbah cair industri tekstil, sebagian sudah melebihi ambang batas. --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TerraNet: Portal Lingkungan Hidup Indonesia: http://www.terranet.or.id
