TNI AL Teliti Sungai Musi Palembang, Sriwijaya Dinas Hydro Oceanografi (HO) dari TNI Angkatan Laut (AL) akan membantu meneliti berapa besar kedangkalan Sungai Musi akibat sedimentasi lumpur. Hasil penelitian ini akan dijadikan pedoman untuk melaksanakan proyek pengerukan Sungai Musi tahun ini dengan jumlah dana yang dianggarkan sebesar Rp 16,9 miliar. Hal ini disampaikan staf Dinas HO TNI AL Mayor Laut Ir Trismadi MSi dan Pimpro Pengerukan Sungai Musi Soedirman saat bertatap muka dengan Gubernur Sumsel H Rosihan Arsyad didampingi Asisten II Bidang Kesra Ir H Amiruddin Inoed, pekan lalu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengecek keakuratan data yang dikeluarkan oleh dinas terkait pengerukan Sungai Musi sehingga pelaksanaan di lapangan dapat efisien dan efektif. Trimadi menjelaskan, Dinas HO yang cukup berpengalaman dalam melakukan pendataan serupa di beberapa tempat di Indonesia, memiliki peralatan lengkap berbasi komputerisai yang dapat meyakinkan upaya pengerukan. "Tujuannya agar apa yang dilakukan nanti saat pelaksanaan pengerukan akan tepat sasaran, objektif dan optimal. Paling tidak akan menekan kalau sampai ada penyimpangan dalam pelaksanaan," katanya. Pimpro Pengerukan Sungai Musi yang juga Kasi KPLP Adpel Boombaru Pelembang Soedirman menjelaskan setidaknya terdapat 11 titik jalur sungai yang menjadi lokasi survei yang tersebar sepanjang 100 kilometer. Yakni Sungailais, Airtumbu, Muara Selatjaran, Penyambungupang, lokasi Parit 12, Payang Barat, utara, selatan, Tanjungcarat dan Ambangluar (C1 dan C2). Soedirman mengatakan, rencana pengerukan dianggarkan dan sebesar Rp 16,9 miliar. Dana tersebut berasal dari dana sindikasi konsorsium lima perusahaan (BUMN) di Sumsel yakni PT Pusri, Pertamina, PT BA, PT Semen Baturaja dan Pelindo Rp 9 miliar dan APBN (DIP) Rp 7,9 miliar. Tahun lalu, lanjutnya, kedangkalan Sungai Musi akibat sedimentasi lumpur sudah dilakukan pengerukan seberat 2,5 juta ton kubik, di lima lokasi/titik . Masing-masing ambang luar (C1,C2), Tanjungcarat, Payangutara dan Muara Selatjaran. Untuk pengerukan tahun ini Pemprop kembali melakukan survai serta meneliti kembali endapan lumpur di Sungai Musi yang diperkirakan mencapai lima juta ton kubik dengan panjang 67 kilometer. "Data inilah yang mesti diteliti akurat yang akan dibantu sepenuhnya oleh Dinas HO," timpalnya. Menurutnya, pengerukan Sungai Musi akan diprioritaskan di lokasi- lokasi yang rawan, dalam arti tingkat kedangkalannya mengkhawatirkan. "Secara menyeluruh ada sekitar 11 titik yang sering terjadi pendangkalan. Akan kita lihat mana yang diprioritaskan," tambah Soedirman. Gubernur H Rosihan Arsyad mengharapkan penelitian dari Dinas HO dapat menjadi acuan sekaligus cross check terhadap usaha pengerukan Sungai Musi. "Kemungkinan penyimpangan di lapangan akan selalu ada. Wong pembangunan jalan saja bisa ditipu dari setebal 10 cm hanya dibangunkan 2 cm. Apalagi di dasar sungai yang tidak kelihatan dengan mata. Maka itu saya tidak mau dibohongi, tidak mau ditipu. Harus ada data yang akurat dan pengawasan untuk persoalan ini, " kata Rosihan. (lis) Sriwijaya post, 16 Juli 2001
