Daftar berita terlampir:
* Bendungan Sutami Tercemar Berat
* 'Jangan Makan Ikan dari Sungai Siak'
* Sungai Siak Tercemar, Ratusan Nelayan Menderita
* Segara Anakan yang Terus Menyusut
* Sungai Bawah Tanah Atasi Krisis Air Tawar


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Bendungan Sutami Tercemar Berat
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4098
Warga beberapa desa di sekitar Bendungan Sutami, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 
meresahkan pencemaran yang terjadi di bendungan terbesar di Jawa Timur itu. Akibat 
yang ditimbulkan berupa bau busuk yang membuat warga pusing, mual, muntah-muntah, dan 
gatal-gatal.

Menurut pengamatan Kompas, Selasa (28/5), akibat pencemaran itu air Bendungan Sutami 
berwarna hijau kekuning-kuningan seperti juice alpukat. Terdapat gumpalan-gumpalan 
polutan dengan tebal sampai sekitar 30 cm. Adapun lebarnya bervarisasi, sampai ada 
yang selebar kasur.
(Kompas, 2002-05-29)



'Jangan Makan Ikan dari Sungai Siak'
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4102
Masyarakat yang bermukim di pinggiran Sungai Siak diminta untuk sementara tidak 
mengonsumsi ikan yang berasal dari sungai itu, terutama ikan yang banyak mengapung 
karena mati sejak beberapa hari terakhir.

"Kita sudah imbau masyarakat agar untuk sementara tidak memakan ikan- ikan yang mati 
bergelimpangan sejak beberapa hari lalu karena kita belum tahu dampak yang akan 
ditimbulkan jika ikan-ikan itu dikonsumsi," kata Camat Tualang Perawang, Riau, Fauzi, 
kemarin.
(Media Indonesia, 2002-05-29)



Sungai Siak Tercemar, Ratusan Nelayan Menderita
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4103
Diperkirakan sekitar 2,5 ton ikan terampung dan bergelimpangan di Sungai Siak, 
khususnya di Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Riau. Ini mengenaskan, karena selain 
memusnahkan mata pencarian sekitar 800 kepala keluarga nelayan, juga mengancam 
kesehatan penduduk yang mengonsumsi ikan."Ikan-ikan itu bergelimpangan sejak beberapa 
hari ini," kata Camat Tualang, Drs Fauzi, menjawab Kompas, Selasa (28/5). Menurut dia, 
berbagai pihak sudah turun ke lokasi, termasuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan 
(Bapedal) Kabupaten Siak dan Provinsi Riau. Hasilnya, belum diketahui secara pasti.

Menurut pengamatan, ikan ditemui mati secara sporadis sepanjang delapan mil, terutama 
antara Okura (Pekanbaru) sampai ke Perawang (Siak). Jenis ikan yang mati cukup beragam 
dengan ukuran yang bervariasi pula. Di antara ikan-ikan yang mati mengapung itu, 
adalah ikan yang dikenal luas masyarakat dan dikenal mahal seperti patin, juara, dan 
selais. Ukurannya bahkan sampai 25 kg per ekor.
(Kompas, 2002-05-29)



Segara Anakan yang Terus Menyusut
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4075
Kondisi Segara Anakan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang berbatasan dengan 
Kabupaten Ciamis Selatan, Jawa Barat, sudah sangat mengkhawatirkan akibat 
pendangkalan/ sedimentasi lumpur yang dibawa Sungai Citanduy, Cibeureum, Palindukan, 
Cikonde, dan sungai lainnya yang bermuara di situ.

Endapan lumpur yang terus meninggi setiap tahunnya mengakibatkan Segara Anakan penuh 
sedimen yang menghambat air sungai masuk ke laut. Sedimentasi itu juga mengakibatkan 
tidak berfungsinya Segara Anakan sebagai tempat berkembangnya pemijahan udang dan ikan 
laut lainnya, terganggunya kehidupan flora dan fauna, jalur transportasi, dan wisata 
air.
(Suara Pembaruan, 2002-05-26)



Sungai Bawah Tanah Atasi Krisis Air Tawar
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4079
Dalam dokumen Agenda 21, pemerintah mengungkapkan tingkat konsumsi air tawar di Pulau 
Jawa sekitar 65 miliar kubik, sementara ketersediaannya hanya 30 miliar kubik. 
Kebutuhan tersebut setiap tahun cenderung meningkat seiring pertambahan jumlah 
penduduk. Bahkan tahun 2015 nanti diperkirakan kebutuhan air tawar mencapai 165 miliar 
kubik. Sehingga berdasarkan hitung-hitungan, Jawa mengalami defisit air tawar.

Kondisi tersebut diperparah dengan kualitas air tawar yang ada semakin merosot. Selama 
ini masyarakat memanfaatkan sungai dan tanah sebagai sumber air tawar. Sungai-sungai 
di Indonesia semakin sulit diandalkan sebagai sumber air tawar, mengingat pencemaran 
yang semakin parah.
(Suara Pembaruan, 2002-05-26)



_______________________________________________
Sungai mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/sungai

Kirim email ke