Daftar berita terlampir:
* Ikan Mabuk di Kali Bekasi karena Air Kiriman dari Bogor
* Bendungan Sutami Pun Kini Terancam Mati
* Debit Sungai Cimanuk Menyusut
* Limbah Domestik Cemari Air Dangkal di Jakarta
* 50 Persen Sungai di Bandung Mengandung Racun
* Tiga Ton Ikan Mengapung di Sungai Siak


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Ikan Mabuk di Kali Bekasi karena Air Kiriman dari Bogor
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4144
Kepala Subdin Lingkungan Hidup (LH) Dinas Tata Kota dan Permukiman Kota Bekasi Ady 
Miftah membantah dugaan adanya pencemaran sungai di Kali Bekasi yang menyebabkan 
ribuan ikan mabuk dan mati. Berdasarkan pantauan Subdin LH, ikan-ikan tersebut mabuk 
karena keruhnya air akibat air kiriman dari Bogor yang mengalir melalui Sungai Cikeas 
dan Cileungsi, serta menyambung hingga Kali Bekasi. 

"Setelah kami cek ke lapangan, ternyata tidak terdapat indikasi pencemaran air sungai 
oleh limbah industri. Yang terlihat adalah naiknya air sungai hingga setengah meter, 
dan itu merupakan kiriman dari Bogor karena tidak terjadi hujan di Bekasi pada Sabtu 
hingga Senin ini. Kiriman air itu juga menyebabkan air menjadi keruh," papar Ady, 
Senin (3/6).
(Kompas, 2002-06-04)



Bendungan Sutami Pun Kini Terancam Mati
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4157
WARNA airnya hijau ke kuning-kuningan seperti juice alpokat. Ada gumpalan-gumpalan 
seperti agar-agar yang terapung-apung dan bergerak mengikuti arus angin. Gumpalan itu 
kalau mengering berwarna coklat kehitaman seperti petis. Air itu berbau menyengat 
seperti bau kotoran manusia. Tatkala bau itu dibawa angin, maka warga masyarakat desa 
sekitar sampai radius sekitar dua kilometer, akan mual, muntah-muntah, bahkan merasa 
sesak napas.
(Kompas, 2002-06-03)



Debit Sungai Cimanuk Menyusut
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4152
Krisis air irigasi bagi lahan pertanian di Kabupaten Indramayu makin membayang. Saat 
ini debit air Sungai Cimanuk, hanya sekitar 16 meter kubik per detik. Biasanya sungai 
itu berdebit 40 meter kubik per detik.

Jumlah itu sangat jauh dari mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air persawahan pada 
musim tanam gadu 2002. Kepala Dinas PU Pengairan Indramayu Ir H Ucu Kurnaedin juga 
mengakui bahwa debit air Sungai Cimanuk itu sangat mengkhawatirkan. Jumlah itu, kata 
dia, hanya untuk memenuhi 40 persen dari kebutuhan air irigasi di Indramayu. ''Jauh 
dari kebutuhan ideal,'' katanya di Indramayu kemarin.
(Republika, 2002-06-01)



Limbah Domestik Cemari Air Dangkal di Jakarta
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4135
Hampir Semua Sungai Tercemar Bakteri Coli

Secara kuantitas, limbah domestik yang berasal dari rumah tangga lebih banyak 
mencemari air sungai dan sumur di Jabotabek dibandingkan dari industri. Namun, limbah 
industri secara kualitas lebih tinggi tingkat bahayanya.

Hal ini dikatakan Ir Nusa Idaman Said, peneliti pada Direktorat Teknologi Lingkungan 
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kepada pers di Gedung II BPPT 
Jakarta, kemarin.
(Media Indonesia, 2002-05-31)



50 Persen Sungai di Bandung Mengandung Racun
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4136
Lebih dari 50 persen air sungai di Kabupaten Bandung mengandung limbah kimia. 
Pencemaran itu mengakibatkan air sungai di Kabupaten Bandung tidak layak untuk 
dikonsumsi oleh warga.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Kabupaten 
Bandung, Dra Hj Cucu Julaeha, di kantornya, Kamis (30/5). ''Saat ini, air sungai yang 
bisa diminum atau digunakan irigasi pertanian dan peternakan hanya terdapat di bagian 
hulu,'' katanya.

Berdasarkan penelitian BPLH, sambung Cucu, yang paling parah dicemari air limbah 
industri adalah Sungai Cisangkuy dan Sungai Citarik. Kedua sungai itu mengandung 
chemical oxigen demand (kebutuhan oksigen biologi) melebihi batas yang ditentukan oleh 
SK gubernur 658.31/SK.863-1999.
(Republika, 2002-05-31)



Tiga Ton Ikan Mengapung di Sungai Siak
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4124
CAMAT Tualang Perawang, Riau, Drs Fauzi sejak kemarin sigap menghubungi warganya. Ia 
menghimbau masyarakat yang bermukim di pinggiran Sungai Siak untuk tidak mengkonsumsi 
ikan yang berasal dari sungai itu. Terutama ikan yang banyak mengapung sejak beberapa 
hari terakhir. "Kita belum tahu dampak yang akan ditimbulkan jika ikan-ikan itu 
dikonsumsi," kata Fauzi di Pekanbaru, hari ini. 

Memang, dalam dua hari terakhir sekitar tiga ton ikan di sungai Siak mati dan 
mengapung. Aparat dari Badan Pengendali Dampak Lingkungan (Bapedalda) Riau dan 
Bapedalda kabupaten Siak masih menyelidiki penyebab matinya ribuan ikan tersebut. 
(Gatra, 2002-05-28)



_______________________________________________
Sungai mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/sungai

Kirim email ke