Pak Gubernur, Mulailah Hitung-hitungan dengan Pemilik Bangunan Sinar Harapan, Kamis, 15 Januari 2009
Redaksi Yth. Terima kasih atas pemuatan buah pikiran sederhana ini, semoga menjadi masukan untuk Pemda DKI Jakarta dalam mengatasi masalah banjir. Dua tiga hari terakhir Ibu Kota diguyur hujan lebat dengan durasi yang cukup lama. Di hulu, yakni daerah Bogor meliputi Puncak, Ciawi dan sekitarnya, intensitas hujan tentu lebih kuat lagi. Maka seperti biasa, banyak wilayah Ibu Kota yang kebanjiran. Pemandangan klasik pun berulang. Banyak orang mengungsi ke tenda-tenda penampungan atau ke rumah famili. Aparat-aparat Pemda dan yang terkait sibuk mengulurkan tangan memberi bantuan, tidak terkecuali tim SAR. Ujung-ujungnya, perlu dana baik untuk keperluan dapur umum, penyediaan pakaian, bahan makanan, minuman, obat-obatan dan sebagainya. Dari tahun ke tahun begitu-begitu terus, membosankan, kendati tidak bagi media, terutama media elektronik yang sudah sejak mendung kelihatan, siap-siap dengan segala peralatannya menyorot orang-orang yang kesusahan. Tidakkah terpikir bagi Gubernur, bahkan bagi presiden dan para menterinya untuk menghentikan pengulangan-pengulangan yang membosankan, melelahkan, dan memakan dana yang tak sedikit itu? Belum lagi risiko kematian karena hanyut atau terperangkap di kamar saat tidur. Saya seorang warga biasa yakin akan makna pepatah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Yang penting komitmen, dan... seperti sering “dinyanyikan” oleh banyak tokoh, para penanggung jawab pemerintahan tidak boleh lagi bersikap “business as usual”, harus gereget, luar biasa dan inovatif. Masalah banjir sebenarnya tak lari dari masalah input dan output. Berapa yang turun dari langit, itulah yang akan membanjiri permukaan bumi. Sejak bumi diciptakan oleh Sang Mahapencipta, sudah begitu. Hanya saja ketika penduduk masih sedikit, tidak ada yang kebanjiran karena tidak ada orang yang sudi mendirikan rumah di rawa-rawa seperti Rawamangun, Rawabadak, Rawapening atau rawa apa lagi. Sekarang nasi telah jadi bubur, banyak rawa dihuni, dan mereka tidak bisa mengelak dari banjir. Maka tugas pemerintah untuk mengurangi risiko banjir itu agar rakyatnya boleh hidup tenang, bahkan kalau boleh sejahtera. Untuk itulah pemerintah ada, dan untuk itulah pentingnya pejabat terdiri atas orang-orang peduli, punya komitmen, punya inovasi. Ya itu, menghitung input dan output tadi. Tengok misalnya perbelanjaan raksasa seperti Carrefour, Giant, Hero, hotel, rumah sakit, apartemen, perkantoran dan sebagainya. Hitung luas tanahnya, hitung luas atapnya, dari situ akan ketahuan berapa kubik air yang terlimpas berceceran ke jalan, selokan, akhirnya ke sungai. Akhirnya sungai tak dapat menampung limpasan itu semua. Belum lagi sumbangan dari ratusan ribu rumah. Setelah hitung-hitungannya didapat, tetapkan tarif, berapa pemilik gedung itu harus membayar atas air hujan yang semestinya bisa meresap ke tanah di lahan bersangkutan sebelum gedung-gedung itu dibangun. Ingat, pembangunan gedung berarti pengerasan tanah di sekitarnya. Di Berlin konon, tiap 10 meter kubik air limpasan yang dialirkan pemilik bangunan ke selokan publik, dikenai tarif sekitar 15 euro, dan di Bonn malah lebih mahal. Di kota-kota kecil kira-kira separuhnya. Pemerintah Jerman seperti juga negara-negara Uni Eropa memang sangat peduli lingkungan. Hal ikhwal reservoir dan limpasan itu dituangkan dalam ketentuan pemberian izin membangun. Dengan begitu, masyarakat di Jerman, tak terkecuali industrialis dipaksa berpikir untuk membangun reservoir di bawah tanah dengan kapasitas yang cukup untuk menampung air limpasan sehingga tidak mengalir ke mana-mana. Air simpanan itu sendiri bisa dimanfaatkan, baik untuk air minum maupun keperluan industri seperti alat pendingin dan sebagainya. Korea Selatan juga sudah mengikuti jejak Jerman, membuat reservoir bawah tanah dengan bantuan pemerintah. Itu sangat efektif mengurangi risiko banjir. Indonesia pun pasti bisa, asalkan tidak hanya mementingkan kepentingan diri sendiri dan bersikap business as usual. Semoga. Victor S Jalan Manggar, Pondok Kelapa, Jakarta Timur Sumber: Harian Umum Sore SINAR HARAPAN URL: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/15/opi02.html Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/ ------------------------------------ http://www.SuratPembaca.info Komunitas Surat Pembaca IndonesiaYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
