Dari Mana Duit Para Capres Itu?
Bisnis Indonesia, Senin, 2 Februari 2009

Pemanasan menjelang Pemilihan Presiden 2009 semakin terasa. Beberapa kandidat 
calon presiden (capres) mulai menjajakan diri kepada masyarakat yang akan 
menjadi tuan rumah para pilpres mendatang.

Secara politis, apa yang dilakukan para kandidat seperti bersafari ke berbagai 
daerah di seluruh penjuru negeri dan tampil di media massa baik cetak maupun 
elektronik adalah sesuatu yang wajar sebagai upaya menarik perhatian.

Cuma ada pertanyaan yang terus memenuhi rongga pikiran saya, darimana kah 
kira-kira sumber pendanaan para capres tersebut? Saya juga mengakui bahwa para 
capres tersebut pastilah orang kaya yang bukan hanya modal dengkul untuk maju. 
Mereka harus punya kantong yang juga tebal.

Lihat saja perjalanan seorang Prabowo dan iklannya di media cetak dan TV. Bisa 
dipastikan uang yang sudah dikeluarkan oleh mantan Komandan Jenderal Kopasus 
tersebut jumlahnya mencapai puluhah miliar rupiah.

Atau kita lihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pendukung utamanya, 
Partai Demokrat, yang juga beberapa kali muncul dalam iklan di TV dan menghiasi 
halaman muka koran nasional. Sama seperti Prabowo, tentu rupiah yang harus 
disiapkan mencapai angka miliaran.

Megawati Soekarnoputri yang dicapreskan oleh PDI-P mungkin belum seboros 
Prabowo atau Susilo Bambang Yudhoyono dalam berbelanja iklan. Namun, mantan 
presiden itu terlihat begitu banyak melancong menghampiri para konstituennya di 
seluruh Indonesia. Pastilah beliau membawa rombongan yang tidak sedikit dalam 
perjalanannya.

Wiranto dengan Partai Hanura, Sutiyoso dengan pendukungnya, dan terakhir Sri 
Sultan Hamengku Buwono dalam jumlah relatif lebih kecil pastilah sudah 
mempersiapkan, dengan menggunakan istilah alm Nurcholish Madjid, 'gizi' sebagai 
bekal untuk mencapreskan diri.

Memang di mana pun, capres baik lewat partai maupun independen biasanya 
mendapatkan dukungan pendanaan dari para simpatisannya yang bisa juga berasal 
dari perusahaan-perusahaan tertentu.

Cuma persoalannya, di Indonesia soal dukungan pendanaan tersebut tidak 
transparan. Bisa dipastikan tidak akan terusut dari mana sumber dana para 
capres tersebut.

Kalau hanya mengandalkan dukungan dana yang resmi dan halal (sesuai dengan 
ketentuan yang berlaku) bisa dipastikan para capres tersebut tidak bisa 
semeriah sekarang menjajakan dirinya.

Yang saya takutkan, sama seperti zaman Orde Baru, ada praktik main injak kaki 
dari para capres tersebut kepada orang atau perusahaan tertentu. Dahulu sudah 
menjadi rahasia umum tentang BUMN yang harus menyiapkan dana tertentu untuk 
membantu capres atau partai politik tertentu.

Untuk itu, menurut saya, Komisi Pemilihan Umum dan Panwaslu sedari awal sudah 
harus membuka mata, telinga dan hidung untuk mengawasi arus dana yang masuk ke 
kocek para capres tersebut.

Pertanyaan tentang dana prakampanye tersebut bisa berlanjut. Kalau memang 
didanai oleh kelompok tertentu, lalu apa yang akan diberikan oleh capres 
tersebut sebagai balas jasa seandainya dia nanti terpilih menjadi orang nomor 
satu di negeri ini.

Seperti yang sudah-sudah, praktik balas budi tersebut menjadi sesuatu yang 
menghambat para pelaksana negara bisa independen dalam menjalankan tugas mulia 
mereka yaitu menyejahterakan masyarakat.

Abdul Rahman
Slipi, Jakbar



Sumber: BISNIS INDONESIA
URL: http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/1id100909.html




      Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail 
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke