Menunggu Realisasi Janji Caleg Solo Pos, Kamis, 5 Februari 2009
Pemilu legislatif sudah di ambang pintu, bahkan di depan mata. Hal ini terlihat dari semakin memanasnya konstelasi politik di negeri ini. Indahnya Kota Solo, untuk sementara waktu mungkin tidak akan terlihat. Hijaunya taman dan pepohonan untuk sementara waktu mungkin tidak akan kita rasakan. Semuanya telah berubah dengan beraneka ragam warna bendera partai yang terpancang, foto-foto Caleg yang terpampang dan bermacam-macam spanduk atau baliho yang terbentang di penjuru kota. Juga stiker Caleg yang tertempel di tembok-tembok, tiang listrik dan telepon. Ironisnya, sebagian besar yang tertempel, terpampang, terpancang, serta terbentang adalah kata-kata serta kalimat yang serba menjanjikan. Contohnya Berjuang untuk rakyat, memperjuangkan nasib umat, bersih dan peduli, amanat, berani, dan jujur dan lain-lain. Promosi diri sah-sah saja, kampanye boleh saja, yang terpenting adalah bukti, bukan janji. Bahkan dalam falsafah Jawa sudah diungkapkan, ajining dhiri gumantung kedaling lathi. Ini berarti bahwa harga diri seseorang (Caleg) ada pada tingkah laku serta tindakan nyata dalam masyarakat dan umat. Janji adalah utang yang harus dipenuhi. Berikan yang terbaik untuk masyarakat dan umat. Merekalah yang akan menilai bahwa Anda layak jadi wakilnya, sehingga jauh dari ungkapan: kalau sudah duduk lupa berdiri; kalau sudah duduk (di kursi Dewan) lupa pada konstituen, lupa pada janjinya. Muhammad Iskandar Semanggi, RT 04/RW XII, Pasar Kliwon, Solo 57117 Sumber: SOLO POS URL: http://www.solopos.co.id/pospembaca.asp Kenapa BBM mesti naik? Apakah tidak ada solusi selain itu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com
