Budaya Saling Kritik Capres 2009
Sinar Harapan, Sabtu, 7 Februari 2009

Redaksi Yth, 

Iklan politik capres 2009 menguatkan anggapan publik bahwa para capres telah 
kian jauh terperangkap dalam perang propaganda. Para capres mengklaim, 
pernyataan lisan maupun iklan merupakan bentuk kritik. Padahal, jika dicermati, 
di sini tak terkandung unsur kritik yang dimaksud.

Yang dimaksud dengan kritik bukan tulisan, ucapan, atau perbuatan yang 
menjelek-jelekkan. Kritik adalah penilaian sehat berdasarkan alasan rasional 
tanpa sentimen dan sikap emosional. Yang menjadi objek kritik adalah perbuatan 
manusia individu maupun manusia subjek kolektif.

Dalam alam demokrasi, kritik itu sesuatu yang lumrah. Rakyat bisa mengkritik 
pemimpinnya, sebaliknya rakyat bisa juga dikritik pemimpinnya. Bahkan, di 
jajaran pemimpin sendiri, sah saja untuk saling mengkritik. Entah itu pemimpin 
yang duduk di pemerintahan atau pemimpin politik yang ada di luar lingkaran 
kekuasaan. Apalagi oposisi, menyampaikan kritik merupakan ”kewajiban”. 

Saling lempar kritik menggambarkan keterbukaan demokrasi. Namun, masyarakat 
sering dikejutkan dengan pola kritik yang kurang santun, vulgar, dan terkesan 
memojokkan. 

Disayangkan, para calon pemimpin bangsa memberi contoh buruk dalam melempar 
kritik. Tak ada solusi di balik kritik, tetapi sarat emosi. Ini tentu 
mengabaikan dimensi aksi politik, di mana perlu ada penguasaan diri. Silakan 
masyarakat menilai, layakkah mereka itu menjadi pemimpin?

Masyarakat selayaknya memakai logika untuk menangkap fenomena menyedihkan itu. 
Jangan sampai terperangkap dalam proyek pencitraan mereka sehingga bisa lebih 
rasional memilih pemimpin bangsa ini.

Ronald Surbakti
Jl Tebet Barat I/19 Jakarta Selatan



Sumber: SINAR HARAPAN
URL: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/07/opi02.html




      Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail 
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke