Presiden Pastikan PLN Atasi Krisis Listrik
Suara Pembaruan, Kamis, 12 Februari 2009


Walaupun banyak diserang oleh lawan-lawan politiknya, Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono membuktikan bahwa ia seorang yang memegang komitmen. 
Serangan-serangan dimaksud, antara lain, disebut lamban, suka bermain 
kata-kata, dan mementingkan popularitas. Tapi, faktanya Presiden mengawal 
setiap program yang dicanangkannya. 

Pada 2006, saat dunia belum mengalami krisis ekonomi global, ia menetapkan 
crash programme untuk menambah kapasitas listrik nasional sebesar 10.000 MW. 
Penambahan ini diperlukan, karena sejak Indonesia merdeka cadangan listrik kita 
tak pernah bertambah, yaitu hanya 25.000 MW. Dulu, saat awal membangun cadangan 
sebesar itu mungkin cukup, namun tidak untuk sekarang ini, di mana ekonomi 
mengalami peningkatan.

Tetapi, tantangan crash programme listrik ini sungguh berat, terutama setelah 
krisis global menyerang. Presiden memahami kondisi sulit ini, dengan mencari 
solusi yang tepat agar program tersebut berjalan. PLN yang diberikan tugas 
merealisasikan proyek tersebut menemui banyak kendala. Melihat hal tersebut, 
Presiden memberikan perhatian dan dukungan. Yudhoyono memberikan apresiasi 
terhadap kinerja seluruh anggota PLN dalam upayanya untuk terus mengerjakan 
proyek 10.000 MW, meskipun dalam keadaan yang sulit. 

Penambahan kapasitas listrik ini digunakan untuk menyelesaikan masalah krisis 
listrik dan meningkatkan cadangan untuk memenuhi margin cadangan. Untuk 
pengembangan listrik akan mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat, 
termasuk energi terbarukan dan ramah lingkungan.

Tantangan PLN dimaksud adalah bahwa saat ini terdapat kurang lebih 30 sistem 
yang defisit. Diharapkan defisit listrik tersebut bisa dikurangi hingga menjadi 
16 sistem, dan apabila memungkinkan, dihilangkan. 

Pada periode 2009-2018, kebutuhan listrik Jawa dan Bali diperkirakan akan 
tumbuh rata-rata sebesar 9.5 persen per tahun. Sedangkan untuk luar Jawa dan 
Bali, akan tumbuh rata-rata 10.3 persen per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa 
daerah-daerah di luar Jawa dan Bali tumbuh sangat pesat dan membutuhkan 
infrastruktur kelistrikan yang lebih besar. 

Saat ini, 35 lokasi pembangkit akan dibangun pada Proyek Percepatan 10.000 MW 
Tahap I. Kurang lebih 1.000 MW akan mulai beroperasi pada 2009, di antaranya 
PLTU Labuan, PLTU Indramayu, dan PLTU Rembang.

Dalam pembangunan pembangkit-pembangkit listrik baru, Presiden SBY menekankan 
kembali pentingnya penggunaan mixed energy untuk menjaga kelestarian 
lingkungan. 

Selain menjaga kelestarian lingkungan, penggunaan sumber energi yang dapat 
diperbarui juga dapat menurunkan tarif listrik walaupun subsidi untuk listrik 
akan dikurangi. Dari Rp 80 triliun subsidi, pada 2009 akan turun menjadi Rp 45 
triliun. 

Isu pendanaan pembangunan infrastruktur juga dibahas oleh Presiden SBY dalam 
kunjungan kerja tersebut, karena menurut SBY, secara fisik, pembangunan 
infrastruktur proyek 10.000 MW dapat dilakukan dengan cepat, namun masih sering 
ada hambatan dalam pendanaan.


Alina Hikmah
Jalan Buncit Raya No 87 RT 06/VIII Mampang Prapatan, Jakarta Selatan


Sumber: SUARA PEMBARUAN
URL: http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=4644




      Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail 
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke