Pelaksanaan Pemilu Cermin Wajah Bangsa
Bisnis Indonesia, Jumat, 17 April 2009


Pemilihan umum legislatif begitu menyita perhatian seluruh bangsa ini. Sesuatu 
yang pantas memang karena hasil pemilu akan menentukan perjalanan bangsa ini 
paling tidak dalam 5 tahun mendatang.

Namun, sebagai perhelatan yang menghabiskan banyak biaya, waktu, dan perhatian, 
Pemilu 2009 begitu terkesan amburadul. Kesan yang saya tangkap ini bukan karena 
terpengaruh pemberitaan tentang berkumpulnya para tokoh yang mengkritisi 
pelaksanaan pemilu legislatif.

Sikap pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mulai terkesan saling 
melempar tanggung jawab semakin memperkeruh suasana.

Rakyat akhirnya merasa bingung dengan kondisi ini dan tidak peduli lagi siapa 
wakil mereka yang akhirnya akan melenggang ke Senayan.

Kemungkinan tingginya jumlah orang yang masuk kategori golongan putih-entah 
dengan alasan apa-menjadi bukti bahwa pemilihan umum kali ini tidak mendapatkan 
legitimasi yang kuat. Tidak salah kalau sebagai orang berpendapat seharusnya 
golputlah yang memimpin negeri ini.

KPU begitu lamban bekerja terbukti dengan masih rendahnya jumlah suara yang 
sudah dihitung melalui real count. Persoalan tidak berhenti di situ saja.

Kelambanan penghitungan suara bisa ditafsirkan macam-macam oleh berbagai 
kalangan yang akan bermuara pada tudingan kemungkinan ada manipulasi suara 
terutama oleh partai yang berkuasa.

Saya akhirnya berpikir, bagaimana bangsa ini bisa mengurus diri selama 5 tahun 
ke depan. Kenyataannya, untuk mengurus pelaksanaan pemilu masih amburadul.

Ternyata kita masih harus banyak belajar untuk bisa berdemokrasi dengan lebih 
baik. Yang jadi persoalan, biaya pelaksanaan pemilu baik legislatif maupun 
presiden menelan biaya yang begitu besar, ratusan triliun rupiah. Dana itu kan 
pada hakikatnya adalah uang rakyat.

Hal paling dekat yang harus dilakukan adalah semua pihak mempersiapkan 
pelaksanaan pemilihan presiden agar bisa berjalan jauh lebih baik dari 
pelaksanaan pemilihan anggota legislatif.

Mungkin saya sedikit bisa memberi saran supaya lebih mudah, pendaftaran 
pemilihan presiden dilakukan berdasarkan kartu tanda penduduk.

Gampangnya, mereka yang memiliki KTP secara otomatis mendapatkan hak untuk 
memberikan suara. Bagi mereka yang tidak memiliki KTP, ya tidak boleh 
mencontreng. Memang terlihat kurang adil bagi mereka yang tidak memiliki KTP. 
Namun, salah mereka sendiri kenapa mereka tidak mau mengurus KTP.

Rico Halim
Pondok Cabe


Sumber: BISNIS INDONESIA
URL: http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/1id113352.html




      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer


------------------------------------

http://www.SuratPembaca.net
Komunitas Surat Pembaca IndonesiaYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke