Beda "Parlemen" dan "Volksraad"
Kompas, Kamis, 9 Juli 2009


Dalam tulisan Emmanuel Subangun, Hindia Berdiri Sendiri (Kompas, 30/6), pada 
bagian akhir ketika bicara tentang sebuah lembaga di zaman penjajahan terdapat 
beberapa kekeliruan yang perlu dikoreksi. Lembaga "Volksraad" (Dewan Rakyat) 
bukan "parlemen", dalam pengertian sebuah legislatif yang berwenang penuh. 
"Volksraad" dibuka secara resmi oleh Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum di 
Batavia (Jakarta). Gedungnya adalah gedung Pancasila, kompleks Deplu sekarang. 
Sebelumnya adalah rumah dinas Panglima Tentara Hindia Belanda.

Jumlah anggotanya, termasuk ketua, adalah 46 orang. Setengahnya adalah anggota 
yang diangkat oleh Gubernur Jenderal, atas nama Ratu Belanda, terdiri dari 
"pribumi, keturunan Tionghoa, Arab", dan warga Belanda. Tugasnya hanya 
memberikan nasihat yang tidak mengikat.

Sampai dibubarkan pada tahun 1942, ketika Pulau Jawa diduduki Tentara Jepang, 
wewenang "Volksraad" tetap terbatas meski struktur dan jumlah keanggotaannya 
mengalami beberapa perubahan. Moh Hatta, tokoh pergerakan yang berhaluan 
nonkoperasi dan diasingkan di Pulau Bandaneira, mencap "Volksraad" sebagai 
"komedi".

Pada tahun 1936, anggota Soetardjo mengajukan petisi yang menggagaskan supaya 
"Hindia Belanda" berdiri sendiri, tetapi tetap bekerja sama dengan Belanda. 
Petisi itu yang didukung oleh sejumlah anggota Indonesia yang dibicarakan di 
Parlemen Belanda, tetapi ditolak.

Pada Desember 1939, GAPI (Gabungan Politik Indonesia— wadah kerja sama sejumlah 
partai politik yang moderat) dalam kongresnya pertama mengesahkan resolusi 
"Indonesia Berparlemen". Tujuannya, supaya "Volksraad" diubah menjadi lebih 
representatif.

Resolusi GAPI diambil alih oleh para anggota Indonesia di "Volksraad" yang 
dikenal sebagai Resolusi Wiwoho dan diterima pada Februari 1940. Isinya cukup 
lunak, antara lain penambahan jumlah anggota dan para kepala departemen 
pemerintahan Hindia Belanda patut mempertanggungjawabkan kebijakannya.

Pada bulan Mei 1940, negeri Belanda diduduki tentara Nazi Jerman. Ratu 
Wilhelmina dan Pemerintah Belanda mengungsi ke London. Pada Agustus 1940, 
Pemerintah Belanda di pengasingan menjawab Resolusi Wiwoho dan mengatakan bahwa 
semuanya itu baru dapat dibahas setelah Perang Sekutu-Nazi Jerman berakhir.

Pada bulan Maret 1942, Hindia Belanda menyerah kepada Tentara Ekspedisi Jepang 
di Kalijati, Jawa Barat. "Volksraad" dibubarkan. Para tokoh nasionalis, seperti 
Moh Hatta, Sutan Sjahrir, dan Soekarno, dibebaskan dari pengasingan politik. 
Itulah urutan ceritanya, supaya pengertian "parlemen" dan "Volksraad" dalam 
perkembangan sejarah kolonial menjadi jelas. 

Sabam Siagian 
Redaktur Senior "The Jakarta Post"




Sumber: KOMPAS
URL: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/09/03401337/redaksi.yth



      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/


------------------------------------

http://www.SuratPembaca.net
Komunitas Surat Pembaca IndonesiaYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke