KPK Harus Bebas Intervensi
Kompas, Rabu, 22 Juli 2009

Perdebatan tentang keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi sedang berlangsung. 
Debat itu makin marak setelah pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang 
seolah-olah memprihatinkan "kemahakuasaan" KPK.

Sebagaimana diterangkan beberapa kali oleh juru bicara presiden, SBY tidak 
bermaksud seperti dicurigai banyak pihak. Namun, penerimaan masyarakat terhadap 
pernyataan Presiden sempat menciptakan simpang siur. Karena itu, selaku 
presiden, SBY harus berhati-hati mengemukakan pendapat.

Saya teringat pernyataan John R Heilbrunn (World Bank Institute) dalam 
Anti-Corruption Comissions: Panacea or Real Medicine to Fight Corruption?. Di 
situ ia menuturkan bahwa kegagalan banyak lembaga pemberantasan korupsi di 
beberapa negara disebabkan oleh lack of independence from the executive, 
receive no budgetary support from the legislature to investigate venal 
officials, and have no procedures for forwarding cases of corruption for 
prosecution by the relevant judicial authorities. Yang diucapkan Heilbrunn ini 
sedang dan akan terus dialami serta dihadapi oleh KPK.

Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kita mendukung penuh keberadaan dan kinerja 
bagus KPK. Bila perlu, KPK biarlah menambah SDM, perangkat, anggaran, dan 
infrastrukturnya supaya dapat menjangkau daerah-daerah. Korupsi di Indonesia 
sudah dalam tataran akut.

KPK sangat diharapkan fokus pada pemberantasan, bukan pada pencegahan. Namanya 
saja Komisi Pemberantasan Korupsi, bukan Komisi Pencegahan Korupsi. Masih amat 
banyak kasus yang belum dikenai tindakan.

JUNIFRIUS GULTOM 
Villa Tomang Mas Baru, Kebon Jeruk, Jakarta

 



Sumber: KOMPAS
URL: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/22/04480244/redaksi.yth



      Berbagi video sambil chatting dengan teman di Messenger. Sekarang bisa 
dengan Yahoo! Messenger baru. http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke