Dear moderator dan anggota milis.
Maaf
 numpang posting...

Kursus
 Jurnalisme Sastrawi – Pantau
Angkatan XVIII
Jakarta, 26 Juli – 8 Agustus 
2010

 
“Berita buruk bagi industri koran di dunia 
adalah kita mulai kehilangan relevansi. Apa yang disajikan koran 
sebenarnya sudah bukan berita lagi. Tapi news rewriter.”
Endy Bayuni Chief Editor The Jakarta Post,
 guest speaker kelas jurnalisme sastrawi angkatan ke XVI januari 2009
 

“Masa depan surat
 kabar adalah tulisan feature dan tulisan jurnalisme sastrawi. Maka 
wartawan perlu bisa menulis dengan genre itu.”
Amarzan Loebis, Redaktur 
Senior Majalah Tempo, guest speaker kelas jurnalisme sastrawi 
angkatan ke XVII, Mei 2009

 
Hari ini hampir tak ada 
warga yang mendapatkan breaking news dari




 suratkabar. Mereka mendapatkannya dari televisi, radio, SMS, telepon 
atau internet. Tantangan baru muncul: bagaimana cara menulis panjang? 
Bukankah relevansi suratkabar makin terletak pada kemampuannya 
menyajikan analisis?

Inilah pentingnya The New Journalism. Ia mengawinkan disiplin paling keras
 dalam jurnalisme dengan daya pikat sastra. Ibarat novel tapi faktual. 
Gerakan ini dimunculkan Tom Wolfe pada 1973 di New
 York.

Genre ini kemudian dikenal dengan nama literary  journalism atau narrative 
reporting.  
Suratkabar-suratkabar Amerika banyak memakai elemennya ketika kecepatan 
televisi dan dotcom memaksa mereka tampil dengan laporan-laporan yang 
analitis dan mendalam. Suratkabar tak mungkin bersaing cepat dengan 
televisi.

Pantau mulai menawarkan pengajaran genre ini pada media
 tahun 2001. Peserta maksimal 16 orang. Jumlah ini dianggap optimal 
untuk sebuah metode pelatihan. Setiap sesi 90-menit diformat serius 
namun santai. Peserta bisa berdiskusi langsung. Total, Pantau sudah 
mengadakan 16 kali kursus ini. Peserta datang dari berbagai kota, dari 
Banda Aceh hingga Jayapura, dari Pontianak hingga Kucing, dari Ende 
hingga Kupang. Alumninya, kini mulai bermunculan. Ada yang menulis buku.
 Ada yang jadi pemimpin redaksi. Ada yang sekolah lanjut.


INSTRUKTUR

Janet Steele -- Profesor dari George 
Washington University, spesialisasi sejarah media, mengajar mata kuliah 
narrative journalism. Menulis buku The
 Sun Shines for All: Journalism and Ideology in the Life of Charles A. 
Dana dan Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in 
Soeharto’s Indonesia, yang ahlibahahaskan oleh Arif Zulkifli dan 
diterbitkan oleh PT Dian Rakyat tahun 2007. Juga menulis tentang 
jurnalisme di Timor Leste dan Malaysia. 

Andreas Harsono -- Wartawan feature service Pantau, anggota 
International Consortium of Investigative Journalists, mendapatkan 
Nieman Fellowship di Universitas Harvard. Menyunting buku Jurnalisme Sastrawi: 
Antologi Liputan 
Mendalam dan Memikat.
 Kini menyelesaikan buku From 
Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, 
membahas hubungan media dengan kekerasan etnik, agama dan nasionalisme 
di Indonesia dan Timor Lorosae.

 
INSTRUKTUR TAMU

Saur




 Hutabarat -- Pemimpin Redaksi harian Media Indonesia. Selain sebagai wartawan, 
ia juga sempat
 menjadi konsultan perusahaan public relations, dan instruktur di 
lembaga pendidikan (dalam konfirmasi)

 
SYARAT DAN BIAYA

Kursus ini 
akan berlangsung dua minggu. Peserta adalah wartawan, atau orang yang 
biasa menulis untuk media. Calon peserta diharapkan mengirim biodata dan
 contoh tulisan agar pengampu mengetahui kemampuan dasar peserta lebih 
awal. Biaya Rp 3 juta. Biaya tersebut sudah termasuk
 buku dan materi kursus sekitar 200 halaman serta coffe break dan makan 
siang.

 
Informasi:

Siti Nurrofiqoh
P a n t a u
Jl.




 Raya Kebayoran Lama
No 18 CD Jakarta Selatan 12220
Telp/Fax. 021 
722-1031/021-7221055
Email. [email protected]
Website. 
www.pantau.or.id
Mobile. 0813 82 460 455 


Kirim email ke