Assaalamualaikum Warahmatullah Wabaraktuh ..

Sekedar Info dr teman, Barangkali Bermanfaat bagi ikhwan fillah,

Wassalamualaikum Warahmtaullah Wabarokatuh.

----
Topik berjudul "Negara Islam yang Meresahkan" yang diposting di salah
satu milis mahasiswa Sastra Undip belum lama ini mendapat tanggapan
dari beberapa anggota. Salah satunya mengusulkan agar gerakan yang
menamakan dirinya Negara Karunia Alloh (NKA) itu dilaporkan ke pihak
kepolisian.

"Memang maresahkan kedengarannya ! Setelah membaca tulisan tersebut
tersirat akan solusi apa yang bisa ditawarkan atas masalah tersebut.
Bisa gak masalah tersebut dimintakan pendapat pada tokoh yang
mempunyai otoritas untuk menanggapinya ? Tidakan apa yang harus
dilakukan, pencegahan atau perlawanan. Bisa gak ditinjau dari segi
hukum, apakah bisa dipolisikan gerakan /tindakan seperti itu untuk
mencegah jatuhnyanya korban lebih banyak," tulis salah seorang anggota
milis.

Penulis yang melontarkan diskusi memberikan jawaban yang cukup
panjang. Berikut ini jawabannya atas pertanyaan di atas :

Kalau sepengamatanku, kasus itu sudah cukup kuat untuk
di-"polisi"-kan. Tanpa memperdebatkan apa itu nama organisasi dan
segala macam ideologinya, apa yang dilakukan oleh pelaku (yang diduga
kuat sudah menjadi anggota NKI KW9 alias NII Al Zaytun alias NKA
(Negara Karunia Alloh) sudah bisa dikatagorikan sebagai bentuk penipuan.

Aku sudah kepikir untuk membawa kasus ini ke pihak fakultas. Tapi
kuurungkan. Pasalnya, si pelaku (ada dua) yang kuduga telah menjadi
anggota NII itu adalah orang yang pernah dekat denganku. Salah satunya
adalah ******. Belakangan memang sudah tak aktif lagi. Aku juga tahu
siapa dia, background dia yang dari Demak, dll. Maka, aku mencoba
untuk melakukan pendekatan, mengajaknya ngobrol dulu.

Setelah mengetahui jatuhnya korban, dan yang terakhir kudengar adalah
anak ***** 2006, aku mulai ambil tindakan. Aku temui dia. Mengajaknya
ngobrol. Sampai ke permasalahan. Tapi dia tak mau mengakui. Dia
berkelit. Oke, aku pakai cara lain, sambil mengumpulkan informasi
lagi. Sementara waktu agar tidak jatuh korban, aku minta teman-teman
**** menempel-nempel dan membagi-bagikan selebaran tentang info
masuknya NII ini.

Aku mendiskusikan masalah itu bersama teman-teman komunitas PKM
belakang. Disepakati skenario "mengadili" pelaku. Si pelaku di bawa ke
salah satu ruang PKM, di rencanakan di **** yang sepi, di pojok, jadi
nggak mengundang perhatian orang di belakang. Tapi rencana ini belum
sempat dilaksanakan, karena salah seorang teman yang merupakan teman
pondok si pelaku sewaktu di Jepara punya cara yang waktu kedengarannya
cukup masuk akal. Dia mengaku cukup tahu si pelaku. Dia kemudian
mengajak si pelaku ke kontrakannya. Tapi tetap saja, si pelaku tak mau
mengaku. Malah pura-pura tak tahu.

Jujur, aku sebenarnya sangat kasian pada si pelaku. Maka aku melakukan
pendekatan lagi. Aku menemuinya dan mengatakan bahwa kasusnya sudah
diketahui fakultas. Memang benar, kasus ini sudah menjadi pembicaraan
luas. Aku juga pernah ditanya salah seorang dosen, tapi kubilang masih
aman, dan aku juga tak menyebutkan siapa si pelaku itu.

Aku bilang, terserah kau tak mau mengaku. Tapi percuma saja. Fakultas
sudah tahu. Sepertinya ada yang melaporkan, atau memang fakultas
mencari tahu sendiri. Dan aku yakin, kau tak akan bisa berkelit lagi.
Orang-orang yang pernah menjadi korbanmu akan didatangkan sebagai
saksi. Ada 5 orang. Apa kau bisa berkelit lagi?

Kalau kau memang merasa benar, silakan adu argumentasi dengan dekanat.
Dan kupastikan kau akan kalah. Tanpa embel-embel gerakan jihadmu ini,
kau sudah bisa dijerat dengan pasal penipuan. Dan sanksinya tak hanya
akademik, tapi akan sampai ke kepolisian. Apakah kau tak membayangkan
bagaimana ketika orang tuamu di rumah tahu, tetanggamu melihatmu di TV
kau berurusan dengan aparat, bagaimana perasaan orang tuamu waktu itu?

Kalau memang benar, kenapa kau dan teman-temanmu di NKA melakukan
rekruitmen secara bergerilya. Kenapa tak terang-terangan. Orang
sekarang sudah zaman terbuka, kenapa pakai menyusup segala. Kemudian
soal iuran anggota. Ini lebih tepat dikatakan pemerasan. Ini MLM
berkedok agama. Kalian menjual isu. Aku tahu bagaimana kau sempat
menghubungi beberapa
teman untuk pinjam uang. Tak tanggung-tanggung jumlahnya. Padahal
sebelumnya kau tak seperti ini.

Kalau kau memang merasa benar juga, aku bertanya lagi kepadamu, adakah
ajaran agama yang membuat resah orang lain. Apa yang kau lakukan ini
sudah sangat meresahkan. Maka berhentilah, dan keluarlah dari
organisasi sesat itu. Sadarkah kau bahwa sekarang kau sedang
menghancurkan dirimu sendiri, masa depanmu, keluargamu dan lain-lain.
Apa yang hendak kau
cari, kedudukan kah, apakah kau sudah dijanjikan kelak ketika negara
Islam itu berhasil berdiri? Bullshit! Kau ketipu. Kusarankan kau
membaca sejarah. Kalau perlu aku kasih materi yang nanti kuprintkan
untukmu.

Berkali-kali kusampaikan, bahwa aku dan teman-teman lain yang
mengetahui aktivitas pelaku tak kemudian menjadi benci. "Aku tetap
menganggapmu teman, yuniorku. Kalau kau menganggapku musuh, berarti
kau salah. Aku cuma benci pada entah setan apa yang sekarang menguasai
dirimu. Kau kini menjadi suka berbohong, tega memeras teman".

Dia terdiam cukup lama. Aku menatapnya dalam-dalam. Dia mengangkat
mukanya. "Aku minta waktu. Aku akan memikirkannya lagi," jawabnya.

Tiga hari sudah berlalu. Dia belum menemuiku. Entah bagaimana dia
sekarang. Apakah dia memutuskan untuk keluar dari NKA atau tidak. Tapi
usahaku cukup berhasil. Satu orang pelaku (yang tadinya dua orang,
mereka sudah menjadi pemain, yang mencari anggota baru) sudah
memberikan pernyataan keluar. Memang aku tak percaya sepenuhnya. Aku masih
memantaunya dari kabar teman sekamarnya. Aku bilang, kalau kau berani
macam-macam, maka aku akan kontak orang tuamu.

Hmmm...dari cerita seorang teman, aku baru tahu bahwa sebenarnya masih
ada anggota-anggota lain di kampus **** Undip. Mereka sudah masuk
lebih dulu. Entah mereka ikut NII yang mana. Gerakan mereka tidak
tercium karena sepertinya mereka tak melancarkan serangan gerilya
mencari anggota baru di kampus ini. Malah ada seorang mantan anggota
NII yang dulu sempat ikut sampai hampir setahun. Dari beberapa
informasi yang kukumpulkan, gerakan NII sudah masuk ke beberapa kampus
di Semarang. Paling banyak di kampus Unisbank. Undip dan Unnes, dua
PTN di Semarang ini, juga sudah menjadi target operasi NII.

Kembali ke usulan untuk menyelesaikan kasus NKA itu secara hukum yakni
dengan mengadukannya ke kepolisian, terakhir kudengar kabar seorang
teman yang terlibat di NII itu diancam dilaporkan ke polisi oleh salah
seorang temannya sendiri gara-gara HP temannya yang dipinjam tak
dikembalikan. HP seri Siemens keluaran terbaru itu digadaikan seharga
Rp 500 ribu. Pelaku bilang HP itu tak hilang. Dan kau menjanjikan akan
mengembalikan kepadanya.

Teman yang hendak melaporkan pelaku itu mengaku kesal karena pelaku
sampai hati membohongi temannya sendiri. Teman sekampung, tetangga
rumah, teman sejak kecil hingga kuliah di perguruan tinggi. Pelaku
mengatakan, jika dia meminta HP itu secara baik-baik dan si pemilik
mengikhlaskannya.

"Jadi kalau dia tega melakukan itu, kanapa aku tidak tega
melaporkannya ke polisi. Otaknya sudah benar-benar rusak, dicuci
otaknya. Teman sendiri tega ditipunya," tuturnya yang ditirukan oleh
salah seorang teman yang bercerita kepada saya.

Jujur, saya tak menginginkan dia dilaporkan ke polisi. Saya tahu dia
dulunya orang baik-baik. Tapi setelah mendengar cerita dari beberapa
teman, saya juga jadi khawatir kalau dia akan semakin terjerumus dalam
aktivitas sesat. Maka, biarlah orang lain yang melaporkannya. Mungkin
langkah ini lebih baik untuk dia kedepannya dan memutus jatuhnya
korban baru.


[Catatan: Beberapa bagian saya beri tanda ****. Dalam pesan aslinya di
milis ditulis jelas. Pertimbangan saya, karena blog ini diperuntukkan
untuk umum, maka hal-hal yang sifatnya privat tidak saya publikasikan.
Dan ini sesuai permintaan si penulis ketika saya konfirmasi bahwa
pesan yang dipostingnya akan saya muat di blog.]

Source : http://hanyaudin.blogspot.com 
Refererensi : http://nii-alzaytun.blogspot.com



Kirim email ke