menghukumi suatu perkara adalah sesat merupakan bagian dari amar ma'ruf
nahi munkar.. mentakfir suatu kelompok juga bukan suatu pantangan tetapi
dengan suatu kaidah yang ketat diantaranya tidak bisa dilakukan secara
perorangan..
 
setiap muslim wajib mengikuti sunnah Nabi sholaLlahu 'alayhi wassalam
sebagaimana dalam hadits yang terkenal dengan hadits 'Irbadh bin
Sariyah, hadits ini terdapat pula dalam al-Arbain an-Nawawiyah no. 28:
Artinya : "Berkata al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu : 'Suatu
hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat bersama
kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat
kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan
membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: 'Wahai Rasulullah,
nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka
berikanlah kami wasiat.' Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada
Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah
seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara
kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka
wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur
Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan
jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya
setiap perkara yang baru itu adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah adalah
sesat.'" 

[Perawi hadits adalah Irbadh bin Sariyah Abu Najih as-Salimi, beliau
termasuk ahli Suffah, tinggal di Himsha setelah penaklukan Makkah,
tentang wafatnya ahli sejarah berbeda pendapat, ada yang mengatakan
tatkala peristiwa Ibnu Zubair, adapula yang mengatakan tahun 75 H. Lihat
al-Ishabah (II/473 no. 5501)]
 
ketika jama'ah demikian banyak dan imam tidak ada, boleh meninggalkan
semua kelompok yang menyempal dari jalan RosuluLlah sholaLlahu 'alayhi
wassalam walaupun tetap masih sama-sama Islam tetapi telah
mengkotak-kotak ummat Islam dalam panji-panji partai hizbiyah..
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu 'anhu beliau berkata : "Dahulu
manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku
bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai
menimpaku"
Aku bertanya : "Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan
jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) ini,
apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?"
Beliau berkata : "Ya"
Aku bertanya : "Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?"
Beliau menjawab : "Ya, tetapi didalamnya ada asap".
Aku bertanya : "Apa asapnya itu ?"
Beliau menjawab : "Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku,
dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal
mereka dan engkau akan memungkirinya"
Aku bertanya : "Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi
?"
Beliau menjawab :"Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka
jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan
menjerumuskan ke dalam neraka"
Aku bertanya : "Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?"
Beliau menjawab : "Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara
dengan bahasa kita"
Aku bertanya : "Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui
keadaan seperti ini"
Beliau menjawab : "Pegang erat-erat jama'ah kaum muslimin dan imam
mereka"
Aku bertanya : "Bagaimana jika tidak imam dan jama'ah kaum muslimin?"
Beliau menjawab :"Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu,
walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu"

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini memiliki banyak jalan, diantaranya :

[1]. Dari jalan Walid bin Muslim (dia berkata) : Menceritakan kepada
kami Ibnu Jabir (dia berkata) : Menceritakan kepada kami Bisr bin
Ubeidillah Al-Hadromy hanya dia pernah mendengar Abu Idris Al-Khaoulani
dari Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu 'anhu .......[HR Bukhari 6/615-616
dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi.
Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979]

[2]. Dari jalan Waki' dari Sufyan dari 'Atho' bin Saib dari Abi
Al-Bukhari dia berkata : Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu berkata ..... [HR
Ahmad dalam musnad 5/399]

[3]. Dari jalan Abi Mughiroh (dia berkata) menceritakan kepada kami
Assafar bin Nusair Al-Azdi dan selainnya dari Hudzaifah bin Al-Yaman,
beliau berkata : "Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dahulu dalam
keburukan lalu Allah menghilangkannya dan mendatangkan kebaikan melalui
anda. Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan?". Beliau
berkata : "Ya". Hudzaifah bertanya lagi : "Apa kejelekan tersebut?"
Beliau menjawab : "Akan muncul banyak fitnah seperti malam yang gelap
gulita, sebagaimana mengikuti yang lainnya dan akan datang kepada kalian
hal-hal yang samar-samar seperti wajah-wajah sapi yang kalian tak
mengetahuinya" [HR Ahmad 5/391]

SYARH HADITS
[A]. Mengenal Jalan Orang-Orang Yang Tersesat Merupakan Kewajiban Dalam
Syariat.
Ketahuilah -semoga Allah memberkahi anda- sesungguhnya metode Ar-Rabbani
(Islam) yang tertuang dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam ketika menampilkan generasi pertama yaitu shabat dan
para tabi'in (sesungguhnya bertujuan) untuk mejelaskan jalan kebenaran
dan agar diikuti. 

Allah berfirman.

"Artinya : Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas baginya
petunjuk dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman maka
kami palingkan dia kemana dia berpaling dan kami akan memasukkannya
kedalam neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali"
[An-Nisa : 116]

Akan tetapi (metode Islam ini) tidak cukup hanya mejelaskan jalan
kebenaran saja bahkan menyingkap kebatilan dan mengungkap kepalsuannya
agar jelas dan terang jalan orang-orang yang tersesat (lalu dijauhi dan
ditinggalkan,-pent). 

Allah ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan demikianlah kami terangkan ayat-ayat Al-Qur'an, supaya
jelas jalan orang-orang yang benar dan supaya jelas (pula) jalan
orang-orang yang tersesat" [Al-An'am : 55]

Seorang penyair berkata.

"Aku mengenal keburukan bukan untuk keburukan akan tetapi untuk
menjauhinya"

"Dan barangsiapa yang tidak mengenal kebaikan dari keburukan dia akan
terjerumus kedalam keburukan itu".

Sesungguhnya racun-racun berbisa yang membinasakan dan menghancurkan
kekuatan kaum muslimin serta melemahkan gerak mereka bukanlah
pedang-pedang orang-orang kafir yang berkumpul untuk membuat makar
terhadap Islam. Akan tetapi kuman-kuman yang busuk yang menyelinap
didalam tubuh kaum muslimin yang lambat tapi pasti (itulah yang
menyebabkan kebinasaan). Itulah asap yang dikatakan oleh Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Hudzaifah diatas : "suatu
kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku dan memberikan petunjuk
bukan dari petunjukku ....." Didalam ucapan beliau ini ada hal-hal
penting diantaranya.

[1]. Sesungguhnya asap itu merupakan penyimpangan yang selalu membuat
kabur ajaran Islam (Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) yang
terang benderang malamnya bagaikan siangnya.

[2]. Yang nampak pada saat terjadinya hal ini adalah kebaikan akan
tetapi dalamnya terdapat hal-hal yang membinasakan. Bukanlah dalam
riwayat Muslim Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Akan
muncul manusia-manusia yang berhati setan".

[3]. Asap ini terus tumbuh dan menguasai hingga kejelekan itu merajalela
serta merupakan awal munculnya dai-dai penyesat dan kelompok-kelompok
sempalan.

[4]. Sesungguhnya yang meniup asap tersebut adalah para dai-dai
penyesat. Dan ini menunjukkan bahwa rencana busuk untuk menghancurkan
Islam dan kaum muslimin telah mengakar kuat dalam sejarah Islam.

[5]. Sesungguhnya gembong-gembong kesesatan selain giat dalam
menyesatkan. Akan tetapi (sebagian) pemegang kebenaran lalai dan
tertidur hingga asap tersebut menguasai dan merajalela serta menutupi
kebenaran. Dari sini kita ketahui bahwa asap yang menyelimuti kebenaran
dan mengkotori kejernihannya adalah bid'ah-bid'ah yang ditebarkan oleh
Mu'tazilah, Sufiyah, Jahmiyah, Khowarij, Asy'ariyah, Murji'ah dan Syi'ah
Rofidhoh sejak berabad-abd lamanya.

Oleh karena inilah umat Islam mejadi terbelakang dan menjadi santapan
bagi setiap musuh serta menyebarnya kebatilan. Dan dengan sebab inilah
setiap munafik berbicara dengan mengatas namakan Islam. Dari sini kita
mengetahui bahwa bahaya bid'ah lebih besar daripada musuh-musuh yang
lainnya (orang-orang kafir), karena bid'ah merusak hati dan badan tapi
musuh-musuh tersebut hanya merusak badan. Para salaf telah bersepakat
akan kewajiban memerangi ahli bid'ah dan menghajr (memboikot) mereka.
Imam Dzahabi mengatakan : "Para salaf sering mentahdzir ahli bid'ah,
mereka mengatakan : Sesungguhnya hati-hati ini lemah sedangkan syubhat
(dari ahli bid'ah itu) cepat mencengkram".
[Disalin dari majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi 13 Th. III Shafar
1426H/ April 2005M, hal. 22-26. Penerbit Ma'had Ali Al-Irsyad. Jl.
Sultan Iskandar Muda No. 45 Surabaya]


________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of A Nizami
Sent: Wednesday, June 20, 2007 5:30 PM
To: syiar-islam
Subject: Re: [syiar-islam] RE: [INSISTS] Fwd: Usaha-Usaha Mengisolasi
Islam
 
 Wa'alaikum salam wr wb,
Dari hadits iftiroq itu disebut yang selamat adalah "Ahlus Sunnah wal
Jama'ah".

Artinya yang mengikuti/menghidupkan Sunnah Nabi (Artinya mengamalkan Al
Qur'an dan Hadits) dan berjama'ah atau tidak memisahkan diri dari
jama'ah Islam.

Yang terjadi adalah banyak kelompok fanatik golongan yang memakai hadits
itu untuk mengklaim hanya kelompok dia yang benar dan yang lain sesat
sehingga bahkan bukan hanya tak mau belajar dari guru di luar
kelompoknya, bahkan sampai tidak mau sholat selain di masjid
kelompoknya.

Nabi dan para sahabat dalam melakukan amar ma'ruf nahi mungkar tidak
pernah sampai mengkafirkan sesama Muslim (kecuali kelompok munafik
Abdullah bin Ubay). Nah ada kelompok yang karena alasan amar ma'ruf
akhirnya menganggap sesat kelompok di luar kelompoknya.

Masalah fatwa kelompok mana yang sesat hendaknya kita serahkan kepada
para ulama di MUI yang terdiri dari ulama dari berbagai kelompok.

Banyak kelompok yang merasa benar justru banyak melanggar ayat-ayat Al
Qur'an seperti:

49. Al Hujuraat 

Larangan memperolokkan, berprasangka dan lain-lain 

11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki
merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih
baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan
kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan
janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan
gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak
bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. 

[1409]. Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara
sesama mukmin karana orang-orang mukmin
seperti satu tubuh. 

[1410]. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang
yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan
panggilan seperti: hai fasik, hai kafir dan sebagainya. 

49. Al Hujuraat 
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi
Maha Penyayang. 

Kelompok ini menyebut ulama a, ulama b, ulama c, dsb sebagai sesat.
Padahal para ulama di MUI tidak pernah berfatwa begitu.

Wassalam

--- "Tampubolon, Mohammad-Riyadi"
<[EMAIL PROTECTED]
<mailto:Mohammad-Riyadi.Tampubolon%40unilever.com> > wrote:


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke