pernah membaca dalam sebuah buku tetapi sayangnya lupa buku apa dan
kebetulan buku-buku adanya dirumah..
Alloh menggunakan Kami dalam Al Qur'an saat aktivitas tersebut
melibatkan makhluk lain ataupun terkait dengan makhluk lain..
 
CMIIW
waLlahu 'alam bish showab

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of A Nizami
Sent: Thursday, June 21, 2007 1:47 PM
To: [email protected]
Subject: [syiar-islam] Re: MAKNA DEKATNYA ALLAH TA'ALA
 
 Wassalamu'alaikum wr wb,

Pertama2 kita harus menyadari bahwa Al Qur'an adalah firman/perkataan
Allah. Bukan perkataan malaikat.

Jadi ketika ada kata "Kami" itu artinya menurut jumhur ulama adalah
"Allah". Bukan malaikat. Atau paling tidak "Allah" beserta malaikatnya.

Sebagai contoh ayat di bawah, "KAMI TELAH MENCIPTAKAN MANUSIA". Nah
pencipta Manusia itu adalah Allah bukan Malaikat. Demikian pula "KAMI
LEBIH DEKAT KEPADANYA DARIPADA URAT LEHERNYA" Artinya Allah lebih
dekat kepadanya. Minimal Allah beserta malaikat lebih dekat. 

"Dan sesungguhnya KAMI TELAH MENCIPTAKAN MANUSIA dan mengetahui apa
yang dibisikkan oleh hatinya, dan KAMI LEBIH DEKAT KEPADANYA DARIPADA
URAT LEHERNYA" [Qaaf:16]

Tentu saja itu bukan berarti bahwa Allah menyatu dengan manusia
seperti paham Wihdatul Wujud. Dekat itu bukan berarti menyatu. Sebagai
contoh di tiap diri manusia ada 2 malaikat di dekatnya. Nah kita tidak
bisa melihat karena malaikat itu ghaib, tapi kita tahu itu ada.

"DAN APABILA HAMBA-HAMBA-KU BERTANYA KEPADAMU TENTANG AKU, MAKA
(JAWABLAH), BAHWASANYA AKU ADALAH DEKAT. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." [Al Baqarah:186]

Ayat yang jelas seperti Aku (Allah, bukan Malaikat) adalah dekat (fa
innii qariib) itu jelas bahwa Allah itu dekat. Tidak bisa kita
takwil2kan / tafsir2kan sehingga Cuma ilmu/ridlo Allah yang dekat,
sedang Allah jauh di langit. Jika itu yang dimaksud tentu Allah
berfirman "RidloKu dekat":

"DAN APABILA HAMBA-HAMBA-KU BERTANYA KEPADAMU TENTANG AKU, MAKA
(JAWABLAH), BAHWASANYA AKU ADALAH DEKAT. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." [Al Baqarah:186]

Jadi janganlah kita menta'wilkan ayat yang sudah jelas hingga
melenceng dengan makna aslinya.

Jika Allah sudah bilang bahwa Dia dekat, kenapa kita berani bilang
"Mustahil Allah itu dekat?" Itu berarti imannya kurang. Dia tidak
percaya jika Allah Maha Kuasa dan bisa mendekati hambaNya meski
hambaNya tidak mampu melihatNya. 

Wassalamu'alaikum wr wb

--- In [email protected]
<mailto:syiar-islam%40yahoogroups.com> , Abu Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Setelah kaum muslimin meyakini bahwa Allah Ta'ala berada di atas
langit, maka ayat-ayat al Qur'an tentang "dekatnya Allah Ta'ala" akan
lebih mudah difahami. Semoga artikel berikut ini dapat menjelaskan
maknanya.
> 
> MAKNA DEKATNYA ALLAH TA'ALA
> 
> 
> Oleh
> Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
> 
> 
> 
> 
> [1]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
> 
> "Artinya : Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya"
[Qaff : 16]
> 
> [2]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
> 
> "Artinya : Dan Kami lebih dekat kepadanya dari kamu" [Al-Waqi'ah : 85]
> 
> Ahlul takwil melancarkan syubhat berupa tuduhan kepada Ahlus Sunnah
bahwa merekapun telah melakukan takwil terhadap dua ayat di atas,
yaitu ketika menafsirkan kata-kata "lebih dekat" yang dimaknai "lebih
dekatnya malaikat".
> 
> Jawaban terhadap syubhat itu ialah : "Bahwa penafsiran kata-kata "
Kami lebih dekat" pada dua ayat diatas dengan "dekatnya malaikat"
bukanlah takwil, bukan menyelewengkan perkataan dari makna dhahirnya.
Dan hal ini akan jelas bagi orang yang merenungkannya.
> 
> Penjelasannya sebagai berikut.
> 
> [1]. Tentang ayat pertama : Sesungguhnya kata-kata "Kami lebih
dekat" pada ayat itu terkait dengan sesuatu yang membuktikan bahwa
maksudnya adalah "malaikat yang lebih dekat" karena ayat tersebut
berlanjut.
> 
> "Artinya : Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
(yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya. Seorang
duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu
ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas
yang selalu hadir" [Qaf : 16-18]
> 
> Maka firman Allah : "Yaitu ketika dua orang malaikat mencatat amal
perbuatannya", terdapat dalil bahwa yang dimaksud "lebih dekat" adalah
dekatnya dua orang Malaikat yang mencatat amal perbuatannya.
> 
> [2]. Tentang ayat kedua : Kata-kata "lebih dekat" pada ayat ini
berkaitan dengan keadaan seseorang yang tengah menghadapi sakaratul
maut. Ketika seorang sedang menghadapi sakaratul maut, maka yang
datang untuk mencabut nyawanya adalah malaikat, berdasarkan firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
> 
> "Artinya : Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di
antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat (utusan) Kami, dan
malaikat-malaikat itu tidak melalaikan kewajibannya" [Al-An'am : 61]
> 
> Kemudian pada ayat Al-Waqi'ah : 85, lengkapnya berbunyi.
> 
> "Artinya Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu
tidak melihat" [Al-Waqi'ah : 85]
> 
> Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "kamu tidak melihat" pada ayat itu
menyatakan dalil sangat jelas bahwa yang tidak kamu (manusia-pent)
lihat adalah para malaikat. Sebab ayat diatas menunjukkan bahwa
pencabut nyawa berada sangat dekat dengan manusia, dalam arti ia
berada di tempat manusia itu berada, namun manusia tidak dapat
melihatnya.
> 
> Dengan demikian, yang dekat dan berada di tempat manusia (yang
sedang sakaratul maut untuk dicabut nyawanya) tidak lain adalah
malaikat. Sebab adalah mustahil jika Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri
yang berada di situ. Maka jelaslah bahwa yang dimaksud "lebih dekat"
adalah dekatnya malaikat.
> 
> Tinggal sekarang permasalahannya, yaitu kalau yang dimaksud adalah
dekatnya malaikat, mengapa kata-kata "dekat" kemudian disandarkan
kepada Allah, yakni : "Kami lebih dekat kepadanya". Adakah contoh
ungkapan lain dalam Al-Qur'an yang menandaskan bahwa sesuatu
disandarkan kepada Allah, tetapi maksudnya adalah malaikat?
> 
> Jawaban Pertanyaan Pertama.
> 
> Karena malaikat itu merupakan tentara dan utusan Allah. Dan dekatnya
mereka kepada manusia hanyalah karena perintah Allah. Sehingga ketika
mereka dekat dengan manusia, maka diakuinya kedekatan itu sebagai
kedekatan Allah kepada manusia.
> 
> Jawaban Pertanyaan Kedua.
> 
> Memang ada contoh ungkapan lain dalam Al-Qur'an yang menandaskan
bahwa sesuatu disandarkan kepada Allah tetapi maksudnya adalah
malaikat. Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
> 
> "Artinya : Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah
bacaannya itu" [Al-Qiyamah : 18]
> 
> Disini Allah mengatakan : "Bila Kami (Allah) telah selesai
membacakannya". Sedangkan yang dimaksud adalah : "Bila malaikat Jibril
telah selesai membacakan Al-Qur'an kepada Rasulullah Shallallahu
`alaihi wa sallam". Sekalipun diakuinya bacaan itu sebagai bacaan yang
disandarkan kepada Allah dengan firmanNya : Apabila Kami (Allah) telah
selesai membacakannya" . Mengapa ? Sebab ketika Jibril membacakan
Al-Qur'an kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, hanyalah
semata-mata karena perintah Allah. Dengan demikian, boleh saja jika
kemudian Allah mengklaim bahwa bacaan Jibril tersebut sebagai bacaan
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
> 
> Begitu pula misal yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala.
> 
> "Artinya : Maka tatkala rasa takut telah hilang dari Ibrahim dan
berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal-jawab dengan
Kami tentang kaum Luth" [Hud : 74]
> 
> Kata-kata "bersoal jawab dengan Kami/Allah" maksudnya adalah bersoal
jawab dengan para malaikat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diutus untuk
menemui Ibrahim
> 
> Kesimpulan: 
> 
> Dua ayat dalam surat Qaaf 16 dan surat Al-Waqi'ah : 85 di mana Allah
Subhanahu wa Ta'ala menyatakan bahwa "Kami (Allah) lebih dekat",
maksudnya adalah "malaikat lebih dekat" karena dekatnya malaikat
merupakan perintah Allah. Dan penafsiran ini bukan takwil terhadap
ayat-ayat sifat dan bukan pula pengalihan makna dari makna dzahirnya,
berdasarkan penjelasan yang sudah dikemukakan di muka.
> 
> Alhamdulillah.
> 
> [Disarikan dari Al-Qawa'id Al-Mutsla, Penulis Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah Ahmas Faiz Asifuddin, Disalin dari
Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun IV/1420H/1999M, Penerbit Yayasan
Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl Solo - Purwodadi Km 8 Selokaton
Gondangrejo - Solo]
> 
> Sumber :
> 
> http://www.almanhaj.or.id/content/1880/slash/0
<http://www.almanhaj.or.id/content/1880/slash/0>  
> 
> Mudah-mudahan Bermanfaat.



> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
> in the all-new Yahoo! Mail Beta. 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke