CIRI-CIRI MUKMIN SEJATI       

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya 
(beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan 
mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. 
mereka Itulah orang-orang yang benar. (al-Hujurat:15) 
 
Tiada suatu pun dalam kehidupan ini yang lebih berharga bagi manusia daripada 
iman. Dengan bekal iman yang benar, seseorang akan bisa merasakan indahnya 
kehidupan dunia dan nikmatnya kehidupan akhirat. Sebab dalam hidup ini berlaku 
dua rumus paten, orang yang mati tetap memegangi imannya ia akan masuk sorga 
dengan segala keindahannya, dan orang yang mati tidak memiliki iman ia akan 
masuk neraka dengan segala kepedihannya. 
 
Meskipun kaidah ini sudah difahami oleh kebanyakan orang, tetapi dalam 
realitasnya banyak yang kurang bisa menerapkan teori ini dengan benar. Mereka 
itu mengaku beriman baru sebatas pengakuan lisan, tetapi hati dan amalnya 
kurang siap menerima iman yang sudah diikrarkan secara lisan tersebut. Golongan 
seperti itu dalam Islam disebut dengan golongan munafik. Dan adanya golongan 
ini disebutkan di dalam firman Allah “Dan di antara manusia ada orang yang 
mengatakan ‘Kami telah beriman kepada Allah’ tetapi sebenarnya mereka itu tidak 
beriman” (al-Baqarah:8). 
 
Di sini kita melihat bahwa persoalan iman adalah soal yang pelik. Padahal ia 
menjadi tolok ukur keselamatan manusia di akhirat nanti. Melihat pentingnya 
persoalan ini maka wajar jika Allah menjelaskan tentang hakekat keberimanan 
seseorang di dalam al-Qur’an. Tentu tujuanya adalah supaya manusia tidak 
kesulitan mencari penduan hidup baginya.
Banyak ayat di dalam al-Qur’an telah menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman. 
Di antara ayat yang menyebutkan ciri-ciri mereka terdapat di dalam surat 
al-Hujurat ayat 15.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya 
(beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan 
mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. 
mereka Itulah orang-orang yang benar. (al-Hujurat:15) 
 
Ayat di atas diawali dengan kata innama. Kata innama berfungsi untuk membatasi 
kata yang terletak sesudahnya. Dalam ayat ini yang dibatasi adalah istilah 
al-mu’minun (orang-orang yang beriman). Maksudnya, orang-orang mukmin itu 
hanyalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat sebagaimana yang disebutkan di 
dalam lanjutan ayat tersebut.
Kemudian di akhir ayat tersebut Allah menegaskan sekali lagi, bahwa orang 
beriman yang memiliki sifat tersebut adalah mereka yang benar-benar beriman. 
Sifat-sifat itu adalah; 
 
1. Beriman kepada Allah dan RasulNya
 
Istilah beriman bukan sekedar percaya. Jika maksud beriman sekedar percaya, 
maka iblis pun termasuk orang yang beriman kepada Allah. Sebab Iblis sangat 
percaya adanya Allah dengan segala sifatNya. Beriman maksudnya adalah percaya 
di dalam hatinya, lisannya mengucapkan kepercayaannya, dan anggota tubuh yang 
lain mengamalkan konsekuensi dari keimanannya. 
 
Dari batasan ini, beriman kepada Allah dan RasulNya, adalah meyakini di dalam 
hati, lisannya mengucapkan dua kalimah syahadat, dan seluruh gerak hidupnya 
merupakan perwujudan dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya. 
 
2. Tidak ragu-ragu
 
Keraguan terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah sebagai ajaran dari Allah 
menyebabkan batalnya keimanan seseorang. Demikian juga, keraguan terhadap 
benarnya ajaran itu juga membatalkan keimanannya. Maka orang yang beriman 
meyakini dengan sepenuh hati kebenaran ajaran Allah dan RasulNya. Ajaran itulah 
ajaran yang benar. Tidak ada kebenaran hakiki di luar ajaran yang diajarkan 
oleh Allah dan RasulNya. 
 
3. Berjihad dengan harta dan jiwa
 
Jihad artinya adalah bersungguh-sungguh. Kesungguhan merupakan buah dari 
kemantapan hati terhadap sesuatu yang diyakininya. Orang yang tak yakin tak 
akan sanggup melakukan sesuatu dengan segala kesungguhan hati. Kalaupun ia 
mengamalkannya maka ia akan mengamalkan dengan setengah hati. Tetapi jika ia 
meyakini dengan keyakinan yang penuh, ia akan bisa mengamalkan dengan sepenuh 
hati, dan dengan segala kecintaannya. Demikianlah, buah dari mantapnya 
keyakinan, dan tidak adanya keraguan sedikitpun, ia mantap dalam mentaati 
perintah Allah dan RasulNya, serta menjauhi larangan Allah dan RasulNya. Meski 
apapun yang akan menimpanya, kemantapannya tidak akan menyurutkannya dari 
mentaati Allah dan RasulNya. 
 
Manusia memiliki kecenderungan menyukai sesuatu yang identik dengan dirinya. Ia 
akan menyukai orang lain yang memiliki banyak persamaannya dengan dirinya. 
Demikian juga dalam masalah keimanan ini. Ia akan merasa senang jika orang lain 
memiliki keimanan seperti dirinya. Terlebih lagi bahwa keimanan ini akan 
menyelamatkan, maka ia akan berusaha supaya orang lain pun selamat, karena 
memiliki keimanan itu. Aktifitas membawa orang lain untuk mengikuti apa yang 
diyakininya merupakan langkah selanjutnya dari jihadnya. Seorang mukmin harus 
melakukan tugas ini. 
 
Jika orang lain menentang ajakannya, bahkan berusaha menghalangi usahanya untuk 
menebar rahmat, ia tidak boleh diam. Dengan segala daya upaya ia harus lakukan 
untuk mengamankan misi penting itu. Bahkan jika perlu mengangkat senjata untuk 
membela agamanya, maka itu akan dilakukannya juga. Inilah puncak dari jihad fi 
sabilillah, sebagaimana sabda Rasulullah saw 
 
Pokok persoalannya adalah Islam, pilar penyangganya adalah shalat, dan puncak 
tertingginya adalah jihad (HR at-Tirmidzi) 
 
wallahu a'lam..

       
---------------------------------
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware 
protection. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke