Dimanakah Atas dan Bawah Alam Semesta ?
   
  Ketahuilah saudaraku yang seiman, bahwa bumi yang kita tempati ini berbentuk 
bulat menurut kesepakatan para ulama.  Hal itu mereka nyatakan jauh-jauh hari 
sebelum para ilmuwan barat menyatakan hal tersebut.
   
  Berkata Imam Ibnu Hazm (wafat 456 H.), 
   
  “Pasal penjelasan tentang bulatnya bumi.  Tidak ada satu pun dari ulama kaum 
muslimin, semoga Allah meridhai mereka semua, yang mengingkari bahwa bumi itu 
bulat dan tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari 
mereka.  Bahkan al Qur’an dan as Sunnah telah memperkuat tentang bulatnya bumi” 
(al Fishal fil Milal wan Nihal 2/97)
   
  Hal senada pernah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H.) 
dengan menukil perkataan Imam Abul Husain bin Ja’far bin Munadi seorang ulama 
Hanabilah,
   
  “Demikian juga para ulama sepakat bahwasannya bumi dengan segala gerakannya, 
baik di darat maupun di laut itu bulat” (Majmu’ Fatawa 25/159).  
   
  Dan Syaikhul Islam pun menukil adanya ijma’ para ulama mengenai hal ini dari 
Imam Ibnu Hazm dan Ibnul Jauzi (Wafat 597 H.).
   
  Adapun dalil yang menyatakan bahwa bumi itu bulat adalah firman Allah Ta’ala,
   
  “ … yukawwirul laylan naHaari wa yukawwirun naHaara ‘alal layli” yang artinya 
“…Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam” (QS. Az 
Zumar : 5)
   
  Pada terjemahan al Qur’an, makna at Takwir pada surat az Zumar ayat 5 
diartikan menutup, sementara pada surat at Takwir ayat 1 diartikan digulung 
yaitu,
   
  “Idzasy syamsu kuwwirat” yang artinya “Apabila matahari digulung”
   
  Sisi pengambilan dalilnya sangat jelas, lafazh takwir berarti berputar, 
diambil dari kata kuwwirat al ‘imaamatu yang artinya memutar/menggulung ikat 
kepala.  Dan kalau siang dan malam selalu berputar maka sangat jelas 
menunjukkan bahwa bumi itu adalah bulat.
   
  Adapun mengenai keberadaaan bahwa langit itu bulat, maka ini pun telah 
disepakati oleh para ulama Islam.  Berkata Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H.), 
“Imam Ibnu Hazm, Ibnul Munadi dan Ibnu Jauzi serta para ulama lainnya telah 
menukil adanya ijma’ bahwa langit itu bulat” (al Bidayah wan Nihayah 1/69, 
tahqiq Dr. Abdullah at Turki)
   
  Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Telah kami jelaskan bahwa langit itu 
bulat menurut para ulama dari para kalangan sahabat dan tabi’in, bahkan tidak 
hanya satu orang ulama yang mana mereka mengetahui tentang riwayat menyatakan 
bahwa langit itu bulat, seperti Abul Husain bin Munadi, Ibnu Hazm dan Ibnul 
Jauzi” (Majmu’ Fatawa 25/195)
   
  Diantara dalil naqli tentang masalah ini adalah firman Allah Ta’ala,
   
  “Waj’alnas samaa-a saqfam mahfuuzhaa” yang artinya “Dan Kami menjadikan 
langit itu sebagai atap yang terpelihara” (QS. Al Anbiyaa’ : 32)
   
  Langit terdiri dari tujuh lapis.
   
  Al Qur’an dan as Sunnah Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam secara tegas 
menunjukan bahwa langit yang diciptakan oleh Allah Ta’ala adalah sebanyak tujuh 
lapis dan mempunyai pintu serta tidak bisa ditembus kecuali oleh apa yang 
dikehendaki Allah Ta’ala.  Firman-Nya,
   
  “Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis” (QS. Al Mulk : 3)
   
  “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit 
bertingkat-tingkat” (QS. Nuh : 15)
   
  “Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh” (QS. An Nabaa’ : 
12)
   
  Salah satu hadits yang menjelaskan permasalahan langit ini adalah hadits 
tentang isra’ dan mi’raj Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam yang cukup 
panjang.  Ringkasan hadits tersebut adalah : Berkata Anas bin Malik 
radhiyallaHu ‘anHu,
   
  “Kemudian Jibril membawa naik Rasulullah ke langit dunia, lalu Jibril 
mengetuk salah satu pintunya …Yang saya ingat bahwa Nabi Idris di langit kedua, 
Harun di langit keempat, seorang Nabi yang saya tidak hafal namanya di langit 
kelima, Ibrahim di langit keenam dan Musa di langit ketujuh.  Maka Nabi Musa 
berkata, ‘Ya Allah, saya tidak menyangka kalau ada yang melebihi tempatku’.  
Kemudian Rasulullah naik hingga tiba di Sidratul Muntaha dan Allah mendekat 
sehingga Rasulullah dengan Allah sedekat anak panah atau malah lebih dekat 
lagi” (HR. al Bukhari no. 3570 dan 7517, Muslim no. 162-164 dan lainnya)
   
  Dan diketahui bahwa dilangit ketujuh dimana Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa 
sallam bertemu dengan Nabi Musa ‘alaiHis sallam terdapat surga ‘Illiyyin 
sebagaimana keterangan Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (4/588) ketika menerangkan 
ayat,
   
  “Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) 
dalam ‘Illiyin” (QS. Al Muthaffifiin : 18)
   
  Hadits tentang isra dan mi’raj tersebut di atas sangat jelas menunjukan bahwa 
langit itu ada fisiknya dan berlapis tujuh yang ada pintunya serta dijaga oleh 
para malaikat.  Tidak ada yang bisa masuk dan keluar kecuali dengan izin pintu 
dan setelah dibukakan pintunya.  Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini,
   
  “Dan dibukalah langit maka terdapatlah beberapa pintu” (QS. An Nabaa’ : 19)
   
  Sedangkan warna biru yang dilihat oleh manusia ketika memandang ke langit 
dengan mata telanjang maka itulah langit dunia dan seperti itulah yang dipahami 
para sahabat ketika memahami nash al Qur’an tentang adanya langit (Majmu’ 
Fatawa Ibnu Taimiyah 6/593, Miftah Darus Sa’adah oleh Imam Ibnul Qayyim dan 
Syarah Lum’atul I’tiqad oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin)
   
  Adapun jarak antara langit dengan langit yang berikutnya adalah lima ratus 
tahun sebagaimana atsar dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu,
   
  “Antara langit dengan langit setelahnya adalah lima ratus tahun perjalanan 
dan jarak antara langit dengan bumi adalah lima ratus tahun perjalanan, antara 
langit ketujuh dengan kursiy adalah lima ratus tahun perjalanan, antara kursiy 
dengan air adalah perjalanan lima ratus tahun dan ‘Arsy berada di atas air dan 
Allah berada di atas ‘Arsy, tidak ada satu pun dari amal perbuatan kalian yang 
tersamar atas-Nya” (HR. ad Darimi dalam ar Radd ‘alal Jahmiyah hal. 26, Ibnu 
Khuzaimah dalam at Tauhid hal. 105, ath Thabrani dalam al Kabir no. 8987, al 
Baihaqi dalam al Asma’ wash Shifat hal. 401 dan al Khatib dalam al Muwadhah 
2/47.  Atsar ini dishahihkan Imam Ibnul Qayyim dalam Ijtima’ Juyusy al 
Islamiyah dan adz Dzahabi dalam al Uluw hal. 64)
   
  Jadi urutannya berdasarkan atsar shahih di atas adalah : Bumi, langit dunia, 
langit kedua, ketiga, hingga langit ke tujuh, kursiy, air, dan terakhir adalah 
‘arsy sebagai tempat bersemayamnya Allah Ta’ala, sebagaiman firman-Nya,
   
  “Ar Rahman bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thaha : 5)
   
  Di bawah ‘arsy terdapat surga yang paling tinggi tingkatannya yaitu surga 
firdaus.  Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,
   
  “Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga firdaus, karena itu 
adalah surga yang paling tinggi dan di atasnya adalah ‘Arsy Allah Yang Maha 
Pengasih” (HR. al Bukhari no. 2790 dan no. 7423)
   
  Bumi adalah Pusat alam Semesta
   
  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat tahun 728 H) pernah ditanya, “Dimana 
atas dan bawah alam semesta ?”, maka beliau menjawabnya dengan sangat baik 
dalam ar Risalah al ‘Arsyiyah yang terdapat dalam Majmu’ Fatawa (6/545) yang 
pada intinya adalah :
   
  Arah atas alam semesta adalah yang sejajar dengan kepala manusia, oleh karena 
itu dimana pun manusia berada maka yang searah dengan kepalanya adalah atas 
alam semesta.  Dan yang paling atas dari alam semesta ini adalah ‘Arsy-nya 
Allah Ta’ala.
   
  Sedangkan bawah alam semesta adalah yang searah dengan kaki manusia dimana 
pun dia berada yaitu menuju dasar atau inti bumi.  Dari sini diketahui bahwa 
dasar alam semesta adalah lapisan bumi ketujuh (lapisan bumi paling bawah) yang 
searah dengan seluruh kaki manusia. (Hadits tentang tujuh lapis bumi ada di 
Kitab Shahih Bukhari)
   
  Dan karena bumi itu bulat maka semua kaki manusia jika diarahkan tepat lurus 
ke bawah akan bertemu pada titik yang sama tepat di tengah-tengah bumi dan 
sekali lagi, itulah bawah alam semesta.
   
  Dari Bara’ bin Azib radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa 
sallam menjelaskan bahwa tempat yang paling rendah di bumi adalah Sijjiin,
   
  “FayaqulullaHu uktubuu kitaabaHu fii sijjiinin fil ardhis sufla” yang artinya 
“Allah Ta’ala berkata, ‘Tulislah kitab hamba-Ku ini di sijjiin di bumi yang 
paling rendah” (HR. al Bukhari no. 1369, Muslim no. 2871, Ahmad 4/278 dan 295, 
Abu Dawud no. 3210, An Nasa-i 1/282, Ibnu Majah no. 1548-1549, Al Hakim 1/37-40 
dan Ath Thayalisi no. 753.  Imam Ibnul Qayyim menshahihkan hadits tersebut di 
atas dalam Kitab I’lam Al Muwaqqi’in 1/214 dan pada Kitab Tahdzib As Sunan 
4/337, Al Hafizh Ibnu Katsir menuturkannya dalam Kitab Tafsir-nya 2/131, Al 
Hafizh Ibnu Hajar menuturkan dalam Kitab Fathul Bari 3/234-240 dan Syaikh 
Muhammad Nashiruddin Al Albani menuturkannya dalam Kitab Ahkam Al Janaiz hal. 
198-202)
   
  Tidakkah kita perhatikan bahwa  Allah Ta’ala menyebutkan neraka dengan tempat 
yang serendah-rendahnya ?,
   
  “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS. At Tin 
: 5)
    
  Sumber Bacaan :
   
  Disarikan dari Buku Matahari Mengelilingi Bumi, Ustadz Ahmad Sabiq, Pustaka 
al Furqan, Gresik, Cetakan Kedua, Jumadil Tsani 1427 H.
   
  Semoga Bermanfaat.
   



       
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, 
when. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke