Saya pernah mengikuti sebuah seminar tentang pencegahan HIV/AIDS. Instrukturnya
saat itu berasal dari sebuah yayasan yang beranggotakan dokter-dokter dari
Surabaya. Isi dari seminar itu adalah pentingnya melindungi diri saat
berhubungan intim dengan menggunakan kondom. Selain itu juga pentingnya
memperlakukan pengidap HIV tanpa memandang negatif terhadap mereka.
Saat sesi tanya jawab, saya coba bertanya tentang mengapa dalam setiap iklan
tentang pencegahan HIV/ AIDS selalu disebutkan pentingnya memakai kondom saat
berhubungan. Dengan sedikit protes saya bertanya mengapa tidak dikedepankan
pentingnya berhubungan intim hanya dengan istri atau suami yang sah.
Jawabannya ternyata jauh dari harapan saya. "Ya memang kalau bisa seperti itu
lebih baik, tapi kan kadang seseorang melakukan dengan orang lain, nah
merekalah yang harus memakai kondom,"itu jawaban mereka. Tampaknya mereka
sengaja mengambangkan jawaban dari perntanyaan saya
Akhirnya saya berkesimpulan bahwa para instruktur seminar itu yang kebetulan
bukan muslim terlalu mengedepankan ilmu pengetahuan dibandingkan ketetepan
Allah Subhanahuwata'ala. Begitulah kalau dokter tapi nggak ada dasar iman yang
kuat
Merza Gamal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sebelum masa reformasi, kondom dikenal sebagai salah satu alat
kontrasepsi dalam program Keluarga Berencana yang dicanangkan pemerintah. Iklan
kondom di media televisi dialkukan dengan bahasa isyarat yang masih malu-malu.
Namun di era ekonomi baru saat itu telah terjadi perubahan signifikan dalam
penampilan iklan kondom. Jika dahulu digambarkan dengan seorang suami yang
malu-malu menangih sesuatu pada sang istri sebagai pasangan resminya, maka pada
saat ini iklan kondom digambarkan tanpa malu-malu lagi.
Sebuah iklan kondom di televisi menceritakan sekelompok laki-laki muda
mengendarai beberapa motor. Kelihatannya mereka akan bersenang-senang. Salah
satu dari mereka mengajak untuk membeli antibiotik di sebuah toko obat. Pelayan
di toko obat bertanya, antibiotik itu untuk apa? Para lelaki muda itu mejawab
bersamaan : Supaya terhindari dari HIV. Lalu si pelayan di toko obat mengatakan
yang bisa mencegah HIV bukan antibiotik tapi kondom. Dengan demikian fungsi
kondom bukan lagi sebagai alat kontrasepsi untuk sebuah program Keluarga
Berencana, namun sebagai sebuah alat penjaga kesehatan.
Arti yang lain, iklan tersebut tidak mempersoalkan hubungan seks yang
kemungkinan besar akan dilakukan para lelaki itu, dengan pasangan resminya atau
bukan. Iklan itu lebih mementingkan kesehatan pelaku. Mencegah HIV yah dengan
kondom bukan dengan antibiotik.
Memang itu iklan tersebut adalah sosialisasi dari pemakaian kondom sebagai
salah satu pencegah penularan HIV. Kalau kita menilik lebih jauh, iklan
tersebutkan memberi contoh kehidupan seks bebas. Tidak berbeda dengan iklan
kondom komersil, dimana diperlihatkan seorang lelaki dan perempuan membeli
kondom lebih dulu disebuah swalayan berbeda sebelum masuk di tempat semacam
café/bar/diskotik. Kemudian ketika bertemu, duduk berangkulan lalu berdiri
meninggalkan tempat tersebut sambil tetap berangkulan. Dan yang lebih
mencengangkan lagi sebuah iklan kondom yang menggambarkan remaja ABG yang akan
"hang out" dengan memakai helm sebagai simbol keamanan dan dibumbui dengan
kata-kata "cewek-cewek sukanya yang aman" kemudian diikuti dengan penampilan
kondom merk terkenal.
Saya hanya bisa mengurut dada menyaksikan iklan-iklan tersebut yang mengartikan
bahwa media televisi sudah mensosialisaikan kehidupan seks bebas di Indonesia.
Dan yang lebih menyedihkan iklan-iklan tersebut bisa muncul kapan saja, bukan
pada jam tayang tengah malam. Saya punya anak-anak yang masih kecil-kecil dan
sangat mudah meniru hal-hal yang belum konsumsi mereka. Saya atau istri saya
mungkin bisa mematikan televisi jika sedang berada di rumah atau pada
acara-acara jam dewasa. Tapi sehari itu ada 24 jam dan tidak setiap saat kami
bisa mengontrolnya. Dan jika anak dilarang sama sekali tidak menonton TV,
apakah itu sebuah tindakan yang bijak, sementara semua teman sebayanya juga
sedang senang-senangnya menonton TV???
Apakah memang pada era ekonomi baru saat ini, kegiatan ekonomi harus bebas
nilai??? Apakah nilai kesehatan lebih tinggi dari nilai moral (yang diajarkan
oleh agama manapun) dalam menjual sebuah produk ekonomi??????
Mungkinkah saya harus seperti Ebiet G Ade untuk menanyakan pada rumput yang
bergoyang??? Sedangkan rumput pun sudah sulit ditemukan saat ini.........
Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
[Non-text portions of this message have been removed]