Assalamu'alaykum..

keresahan menonton acara TV juga sempat aku rasakan. karena akupun
tidak bisa mengkontrol tontonan yg dilihat oleh anak2ku selama aku
berada di kantor. hmm..sebetulnya aku bisa saja mengultimatum anakku
untuk hanya boleh menonton yg ini dan yg itu, dan tidak boleh menonton
yg ini dan itu selama aku tidak dirumah. ya..berhubung aku tinggal
dirumah tidak hanya dengan anakku saja, namun ada orang tuaku yg ikut
denganku dan beberapa adik2ku. maka sulit sekali untuk menerapkan hal2
spt itu.

anak2 mungkin menuruti perintahku, untuk memilih tontonan yg boleh dan
 yg tidak boleh olehku selama aku kerja, tapi..sulit sekali melarang
ortu or yg lainnya pada saat menonton untuk membatasi spt anak2ku
sendiri. Apalagi kesukaan ortu yg di tonton adalah berita kriminal spt
sergap, dlsbnya yg kebanyakan isinya ttg kekerasan2 secara fisik. or
cerita2 mistis dan ghaib yg marak sekali saat ini di TV, dan Anak
sebenarnya sudah patuh untuk tidak melihat, namun pada saat berada
sama2 untuk bermain dalam ruangan dan kebetulan terdapat TV disitu,
maka otomatis jadi ikutan lihat juga.
  
waduh..aku hanya bisa mengkontrol pada saat aku berada sama2 disana,
maka remote sudah pasti berada ditanganku dan aku bisa memilih
tontontan yg pas untuk semua, namun pada saat aku tidak ada, siapa yg
bisa mengkontrol???wong..semuanya sptnya nyaman saja melihat hal2 yg
berupa kekerasan or mistis2..gawatttttttt..

sampai suatu saat aku dikantor, rumahku kedatangan adikku beserta
anak2nya yg 6 orang itu. Hingga ada salah seorang anaknya yg nda
terlihat oleh orang di rumah yg mulai memasukkan kayu/lidi basah ke
dalam salah satu lubang colokan TV yg seharusnya untuk memasang CD or
DVD, kontan TV langsung kabur gambarnya dan mulai ngaco dech tuch
TV..:) sampai akhirnya di kutak katik oleh ayahku dan akhirnya tidak
ada lagi gambarnya sama sekali.hehehe

aku pribadi senang sekali lihat TVku rusak, dan setiap kali ayahku
minta dibelikan spare partnya, aku selalu berdalih nda punya uang
untuk beli itu:)hehehe*_^ sampai anakku yg kecil merajuk..belikan TV
baru ma..?" aku jawabnya enteng aja..

"yg mau nonton TV siapa..?kamu kan..?beli aja sendiri..mama mah nda
pingin nonton TV.." hehehe

or ayahku selalu usul ke aku

"itu anak2 kasihan mau nonton TV, jadi pergi ke rumah santi terus.."
salah seorang adikku yg kebetulan saat ini rumahnya nda jauh denganku

"ya biarin aja..wong..ana belum punya uang untuk beli TV baru..:)"

ya..saat ini aku sudah merasa aman, karena sudah nda punya TV di
rumah, tapi tidak adanya TV di rumah spt yg aku inginkan dari dulu,
bukan disengaja olehku, hingga tidak menyinggung perasaan penghuni
rumah lainnya..:)kalaupun anak2 menonton TV di rumah adikku, durasinya
tidak seserius saat menonton TV di rumah, karena perhatiannya jadi
tidak fokus dan sering beralih untuk bermain2 dengan sepupu2nya yg
lain ketimbang acara TV itu sendiri.hehehe

kalaupun ada aku dirumah, anak2 sudah mengerti kalau mereka tidak
diperbolehkan ada di tempat lain, selama aku ada dirumah, jadi..kami
lebih sering habiskan waktu di dalam kamar untuk cerita2 kejadian
seharian di luar or baca2 buku, atau tidur2an dan ketiduran..hehehe

kalau anakku yg besar sudah tahu, jika aku tidak suka mereka menonton
semua acara TV dan komentarnya

"mama seneng tuch..TV rusak..?" hehehe 

"lha iyalah..jadi mama nda perlu lagi teriak2 or pesan2 untuk..jangan
lihat ini itu ya..?"

"tapi mama bohong..bilang2 nda punya uang untuk beli TV sama nenek,
tapi punya uang untuk pindahin sekolah shafa.."

"hehehe..memang nda punya uang lah kalau untuk beli TV baru, tapi
kalau untuk sekolah..mudah2an ada dan diusahakan adalah.."

good by TV, aku lebih suka dibilang kuper karena ketinggalan berita2
gosip yg suka ditayangkan di TV, ketimbang dapat julukan reporter
semua gosip yg ada di TV.. hehehe


salam mengikat diri dari semua kebebasan yg tidak mau terikat atas
nama modernisasi dan globalisasi-:)

hana
   


 
> From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Merza Gamal
> Sent: Friday, July 06, 2007 7:15 PM
> To: Kajian Ekonomi Islami; Ekonomi Syariah; Ekonomi Nasional
> Cc: Penulis Lepas; Syiar Islam; Islam Net ID; Lautan Qur'an
> Subject: [syiar-islam] Iklan Hidup Bebas telah Diperkenalkan Media
Masa Indonesia
> 
>  
> 
> Sebelum masa reformasi, kondom dikenal sebagai salah satu alat
kontrasepsi dalam program Keluarga Berencana yang dicanangkan
pemerintah. Iklan kondom di media televisi dialkukan dengan bahasa
isyarat yang masih malu-malu. Namun di era ekonomi baru saat itu telah
terjadi perubahan signifikan dalam penampilan iklan kondom. Jika
dahulu digambarkan dengan seorang suami yang malu-malu menangih
sesuatu pada sang istri sebagai pasangan resminya, maka pada saat ini
iklan kondom digambarkan tanpa malu-malu lagi.
> 
> Sebuah iklan kondom di televisi menceritakan sekelompok laki-laki
muda mengendarai beberapa motor. Kelihatannya mereka akan
bersenang-senang. Salah satu dari mereka mengajak untuk membeli
antibiotik di sebuah toko obat. Pelayan di toko obat bertanya,
antibiotik itu untuk apa? Para lelaki muda itu mejawab bersamaan :
Supaya terhindari dari HIV. Lalu si pelayan di toko obat mengatakan
yang bisa mencegah HIV bukan antibiotik tapi kondom. Dengan demikian
fungsi kondom bukan lagi sebagai alat kontrasepsi untuk sebuah program
Keluarga Berencana, namun sebagai sebuah alat penjaga kesehatan. 
> 
> Arti yang lain, iklan tersebut tidak mempersoalkan hubungan seks
yang kemungkinan besar akan dilakukan para lelaki itu, dengan pasangan
resminya atau bukan. Iklan itu lebih mementingkan kesehatan pelaku.
Mencegah HIV yah dengan kondom bukan dengan antibiotik.
> 
> Memang itu iklan tersebut adalah sosialisasi dari pemakaian kondom
sebagai salah satu pencegah penularan HIV. Kalau kita menilik lebih
jauh, iklan tersebutkan memberi contoh kehidupan seks bebas. Tidak
berbeda dengan iklan kondom komersil, dimana diperlihatkan seorang
lelaki dan perempuan membeli kondom lebih dulu disebuah swalayan
berbeda sebelum masuk di tempat semacam café/bar/diskotik. Kemudian
ketika bertemu, duduk berangkulan lalu berdiri meninggalkan tempat
tersebut sambil tetap berangkulan. Dan yang lebih mencengangkan lagi
sebuah iklan kondom yang menggambarkan remaja ABG yang akan "hang out"
dengan memakai helm sebagai simbol keamanan dan dibumbui dengan
kata-kata "cewek-cewek sukanya yang aman" kemudian diikuti dengan
penampilan kondom merk terkenal. 
> 
> Saya hanya bisa mengurut dada menyaksikan iklan-iklan tersebut yang
mengartikan bahwa media televisi sudah mensosialisaikan kehidupan seks
bebas di Indonesia. Dan yang lebih menyedihkan iklan-iklan tersebut
bisa muncul kapan saja, bukan pada jam tayang tengah malam. Saya punya
anak-anak yang masih kecil-kecil dan sangat mudah meniru hal-hal yang
belum konsumsi mereka. Saya atau istri saya mungkin bisa mematikan
televisi jika sedang berada di rumah atau pada acara-acara jam dewasa.
Tapi sehari itu ada 24 jam dan tidak setiap saat kami bisa
mengontrolnya. Dan jika anak dilarang sama sekali tidak menonton TV,
apakah itu sebuah tindakan yang bijak, sementara semua teman sebayanya
juga sedang senang-senangnya menonton TV???
> 
> Apakah memang pada era ekonomi baru saat ini, kegiatan ekonomi harus
bebas nilai??? Apakah nilai kesehatan lebih tinggi dari nilai moral
(yang diajarkan oleh agama manapun) dalam menjual sebuah produk
ekonomi??????
> Mungkinkah saya harus seperti Ebiet G Ade untuk menanyakan pada
rumput yang bergoyang??? Sedangkan rumput pun sudah sulit ditemukan
saat ini.........
> 
> Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)
> 
> 
> ---------------------------------
> Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket:
mail, news, photos & more. 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
>  
> 
> 
> This message has been scanned by the Trend Micro IGSA and found to
be free of known security risks.
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke