Terima kasih atas kritiknya. Masalahnya memang saya tidak punya kekuasaan untuk 
mencegah kecuali hanya bisa menulis saja (dan maaf kapasitas saya memang cuma 
sampai segitu).

 

Saya beberapa kali menulis surat terbuka di beberapa surat kabar (misalnya 
kompas) tentang suatu masalah, dan itupun biasanya hanya sedikit sekali yang 
dimuat.  

Pernah ada permintaan maaf dari ANTEVE atas surat terbuka itu - ketika stasiun 
itu menayangkan cuplikan film vulgar dalam salah satu beritanya jam 12.00 siang.

Tapi ya hanya segitu saja.  Apakah selanjutnya ANTEVE akan memperkuat 
sensornya, ya tidak bisa dipastikan.

 

Wasallam.

 

 

  _____  

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, July 10, 2007 9:37 AM
To: Syiar Islam; A Nizami
Cc: Merza Gamal; Fajar H. Cahyono; sabili
Subject: RE: [syiar-islam] RE: Iklan Hidup Bebas telah Diperkenalkan Media Masa 
Indonesia

 


Assalaamu ' Alaikum Wr. Wb, 

Mohon maaf jika email ini selalu saya kirimkan kepada bapak Moderator. Karena 
saya yang awam ini sungguh takut sekali kan hal-2 yang sedemikian itu. 

Sebaiknya untuk masalah ini kita umat islam jangan hanya berani berbicara 
die-mail saja , sebenarnya saya juga ikut miris tapi kalau hanya cukup dengan 
kata-2 saja iklan tersebut tetap akan ditayangkan kembali '" Sebaiknya Sekarang 
ini kita harus fikirkan bagaimana caranya mengajukan ngosiasi atau cara yang 
lain kepada pihak pembuat iklan tersebut atau 
kepada televisi yang menayangkan iklan tersebut.  agar generasi kita yang akan 
datang tidak akan dirusak ruhaniah dan batiniah erta fsikisnya dengan iklan 
semacam itu, " bukan hanya saling mengeluh miris, justru saya miris melihat 
email - email yang masuk yang hanya berani bicara pada forum ini tetapi tidak 
berusaha menghalau iklan semacam itu agar tidak lagi ditayangkan kembali pada 
televisi akhir-akhir ini. 

Seperti pada Firman allah  " Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka " 
karena kalau kita hanya diam saja tidak bergeming terhadap iklan tersebut. maka 
dikhawatirkan generasi kita yang akan 
datang bisa rusak moralnya gara-2 iklan tersebut.  Sekali lagi mari kita 
rapatkan barisan dan maju sebagai umat islam denagn jalan yang damai kita minta 
agar iklan tersebut tidak ditayangkan lagi, atau kita hubungi pihak MUI agar 
mencabut lisensi iklan tersebut karena pihak yang akan diuntungkan hanya pihak 
televisi dan pembuat iklan tersebut tetapi justru kita yang dirugikan banyak 
terhadap iklan tersebut. 

Semoga kita dapat melakukan pencerahan tuk kehidupan generasi kita yang akan 
datang. Mohon maaf kalau dalam tulisan ini banyak salahnya maklum masih awam. 

Wassalamu 'Alaikum Wr. Wb. 
MARYANI

----- Forwarded by Quality Assurance/AINE on 07/10/2007 09:14 AM ----- 

 

"Fajar H. Cahyono" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected] 

07/10/2007 08:51 AM 

        
        To:        "Merza Gamal" <[EMAIL PROTECTED]> 
        cc:        "Syiar Islam" <[email protected]> 
        Subject:        RE: [syiar-islam] Iklan Hidup Bebas telah Diperkenalkan 
Media Masa Indonesia


sabili <[EMAIL PROTECTED]> 

Ass.

Menyedihkan. Saya juga pernah melihat iklan di televisi yang dibawakan oleh 
seorang dokter sekaligus artis.

1. Yang pertama, dengan pakaian dokter tanpa kerudung meng-iklan-kan alat 
kontrasepsi bagi pria agar aman dari AIDS.
2. Yang kedua, dengan pakaian muslimah tertutup rapat meng-iklan-kan sms reg 
spasi doa dst.

Bagaimana mungkin 1 pribadi menjadi 2 kepribadian yang bertolak belakang 
seperti ini? Split Personality? Atau gara-gara duit?!?!?

Na'udzubillahi min dzalik.

_____ 

From: [email protected] <mailto:syiar-islam%40yahoogroups.com>  
[mailto:[email protected] <mailto:syiar-islam%40yahoogroups.com> ] On 
Behalf Of Merza Gamal
Sent: Friday, July 06, 2007 7:15 PM
To: Kajian Ekonomi Islami; Ekonomi Syariah; Ekonomi Nasional
Cc: Penulis Lepas; Syiar Islam; Islam Net ID; Lautan Qur'an
Subject: [syiar-islam] Iklan Hidup Bebas telah Diperkenalkan Media Masa 
Indonesia

Sebelum masa reformasi, kondom dikenal sebagai salah satu alat kontrasepsi 
dalam program Keluarga Berencana yang dicanangkan pemerintah. Iklan kondom di 
media televisi dialkukan dengan bahasa isyarat yang masih malu-malu. Namun di 
era ekonomi baru saat itu telah terjadi perubahan signifikan dalam penampilan 
iklan kondom. Jika dahulu digambarkan dengan seorang suami yang malu-malu 
menangih sesuatu pada sang istri sebagai pasangan resminya, maka pada saat ini 
iklan kondom digambarkan tanpa malu-malu lagi.

Sebuah iklan kondom di televisi menceritakan sekelompok laki-laki muda 
mengendarai beberapa motor. Kelihatannya mereka akan bersenang-senang. Salah 
satu dari mereka mengajak untuk membeli antibiotik di sebuah toko obat. Pelayan 
di toko obat bertanya, antibiotik itu untuk apa? Para lelaki muda itu mejawab 
bersamaan : Supaya terhindari dari HIV. Lalu si pelayan di toko obat mengatakan 
yang bisa mencegah HIV bukan antibiotik tapi kondom. Dengan demikian fungsi 
kondom bukan lagi sebagai alat kontrasepsi untuk sebuah program Keluarga 
Berencana, namun sebagai sebuah alat penjaga kesehatan. 

Arti yang lain, iklan tersebut tidak mempersoalkan hubungan seks yang 
kemungkinan besar akan dilakukan para lelaki itu, dengan pasangan resminya atau 
bukan. Iklan itu lebih mementingkan kesehatan pelaku. Mencegah HIV yah dengan 
kondom bukan dengan antibiotik.

Memang itu iklan tersebut adalah sosialisasi dari pemakaian kondom sebagai 
salah satu pencegah penularan HIV. Kalau kita menilik lebih jauh, iklan 
tersebutkan memberi contoh kehidupan seks bebas. Tidak berbeda dengan iklan 
kondom komersil, dimana diperlihatkan seorang lelaki dan perempuan membeli 
kondom lebih dulu disebuah swalayan berbeda sebelum masuk di tempat semacam 
café/bar/diskotik. Kemudian ketika bertemu, duduk berangkulan lalu berdiri 
meninggalkan tempat tersebut sambil tetap berangkulan. Dan yang lebih 
mencengangkan lagi sebuah iklan kondom yang menggambarkan remaja ABG yang akan 
"hang out" dengan memakai helm sebagai simbol keamanan dan dibumbui dengan 
kata-kata "cewek-cewek sukanya yang aman" kemudian diikuti dengan penampilan 
kondom merk terkenal. 

Saya hanya bisa mengurut dada menyaksikan iklan-iklan tersebut yang mengartikan 
bahwa media televisi sudah mensosialisaikan kehidupan seks bebas di Indonesia. 
Dan yang lebih menyedihkan iklan-iklan tersebut bisa muncul kapan saja, bukan 
pada jam tayang tengah malam. Saya punya anak-anak yang masih kecil-kecil dan 
sangat mudah meniru hal-hal yang belum konsumsi mereka. Saya atau istri saya 
mungkin bisa mematikan televisi jika sedang berada di rumah atau pada 
acara-acara jam dewasa. Tapi sehari itu ada 24 jam dan tidak setiap saat kami 
bisa mengontrolnya. Dan jika anak dilarang sama sekali tidak menonton TV, 
apakah itu sebuah tindakan yang bijak, sementara semua teman sebayanya juga 
sedang senang-senangnya menonton TV???

Apakah memang pada era ekonomi baru saat ini, kegiatan ekonomi harus bebas 
nilai??? Apakah nilai kesehatan lebih tinggi dari nilai moral (yang diajarkan 
oleh agama manapun) dalam menjual sebuah produk ekonomi??????
Mungkinkah saya harus seperti Ebiet G Ade untuk menanyakan pada rumput yang 
bergoyang??? Sedangkan rumput pun sudah sulit ditemukan saat ini.........

Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami) 

---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke