Ass Wr Wb

Perbedaan perbedaan dalam hal Fikih, menurut saya tidak seharusnya menjadikan 
kewajiban ukhuwah, terpinggirkan.sepanjang yang melaksanakan mengetahui dasar 
hukumnya dan tidak taklid buta. Para ulama sudah mencontohkan bagaimana 
menghadapi perbedaan dan tetap saling menghargai karena semua punya dasar 
masing masing. Dalam masalah Furu' dan cabang, fikih perbedaan selama mempunyai 
dasar yang kuat, menurut pendapat saya memang harus saling menghargai, namun 
tidak ada toleransi lagi jika masalahnya sudah Aqidah.

Wass Wr Wb

----- Original Message ----
From: A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>
To: syiar-islam <[email protected]>; sabili <[EMAIL PROTECTED]>; 
padhang-mbulan <[EMAIL PROTECTED]>; Saksi <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, July 27, 2007 9:23:10 AM
Subject: [syiar-islam] Do'a Qunut jangan Jadi Perpecahan


Assalamu'alaikum wr wb,

Dari hadits di bawah (termasuk riwayat Bukhari dan
Muslim) jelas Nabi pernah do'a qunut di dalam
sholatnya. Jika baca do'a qunut dianggap bid'ah,
adakah Nabi melakukan bid'ah?

Bahkan Syaikh Albani pun menyatakan kesahihan satu
hadits yang menyatakan Nabi pernah melakukan do'a
Qunut.

==
“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa
sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau
berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a
(kejelekan atas suatu kaum)” . Dikeluarkan oleh Ibnu
Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam
At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani
dalam Ash-Shahihah no. 639.
==

Oleh karena itu hendaknya kita jangan menjadikan do'a
qunut yang hanya merupakan sunat atau satu hal yang
pernah dikerjakan oleh Nabi sebagai alat fitnah untuk
memecah-belah ummat Islam.

Jika memang tidak ingin baca do'a qunut, hendaknya
pilihlah masjid yang sepaham dengannya. Jangan
sengaja masuk ke masjid yang beda paham untuk
menimbulkan perpecahan. Sebab menimbulkan perpecahan
itu juga dosa besar.

Wassalam

http://www.geocitie s.com/setyo79/ setyo12.htm
DOA QUNUT NAZILAH

Doa Qunut Nazilah dibaca ketika kaum muslimin terkena
bencana, ancaman, penganiayaan, penindasan musuh-musuh
Allah dan musuh kaum Muslimin.

Seperti dikisahkan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan
Muslim, Rasulullah SAW pernah melakukan qunut selama
satu bulan untuk mendoakan pembunuh-pembunuh para
sahabatnya di Bir Al-Maunah.

Dari Abu Hurairah RA :
"Sesungguhnya bila ingin mendoakan seseorang, Nabi
Muhammad SAW membacakan qunut sesudah ruku' (Hr.
Bukhari dan Ahmad bin Hambal).

Doa Qunut Nazilah dibaca setiap sholat fardhu jahriyah
(mahdzab Hanafi), sedangkan selain madzhab Hanafi, Doa
Qunut Nazilah dibaca setiap kali sholat fardhu.

Mari kita bacakan doa ini untuk saudara-saudara kita
kaum muslimin dimana saja berada, khususnya yang
sedang terkena ancaman, penganiayaan, dan penindasan
musuh-musuh Allah.

Inilah Doa Qunut Nazilah (Hadist diriwayatkan oleh
Umar Bin Khatab) :

Alloohummaghfir lilmu'miniina wal mu'minaat
Wal muslimiina wal muslimaat
Wa allif baina quluubihim
Wa ashlih dzaata bainahum
Wanshur 'Alaa 'Aduwwika wa'aduwwihim

Allohummal'in kafarota ahlil kitaabil ladziina
Yukadzibuuna rusulaka wayuqottiluuna auliyaa aka
Alloohumma khollif baina kalimaatihim
Wazalzil Aqdaamahum
Wa anzilbihim ba'sakalladzii layuroddu 'anil
qaumil mujrimiin

Bismillaahirrahmaan irrahiim
Allohumma innaanasta'iinuka

Artinya:

"Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat,
mukminin dan mukminat,
Ya Allah jinakkan, satu padukan hati orang-orang
muslimin,
Perbaikilah keadaan mereka,
Tolonglah kaum muslimin utuk melawan musuh-musuh- Mu,
dan musuh-musuh mereka

Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan
para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu,
Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka,
Hancur leburkan kekuatan mereka,
Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi
untuk orang-orang yang penuh dengan dosa

Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih
Maha Penyayang,
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan
kepadaMu" n

http://abdurrahman. wordpress. com/2006/ 12/08/hukum- doa-qunut- pada-sholat- 
shubuh/
Hukum Do’a Qunut Pada Sholat Shubuh
8 12 2006

HUKUM DO’A QUNUT PADA SHOLAT SHUBUH

Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulkarnain

Pertanyaan :
Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat
adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai
amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan
bid’ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ?

Jawab :
Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa
itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas
pada adanya dalil dari Al-Qur’an maupun As-sunnah yang
shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang
benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru
dalam agama (bid’ah), yang terlarang dalam syariat
Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat
Bukhary-Muslim :

&#1605;&#1614; &#1606;&# 1618;
&#1571;&#1614; &#1581;&# 1618;&#1583; &#1614;&# 1579;&#1614;
&#1601;&#1616; &#1610;&# 1618;
&#1571;&#1614; &#1605;&# 1618;&#1585; &#1616;&# 1606;&#1614; &#1575;
&#1607;&#1614; &#1584;&# 1614;&#1575;
&#1605;&#1614; &#1575;
&#1604;&#1614; &#1610;&# 1618;&#1587; &#1614;
&#1605;&#1616; &#1606;&# 1618;&#1607; &#1615;
&#1601;&#1614; &#1607;&# 1615;&#1608; &#1614;
&#1585;&#1614; &#1583; &#1617;&#1612; . &#1608;&#1614;
&#1601;&#1616; &#1610;&# 1618;
&#1585;&#1616; &#1608;&# 1614;&#1575; &#1610;&# 1614;&#1577; &#1616;
&#1605;&#1615; &#1587;&# 1618;&#1604; &#1616;&# 1605;&#1613;
: ((&#1605;&#1614; &#1606;&# 1618;
&#1593;&#1614; &#1605;&# 1616;&#1604; &#1614;
&#1593;&#1614; &#1605;&# 1614;&#1604; &#1575;&# 1611;
&#1604;&#1614; &#1610;&# 1618;&#1587; &#1614;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616;
&#1571;&#1614; &#1605;&# 1615;&#1585; &#1615;&# 1606;&#1614; &#1575;
&#1601;&#1614; &#1607;&# 1615;&#1608; &#1614;
&#1585;&#1614; &#1583;&# 1617;&#1614;

“Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara
kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan
dari perkara maka hal itu adalah tertolak”. Dan dalam
riwayat Muslim : “Siapa yang berbuat satu amalan yang
tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah
tertolak”.

Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh
setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang
disandarkan kepada agama.
Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha
menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah
ini.

Uraian Pendapat Para Ulama
Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang
disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.
Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara
terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi
Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy.
Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan
karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya).
Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan
lain-lainnya dari ulama Kufah.
Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah
disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh
dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat
lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin
Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari
para ulama ahlul hadits.

Dalil Pendapat Pertama
Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama
yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits
berikut ini :

&#1605;&#1614; &#1575;
&#1586;&#1614; &#1575;&# 1604;&#1614;
&#1585;&#1614; &#1587;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1615;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1616;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1615;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616;
&#1608;&#1614; &#1570;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1605; &#1614;
&#1610;&#1614; &#1602;&# 1618;&#1606; &#1615;&# 1578;&#1615;
&#1601;&#1616; &#1610;&# 1618;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1575;&#1614; &#1577;&# 1616;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1594;&#1614; &#1583;&# 1614;&#1575; &#1577;&# 1616;
&#1581;&#1614; &#1578;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1601;&#1614; &#1575;&# 1585;&#1614; &#1602;&# 1614;
&#1575;&#1604; &#1583;&# 1617;&#1615; &#1606;&# 1618;&#1610; &#1614;&# 1575;

“Terus-menerus Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa a
lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau
meninggalkan dunia”.

Dikeluarkan oleh ‘Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110
no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma’ani
Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits
Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba’in
sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy
2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam
Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam
Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130
no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan
dalam Al-’Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib
Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama’ wat Tafr iq
2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam
At-Tahqiq 1/463.

Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Rozy dari Ar-Robi’
bin Anas dari Anas bin Malik.
Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin ‘Ali
Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul
Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam
Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar
An-Naqy berkata : “Bagaimana bisa sanadnya menjadi
shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i’
bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Rozy
mutakallamun fihi (dikritik)”. Berkata Ibnu Hambal dan
An-Nasa`i : “Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)”.
Berkata Abu Zur’ah : ” Yahimu katsiran (Banyak
salahnya)”. Berkata Al-Fallas : “Sayyi`ul hifzh (Jelek
hafalannya)”. Dan berkata Ibnu Hibban : “Dia bercerita
dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar”.

Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad jilid I hal.276
setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu
Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang
diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Rozy, beliau berkata :
“Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-R ozy adalah
orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama
sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari
para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia
bersendirian dengannya”.

Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama
tentang Abu Ja’far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa
kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah Jarh mufassar
(Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya
seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu
Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau
berkata : “Shoduqun sayi`ul hifzh khususon ‘anil
Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi
riwayatnya dari Mughirah).
Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut
subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah
bahkan hadits yang mungkar.
Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar
karena 2 sebab :
Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini
bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan
bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam
tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah,
sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :

&#1571;&#1614; &#1606;&# 1617;&#1614;
&#1575;&#1604; &#1606;&# 1617;&#1614; &#1576;&# 1616;&#1610; &#1617;&# 1614;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1615;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616;
&#1608;&#1614; &#1570;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1605; &#1614;
&#1603;&#1614; &#1575;&# 1606;&#1614;
&#1604;&#1575; &#1614;
&#1610;&#1614; &#1602;&# 1618;&#1606; &#1615;&# 1578;&#1615;
&#1573;&#1616; &#1604;&# 1575;&#1617; &#1614;
&#1573;&#1616; &#1584;&# 1614;&#1575;
&#1583;&#1614; &#1593;&# 1614;&#1575;
&#1604;&#1616; &#1602;&# 1614;&#1608; &#1618;&# 1605;&#1613;
&#1571;&#1614; &#1608;&# 1618;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1609;
&#1602;&#1614; &#1608;&# 1618;&#1605; &#1613;

“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa
sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau
berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a
(kejelekan atas suatu kaum)” . Dikeluarkan oleh Ibnu
Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam
At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani
dalam Ash-Shahihah no. 639.
Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu
Ja’far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya
perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh
tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya
ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan
lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan
dengan lafazh :

&#1571;&#1614; &#1606;&# 1617;&#1614;
&#1575;&#1604; &#1606;&# 1617;&#1614; &#1576;&# 1616;&#1610; &#1617;&# 1614;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1615;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616;
&#1608;&#1614; &#1570;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1605; &#1614;
&#1602;&#1614; &#1606;&# 1614;&#1578; &#1614;
&#1601;&#1613; &#1610;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1601;&#1614; &#1580;&# 1618;&#1585; &#1616;

“Sesungguhnya Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam
qunut pada shalat Subuh”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al
Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan
disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al
Mukhtarah 6/129.
emudian sebagian para ‘ulama syafi’iyah menyebutkan
bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain
yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan
tersebut :
Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari
Anas bin Malik, beliau berkata :

&#1602;&#1614; &#1606;&# 1614;&#1578; &#1614;
&#1585;&#1614; &#1587;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1615;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1616;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;
&#1615;&#1593; &#1614;&# 1604;&#1614; &#1610;&# 1618;&#1607; &#1616;
&#1608;&#1614; &#1570;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1605; &#1614;
&#1608;&#1614; &#1571;&# 1614;&#1576; &#1615;&# 1608;&#1618;
&#1576;&#1614; &#1603;&# 1618;&#1585; &#1613;
&#1608;&#1614; &#1593;&# 1615;&#1605; &#1618;&# 1585;&#1614;
&#1608;&#1614; &#1593;&# 1615;&#1579; &#1618;&# 1605;&#1614; &#1575;&# 
1606;&#1614;
&#1608;&#1614; &#1571;&# 1614;&#1581; &#1618;&# 1587;&#1616; &#1576;&# 
1615;&#1607; &#1615;
&#1608;&#1614; &#1585;&# 1614;&#1575; &#1576;&# 1616;&#1593; &#1612;
&#1581;&#1614; &#1578;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1601;&#1614; &#1575;&# 1585;&#1614; &#1602;&# 1618;&#1578; &#1615;&# 
1607;&#1615; &#1605;&# 1618;

“Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam,
Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (rawi)
menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah denga
mereka”.
Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang
rawi :
Pertama : ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh
Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/243,
Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam
Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya
dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh
Al Huffazh 2/494. Dan ‘Amru bin ‘Ubaid ini adalah
gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan dalam
periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang
matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).
Kedua : Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh
Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma’il ini
dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca
: Tahdzibut Tahdzib.
Catatan :
Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya :
Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihr on, (ia
berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin
Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari
Al Hasan dari Anas beliau berkata :

&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1610;&# 1618;&#1578; &#1615;
&#1605;&#1614; &#1593;&# 1614;
&#1585;&#1614; &#1587;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1616;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1616;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1615;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616;
&#1608;&#1614; &#1570;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1605; &#1614;
&#1601;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1605; &#1618;
&#1610;&#1614; &#1586;&# 1614;&#1604; &#1618;
&#1610;&#1614; &#1602;&# 1618;&#1606; &#1615;&# 1578;&#1615;
&#1601;&#1616; &#1610;&# 1618;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1575;&#1614; &#1577;&# 1616;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1594;&#1614; &#1583;&# 1614;&#1575; &#1577;&# 1616;
&#1581;&#1614; &#1578;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1601;&#1614; &#1575;&# 1585;&#1614; &#1602;&# 1618;&#1578; &#1615;&# 
1607;&#1615;

“Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa
alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada
sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau”.
Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin
Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam
Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418. Karena ‘Abdul
Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari ‘Amru bin
‘Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy
dan Abu Ma’mar – dan beliau ini adalah orang yang
paling kuat riwayatnya dari ‘Abdul Warits-.
Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da’laj dari
Qotadah dari Anas bin Malik :

&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1610;&# 1618;&#1578; &#1615;
&#1582;&#1614; &#1604;&# 1618;&#1601; &#1614;
&#1585;&#1614; &#1587;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1616;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1616;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1615;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616;
&#1608;&#1614; &#1570;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1605; &#1614;
&#1608;&#1614; &#1582;&# 1614;&#1604; &#1618;&# 1601;&#1614;
&#1593;&#1615; &#1605;&# 1614;&#1585; &#1614;
&#1601;&#1614; &#1602;&# 1614;&#1606; &#1614;&# 1578;&#1614;
&#1608;&#1614; &#1582;&# 1614;&#1604; &#1618;&# 1601;&#1614;
&#1593;&#1615; &#1579;&# 1618;&#1605; &#1614;&# 1575;&#1606; &#1614;
&#1601;&#1614; &#1602;&# 1614;&#1606; &#1614;&# 1578;&#1614;

“Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan
dibelakang ‘umar lalu beliau qunut dan di belakang
‘Utsman lalu beliau qunut”.
Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin
dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di
atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung
untuk hadits Abu Ja’far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany
dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut,
beliau berkata : “Butuh dilihat keadaan Khalid apakah
bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak,
karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in dan Ad-Daruquthny
melemahkannya dan Ibnu Ma’ in berkata di (kesempatan
lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan
An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh).
Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah
yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad
Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang
matruk.
Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu,
perkataannya “Terus-menerus beliau qunut pada sholat
Subuh hingga beliau meninggalkan dunia”, itu tidak
terdapat dalam hadits Khal id. Yang ada hanyalah
“beliau (nabi) ‘alaihis Salam qunut”, dan ini adalah
perkara yang ma’ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah
terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia.
Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung,
bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid
(pendukung)”.
Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari
Dinar bin ‘Abdillah dari Anas bin Malik :

&#1605;&#1614; &#1575;
&#1586;&#1614; &#1575;&# 1604;&#1614;
&#1585;&#1614; &#1587;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1615;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1616;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1615;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616;
&#1608;&#1614; &#1570;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1605; &#1614;
&#1610;&#1614; &#1602;&# 1618;&#1606; &#1615;&# 1578;&#1615;
&#1601;&#1616; &#1610;&# 1618;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1575;&#1614; &#1577;&# 1616;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1589;&#1615; &#1576;&# 1618;&#1581; &#1616;
&#1581;&#1614; &#1578;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1605;&#1614; &#1575;&# 1578;&#1614;

“Terus-menerus Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa a
lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau
meninggal”.
Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari
jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.
Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama
Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang
terkenal. Dan Dinar bin ‘Abdillah, kata Ibnu ‘Ady :
“Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)”. Dan berkata
Ibnu Hibba n : “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik
perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di
dalam kitab kecuali untuk mencelanya”.
Kesimpulan pendapat pertama:
Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil
yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang
lemah dan tidak bisa dikuatkan.
Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa
dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil
akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus,
sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak
pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang
dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan
Ibnul Arabi.
1. Doa
2. Khusyu’
3. Ibadah
4. Taat
5. Menjalankan ketaatan.
6. Penetapan ibadah kepada Allah
7. Diam
8. Shalat
9. Berdiri
10. Lamanya berdiri
11. Terus menerus dalam ketaatan
Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam
Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur’an karya
Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.
Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap
qunut subuh terus-menerus itu sunnah.
Dalil Pendapat Kedua
Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat
Bukhary-Muslim :

&#1603;&#1614; &#1575;&# 1606;&#1614;
&#1585;&#1614; &#1587;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1615;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1616;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1615;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616;
&#1608;&#1614; &#1570;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1605; &#1614;
&#1610;&#1614; &#1602;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1615;
&#1581;&#1616; &#1610;&# 1618;&#1606; &#1614;
&#1610;&#1614; &#1601;&# 1618;&#1585; &#1614;&# 1594;&#1615;
&#1605;&#1616; &#1606;&# 1618;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1575;&#1614; &#1577;&# 1616;
&#1575;&#1604; &#1601;&# 1614;&#1580; &#1618;&# 1585;&#1616;
&#1605;&#1616; &#1606;&# 1614;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1602;&#1616; &#1585;&# 1614;&#1575; &#1569;&# 
1614;&#1577; &#1616;
&#1608;&#1614; &#1610;&# 1615;&#1603; &#1614;&# 1576;&#1617; &#1616;&# 
1585;&#1615;
&#1608;&#1614; &#1610;&# 1614;&#1585; &#1618;&# 1601;&#1614; &#1593;&# 1615;
&#1585;&#1614; &#1571;&# 1618;&#1587; &#1614;&# 1607;&#1615;
&#1587;&#1614; &#1605;&# 1616;&#1593; &#1614;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1615;
&#1604;&#1616; &#1605;&# 1614;&#1606; &#1618;
&#1581;&#1614; &#1605;&# 1616;&#1583; &#1614;&# 1607;&#1615;
&#1585;&#1614; &#1576;&# 1617;&#1614; &#1606;&# 1614;&#1575;
&#1608;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1603; &#1614;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1581;&#1614; &#1605;&# 1618;&#1583; &#1615;
&#1579;&#1615; &#1605;&# 1617;&#1614;
&#1610;&#1614; &#1602;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1615;
&#1608;&#1614; &#1607;&# 1615;&#1608; &#1614;
&#1602;&#1614; &#1575;&# 1574;&#1616; &#1605;&# 1612;
&#1575;&#1614; &#1604;&# 1604;&#1617; &#1614;&# 1607;&#1615; &#1605;&# 
1617;&#1614;
&#1571;&#1614; &#1606;&# 1618;&#1580; &#1616;
&#1575;&#1614; &#1604;&# 1618;&#1608; &#1614;&# 1604;&#1616; &#1610;&# 
1618;&#1583; &#1614;
&#1576;&#1618; &#1606;&# 1614;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1608;&#1614; &#1604;&# 1616;&#1610; &#1618;&# 
1583;&#1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1614;&# 1605;&#1614; &#1577;&# 1614;
&#1576;&#1618; &#1606;&# 1614;
&#1607;&#1616; &#1588;&# 1614;&#1575; &#1605;&# 1613;
&#1608;&#1614; &#1593;&# 1614;&#1610; &#1617;&# 1614;&#1575; &#1588;&# 1614;
&#1576;&#1618; &#1606;&# 1614;
&#1571;&#1614; &#1576;&# 1616;&#1610; &#1618;
&#1585;&#1614; &#1576;&# 1616;&#1610; &#1618;&# 1593;&#1614; &#1577;&# 1614;
&#1608;&#1614; &#1575;&# 1604;&#1618; &#1605;&# 1615;&#1587; &#1618;&# 
1578;&#1614; &#1590;&# 1618;&#1593; &#1614;&# 1601;&#1616; &#1610;&# 
1618;&#1606; &#1614;
&#1605;&#1616; &#1606;&# 1614;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1605;&#1615; &#1615;&# 1572;&#1618; &#1605;&# 
1616;&#1606; &#1616;&# 1610;&#1618; &#1606;&# 1614;
&#1575;&#1614; &#1604;&# 1604;&#1617; &#1614;&# 1607;&#1615; &#1605;&# 
1617;&#1614;
&#1575;&#1588; &#1618;&# 1583;&#1615; &#1583;&# 1618;
&#1608;&#1614; &#1591;&# 1618;&#1571; &#1614;&# 1578;&#1614; &#1603;&# 1614;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1609;
&#1605;&#1615; &#1590;&# 1614;&#1585; &#1614;
&#1608;&#1614; &#1575;&# 1580;&#1618; &#1593;&# 1614;&#1604; &#1618;&# 
1607;&#1614; &#1575;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616; &#1605;&# 1618;
&#1603;&#1614; &#1587;&# 1616;&#1606; &#1616;&# 1610;&#1618;
&#1610;&#1615; &#1608;&# 1618;&#1587; &#1615;&# 1601;&#1614;
&#1575;&#1614; &#1604;&# 1604;&#1617; &#1614;&# 1607;&#1615; &#1605;&# 
1617;&#1614;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1593;&#1614; &#1606;&# 1618;
&#1604;&#1616; &#1581;&# 1618;&#1610; &#1614;&# 1575;&#1606; &#1614;
&#1608;&#1614; &#1585;&# 1616;&#1593; &#1618;&# 1604;&#1575; &#1611;
&#1608;&#1614; &#1584;&# 1614;&#1603; &#1618;&# 1608;&#1614; &#1575;&# 
1606;&#1614;
&#1608;&#1614; &#1593;&# 1615;&#1589; &#1614;&# 1610;&#1617; &#1614;&# 
1577;&#1614;
&#1593;&#1614; &#1589;&# 1614;&#1578; &#1616;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1614;
&#1608;&#1614; &#1585;&# 1614;&#1587; &#1615;&# 1608;&#1618; &#1604;&# 
1614;&#1607; &#1615;
&#1579;&#1615; &#1605;&# 1617;&#1614;
&#1576;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1594; &#1614;&# 1606;&#1614; &#1575;
&#1571;&#1614; &#1606;&# 1614;&#1607; &#1615;
&#1578;&#1614; &#1585;&# 1614;&#1603; &#1614;
&#1584;&#1614; &#1604;&# 1616;&#1603; &#1614;
&#1604;&#1614; &#1605;&# 1617;&#1614; &#1575;
&#1571;&#1614; &#1606;&# 1618;&#1586; &#1614;&# 1604;&#1614;
: (( &#1604;&#1614; &#1610;&# 1618;&#1587; &#1614;
&#1604;&#1614; &#1603;&# 1614;
&#1605;&#1616; &#1606;&# 1614;
&#1575;&#1604; &#1571;&# 1614;&#1605; &#1618;&# 1585;&#1616;
&#1588;&#1614; &#1610;&# 1618;&#1569; &#1612;
&#1571;&#1614; &#1608;&# 1618;
&#1610;&#1614; &#1578;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1576;&#1614;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616; &#1605;&# 1618;
&#1571;&#1614; &#1608;&# 1618;
&#1610;&#1615; &#1593;&# 1614;&#1584; &#1617;&# 1616;&#1576; &#1614;&# 
1607;&#1615; &#1605;&# 1618;
&#1601;&#1614; &#1573;&# 1616;&#1606; &#1617;&# 1614;&#1607; &#1615;&# 
1605;&#1618;
&#1592;&#1614; &#1575;&# 1604;&#1616; &#1605;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 
1606;&#1614;
))

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa
sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat
kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan
mengangkat kepalanya (I’tidal) berkata : “Sami’allahu
liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau
berdoa dalaam keadaan berdiri. “Ya Allah selamatkanlah
Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin
Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kaum
mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu)
atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka
tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan
yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai
Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu, Dzakw an dan
‘Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau
meningalkannya tatkala telah turun ayat : “Tak ada
sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu
atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab
mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang
yang zalim”. (HSR.Bukhary- Muslim)

Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya
qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :
Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan
mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam
Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut
hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa
segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang
menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara
yang ghoib.
Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu
Hurairah, beliau berkata :

&#1608;&#1614; &#1575;&# 1604;&#1604; &#1607;&# 1616;
&#1604;&#1614; &#1571;&# 1614;&#1602; &#1618;&# 1585;&#1614; &#1576;&# 
1614;&#1606; &#1617;&# 1614;
&#1576;&#1616; &#1603;&# 1615;&#1605; &#1618;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1575;&#1614; &#1577;&# 1614;
&#1585;&#1614; &#1587;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1616;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1616;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;&#1615;
&#1593;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1607;&#1616;
&#1608;&#1614; &#1570;&# 1604;&#1616; &#1607;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1587;&# 1614;&#1604; &#1617;&# 1614;&#1605; &#1614;
&#1601;&#1614; &#1603;&# 1614;&#1575; &#1606;&# 1614;
&#1571;&#1614; &#1576;&# 1615;&#1608; &#1618;
&#1607;&#1615; &#1585;&# 1614;&#1610; &#1618;&# 1585;&#1614; &#1577;&# 1614;
&#1610;&#1614; &#1602;&# 1618;&#1606; &#1615;&# 1578;&#1615;
&#1601;&#1616; &#1610;
&#1575;&#1604; &#1592;&# 1617;&#1615; &#1607;&# 1618;&#1585; &#1616;
&#1608;&#1614; &#1575;&# 1604;&#1618; &#1593;&# 1616;&#1588; &#1614;&# 
1575;&#1569; &#1616;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1570;&#1582; &#1616;&# 1585;&#1614; &#1577;&# 1616;
&#1608;&#1614; &#1589;&# 1614;&#1604; &#1575;&# 1614;&#1577; &#1616;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1589;&#1615; &#1576;&# 1618;&#1581; &#1616;
&#1608;&#1614; &#1610;&# 1614;&#1583; &#1618;&# 1593;&#1615; &#1608;&# 1618;
&#1604;&#1616; &#1604;&# 1618;&#1605; &#1615;&# 1572;&#1618; &#1605;&# 
1616;&#1606; &#1616;&# 1610;&#1618; &#1606;&# 1614;
&#1608;&#1614; &#1610;&# 1614;&#1604; &#1618;&# 1593;&#1614; &#1606;&# 1615;
&#1575;&#1604; &#1618;&# 1603;&#1615; &#1601;&# 1617;&#1614; &#1575;&# 
1585;&#1614; .

Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata :
“Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk
kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa
alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut
pada shalat Dhuhur, Isya’ dan Shubuh. Beliau mendoakan
kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat
untuk orang-orang kafir”.

Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh.
Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu
Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi
shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut
nazilah .
Dalil Pendapat Ketiga
Satu : Hadits Sa’ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja’i

&#1602;&#1615; &#1604;&# 1618;&#1578; &#1615;
&#1604;&#1571; &#1614;&# 1576;&#1616; &#1610;&# 1618; :
“&#1610;&#1614; &#1575;
&#1571;&#1614; &#1576;&# 1614;&#1578; &#1616;
&#1573;&#1616; &#1606;&# 1617;&#1614; &#1603;&# 1614;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1610;&# 1618;&#1578; &#1614;
&#1582;&#1614; &#1604;&# 1618;&#1601; &#1614;
&#1585;&#1614; &#1587;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1604;&#1615;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607; &#1589;&#1604; &#1609;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;
&#1593;&#1604; &#1610;&# 1607;
&#1608;&#1570; &#1604;&# 1607;
&#1608;&#1587; &#1604;&# 1605;
&#1608;&#1614; &#1571;&# 1614;&#1576; &#1616;&# 1610;&#1618;
&#1576;&#1614; &#1603;&# 1618;&#1585; &#1613;
&#1608;&#1614; &#1593;&# 1615;&#1605; &#1614;&# 1585;&#1614;
&#1608;&#1614; &#1593;&# 1615;&#1579; &#1618;&# 1605;&#1614; &#1575;&# 
1606;&#1614;
&#1608;&#1614; &#1593;&# 1614;&#1604; &#1616;&# 1610;&#1614;
&#1585;&#1614; &#1590;&# 1616;&#1610; &#1614;
&#1575;&#1604; &#1604;&# 1607;
&#1593;&#1614; &#1606;&# 1618;&#1607; &#1615;&# 1605;&#1618;
&#1607;&#1614; &#1607;&# 1615;&#1606; &#1614;&# 1575;
&#1608;&#1614; &#1576;&# 1616;&#1575; &#1604;&# 1618;&#1603; &#1615;&# 
1608;&#1618; &#1601;&# 1614;&#1577; &#1616;
&#1582;&#1614; &#1605;&# 1618;&#1587; &#1614;
&#1587;&#1616; &#1606;&# 1616;&#1610; &#1618;&# 1606;&#1614;
&#1601;&#1614; &#1603;&# 1614;&#1575; &#1606;&# 1615;&#1608; &#1618;&# 1575;
&#1576;&#1614; &#1602;&# 1618;&#1606; &#1615;&# 1578;&#1615; &#1608;&# 
1618;&#1606; &#1614;
&#1601;&#1610; &#1616;
&#1575;&#1604; &#1601;&# 1614;&#1580; &#1618;&# 1585;&#1616;”
&#1601;&#1614; &#1602;&# 1614;&#1575; &#1604;&# 1614; :
“&#1571;&#1614; &#1610;&# 1618;
&#1576;&#1614; &#1606;&# 1616;&#1610; &#1618;
&#1605;&#1615; &#1581;&# 1618;&#1583; &#1614;&# 1579;&#1612;” .

“Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai ayahku, engkau
sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa
alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, ‘Umar,
‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di
Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut
pada sholat subuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai
anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru
(bid’ah)”. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402,
An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu
Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy
no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101
no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany
8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs
an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam
Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq
no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan
dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil
no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad
mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.
Dua : Hadits Ibnu ‘Umar

&#1593;&#1614; &#1606;&# 1618;
&#1571;&#1614; &#1576;&# 1616;&#1610; &#1618;
&#1605;&#1616; &#1580;&# 1618;&#1604; &#1614;&# 1586;&#1616;
&#1602;&#1614; &#1575;&# 1604;&#1614; :
“&#1589;&#1614; &#1604;&# 1617;&#1614; &#1610;&# 1618;&#1578; &#1615;
&#1605;&#1614; &#1593;&# 1614;
&#1575;&#1616; &#1576;&# 1618;&#1606; &#1616;
&#1593;&#1615; &#1605;&# 1614;&#1585; &#1614;
&#1589;&#1614; &#1604;&# 1575;&#1614; &#1577;&# 1614;
&#1575;&#1604; &#1589;&# 1617;&#1615; &#1576;&# 1618;&#1581; &#1616;
&#1601;&#1614; &#1604;&# 1614;&#1605; &#1618;
&#1610;&#1614; &#1602;&# 1618;&#1606; &#1615;&# 1578;&#1618;” .
&#1601;&#1614; &#1602;&# 1615;&#1604; &#1618;&# 1578;&#1615;
:
“&#1570;&#1604; &#1603;&# 1616;&#1576; &#1614;&# 1585;&#1615;
&#1610;&#1614; &#1605;&# 1618;&#1606; &#1614;&# 1593;&#1615; &#1603;&# 1614;”,
&#1602;&#1614; &#1575;&# 1604;&#1614; :
“&#1605;&#1614; &#1575;
&#1571;&#1614; &#1581;&# 1618;&#1601; &#1614;&# 1592;&#1615; &#1607;&# 1615;
&#1593;&#1614; &#1606;&# 1618;
&#1571;&#1614; &#1581;&# 1614;&#1583; &#1613;
&#1605;&#1616; &#1606;&# 1618;
&#1571;&#1614; &#1589;&# 1618;&#1581; &#1614;&# 1575;&#1576; &#1616;&# 
1610;&#1618;” .

” Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama
Ibnu ‘Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka
saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu
(tidak melakukannya) . Beliau berkata : saya tidak
menghafal hal tersebut dari para shahabatku”.
Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1\246, Al-Baihaqy 2\213
dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa’id
2\137 dan Al-Haitsamy berkata :”rawi-rawinya tsiqoh”.
Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan
disyari’atkannya mengkhususkan qunut pada sholat
shubuh secara terus-menerus.
Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak
dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan
oleh Ibnu ‘Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu
Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa berkata : “dan
demikian pula selain Ibnu ‘Umar dari para shahabat,
mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara
baru yang bid’ah”.
Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat
disyari’atkannya qunut shubuh dari beberapa orang
shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan
tersebut terbagi dua :
1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari
nukilan-nukilan tersebut.
2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut
shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa
dipakai berhujjah.
Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas
maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa
disyari’atkannya qunut shubuh secara terus-menerus
dengan membaca do’a qunut “Allahummahdinaa fi man
hadait…….sampai akhir do’a kemudian diaminkan oleh
para ma’mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara
terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat
dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak
sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah
ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka
akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi
kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.
Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah
dalam Z adul Ma’ad.
Kesimpulan
Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat
pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehinga
memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara
terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid’ah tidak
pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.
Wallahu a’lam.
Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al
Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof
2/173, Syarh Ma’any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh
1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi’
: 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim
Ath Thoyyib), Majm u’ Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul
Ma’ad 1/271-285.

Sumber:
www.an-nashihah. com

Kajian Kitab Minhajus Saalikin » 

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
Kirim email ke: syiar-islam- subscribe@ yahoogroups. com

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new Car Finder 
tool.
http://autos. yahoo.com/ carfinder/




      
____________________________________________________________________________________
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles. Visit the 
Yahoo! Auto Green Center.
http://autos.yahoo.com/green_center/ 

[Non-text portions of this message have been removed]



Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Syiar Islam.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke