Sdr.Adi,

terima kasih atas penjelasannya, dan saya tertarik dengan motto anda
"Mendahulukan ilmu kemudian amal"...
bisa dijelaskan :

1. Apakah kalau tidak tahu ilmunya maka jangan ber-amal (dilakukan)?
2. Apakah hadits dhoif benar-2 tidak boleh di-amalkan, dan sudah
dipastikan tidak diterima oleh Alloh SWT ? adakah dalil shohih yang
melarang beramal dengan hadits dhoif ? 
3. bagaimanakah pengertian hadits dhoif ?
4. yang satu ini agak menyimpang, tetapi masih berkaitan dengan motto
yang sdr tulis, yaitu saya pernah dengar ada yang mengatakan bahwa
khutbah jum'at dengan bahasa indonesia termasuk bid'ah ? adakah hadits
shohih yang membolehkannya ?

terima kasih



--- In [email protected], "Nuryadin, Adi" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,
> 
>  
> 
> Mas iwan yang insyaalah dirahmati allah subhanahu wataala, Walau saya
> baru belajar tentang islam, saya mencoba ikut urung rembug  
> 
> Menjawab pertanyaaan mas iwan =
> 
>  
> 
> 1.    sebelum menjawab pertanyaan ini,  dalam al-qu'an kita diperintah
> mengecheck ( crosscheck ) kebenaran berita yang disampaikan orang lain,
> 
>  
> 
>        apalagi hadits,,pasti pasti ada sanad dan riwayatnya dari sahabat
> dan ditulis di kitab apa ? 
> 
>  
> 
>        mas iwan bisa mengecheck kebenarannya atau menanyakan kepada
> ahlinya ( ahli hadits tentunya )
> 
>              dan derajat keilmuan & keshahihan berita yang disampaikan
> bisa dilihat dari kebenarannya.
> 
>  
> 
> Yang saya ketahui , sepanjang saya mendengar ceramah beliau ustd Abdul
> Hakim bin Amir Abdat, beliau adalah salah satu ahli hadits di Indonesia
> 
> Namun  beliau tidak maksum ( tidak lepas dari kesalahan dan khilaf )
> 
>  
> 
> Apabila kita mendengar hadits yang sahih dari siapapun ( termasuk dari
> anak kecil sekalipun )
> 
> Maka wajib diamalkan, dan hadits yang lebih lemah/ dhoif  lebih baik
> ditinggalkan.
> 
>  
> 
> Jadi masalahnya bukan siapa yang menyampaikan dalam hal ini, tapi apa
> yang disampaikan, kalau kebenaran ( al qur'an dan hadits note shahih )
> 
> Maka wajib kita terima, kecuali kita ingin menjadi golongan orang2 yang
> apabila sudah datang kebenaran kepadanya namun membelakanginya.
> 
>  
> 
> Kita tidak harus mengikuti ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat kalau
> menyimpang dari kebenaran ( al qur'an dan hadits note shahih )
> 
>  
> 
> Dan dalam mengikuti ustadz hakim pun kita tidak boleh taklid buta (
> mengikuti dengan membabi-buta ) tapi harus disharing dengan ilmu
> 
>  
> 
> Mendahulukan ilmu kemudian amal
> 
>  
> 
>  
> 
> 2.    bagi saya pribadi, tidak ada konsekuensi  apapun kalau kita
> tidak mengikuti atau sepaham dengan ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat,
> 
>  
> 
> saya pribadi apabila kita memperoleh kebenaran ( al qur'an dan hadits
> note shahih ) dari siapapun termasuk ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat,
> 
> apabila berasal dari rasulullah sallahu alaihi wasallam ( hadits dan
> sunnah ) saya akan berusaha melaksanakannya dengan maksimal, 
> 
> dan menjauhkan diri dari bid'ah.
> 
>  
> 
> Afwan kalau ada salah kata
> 
>  
> 
> Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,
> 
> adi
> 


Kirim email ke