semoga bermamfaat......
**
**
*Kata "Kami" dalam Tafsir Al- Quran*

*Konsultasi & FAQ <http://swaramuslim.net/islam/weblog.php?id=C0_46_4> Oleh
: Redaksi <http://swaramuslim.net/> 11 Mar 2004 - 10:55 am*

Assalamu'alaikum Wr Wb,
Semoga Ustadz selalu dalam lindungan Allah SWT .... dan tetap istiqomah
dalam berdakwah amiiiiiiiiiiiin ..........

Ustadz, saya mempunyai suatu pertanyaan, dimana pertanyaan ini pernah di
lontarkan oleh salah satu teman saya yang non muslim. Berhubung pengetahuan
saya tentang Islam yang masih sangat minim pada waktu itu saya tidak bisa
menjawabnya. Pada kesempatan ini saya ingin menanyakan kpd Ustadz. Teman
saya itu mengatakan kenapa didalam tafsir Al-Quran selalu menggunakan kata
ganti " kami " sebagai kata ganti Allah ? Sedangkan kami itu berarti jamak?
Pada saat itu saya hanya mengatakan kalau kami itu bukan berarti jamak, krn
Islam adalah agama tauhid yang murni tapi teman saya itu tetep ngotot kenapa
menggunakan kata ganti kami. Mohon bantuan ustadz.......

Wassallam Wr Wb ........ Hamba Allah

JAWAB
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Dalam bahasa Arab, dhamir 'nahnu' adalah bentuk kata ganti orang pertama
dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu nahwu,
maknanya bisa saja bukan kami tetapi aku, saya dan lain-lainnya.

Terkadang kita sering terjebak dengan pertanyaan seperti ini. Model
pertanyaan seperti ini bisa jadi berangkat dari kepolosan dan keluguan,
namun di sisi lain bisa jadi merupakan usaha untuk membodohi umat Islam yang
awam dengan bahasa arab dengan menggunakan pertanyaan menjebak ini. Hal ini
tidak aneh dan sudah sering dilakukan. Dengan bekal kemampuan bahasa arab
seadanya, pertanyaan seperti ini sering dijadikan senjata buat umat Islam
yang minim ilmunya.

Rasa Bahasa
Tapi bagi mereka yang memahami bahasa Arab sebagai bahasa yang kaya dengan
makna dan kandungan seni serta balaghah dan fashohahnya, pertanyaan seperti
ini terkesan lucu dan jenaka. Bagaimana mungkin aqidah Islam yang sangat
logis dan kuat itu mau ditumbangkan cuma dengan bekal logika bahasa yang
separo-separo.
Dalam ilmu bahasa arab, penggunaan banyak istilah dan kata itu tidak selalu
bermakna zahir dan apa adanya. Sedangkan Al-Quran adalah kitab yang penuh
dengan muatan nilai sastra tingkat tinggi.

Kata 'Nahnu` tidak harus bermakna arti banyak, tetapi menunjukkan keagungan
Allah SWT. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh Perbandingan
Dalam bahasa Indonesia ada juga penggunaan kata "Kami" tapi bermakna
tunggal. Misalnya seorang kepala sekolah dalam pidato sambutan pesta
perpisahan anak sekolah berkata,"Kami sebagai kepala sekolah berpesan . . .
". Padahal yang jadi kepala sekolah hanya dia seorang dan tidak
beramai-ramai, tapi dia bilang "Kami". Lalu apakah kalimat itu menunjukkan
bahwa kepala sekolah sebenarnya ada banyak atau hanya satu ?. Kata kami
dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai
kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing
yang tidak mengerti rasa bahasa Indonesia. Atau mungkin juga karena di barat
tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.

Selain kata 'Nahnu", ada juga kata 'antum' yang sering digunakan untuk
menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah
kalian (jamak). Secara rasa bahasa, bila kita menyapa lawan bicara kita
dengan panggilan 'antum', maka ada kesan sopan dan ramah serta penghormatan
ketimbang menggunakan sapaan 'anta'.

Kalau teman diskusi anda yang nasrani itu tidak bisa memahami urusan rasa
bahasa ini, harap maklum saja, karena bible mereka memang telah kehilangan
rasa bahasa. Bahkan bukan hanya kehilangan rasa bahasa, tapi juga
orisinalitas sebuah kitab suci. Karena sudah merupakan terjemahan dari
terjemahan yang telah diterjemahkan dari terjemahan sebelumnya. Ada sekian
ribu versi bible yang antara satu dan lainnya bukan sekedar tidak sama tapi
juga bertolak belakang. Jadi wajar bila Bible mereka itu tidak punya
balaghoh, logika, rasa dan gaya bahasa. Dia adalah tulisan karya manusia
yang kering dari nilai sakral.

Contoh lain
Di dalam Al-Quran ada penggunaan yang kalau kita pahami secara harfiyah akan
berbeda dengan kenyataannya. Misalnya penggunaan kata 'ummat'. Biasanya kita
memahami bahwa makna ummat adalah kumpulan dari orang-orang. Minimal
menunjukkan sesuatu yang banyak. Namun Al-Quran ketika menyebut Nabi Ibrahim
yang saat itu hanya sendiri saja, tetap disebut dengan ummat.

Sesungguhnya Ibrahim adalah ummat yang dapat dijadikan teladan lagi patuh
kepada Allah dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang
yang mempersekutukan. (QS. An-Nahl : 120)

Wassalam,

Ahmad Sarwat, Lc
Konsultasi Eramuslim
------------------------------

Kata KAMI dalam hadits
Assalamualaikum. wr. wb.
*Pertanyaan :* Saya seorang muallaf, tp ketika menjadi muallaf, saya masih
kecil (sekarang umur saya 17 thn), dan itu pun hanya ikut mama saya yang
menikah kembali dengan seorang muslim, maka dari itu saya tidak tahu isi al
quran (mama dan papa tiri saya tidak mengajarkan ttg islam pada saya, krn
mrk juga tdk alim, malah tdk pernah sholat). Entah kenapa, akhir2 ini saya
jadi kepingin mempelajari islam. Kira2 2 hari yang lalu, saya meminjam
Hadist pada teman saya (tdk ada hadist di rmh saya, yang ada hanya al
quran). Setelah saya baca (baru sampai surat al baqarah), saya banyak
menemukan kata2 "Kami" didalamnya, misalnya : "Kami masukkan ke dalam...."
atau "Kami turunkan......" Yang membuat saya bingung, mengapa Allah menyebut
dirinya dengan sebutan "Kami"?? mengapa bukan "Aku" ??? Mohon dijawab
sejelas2nya, karena saya sangat membutuhkan bantuan dalam memahami islam.
terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Anggi
Palembang
2004-08-13 11:18:16

Jawaban:
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba?d.
Dalam bahasa Arab, dhamir ?nahnu? adalah bentuk kata ganti orang pertama
dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu nahwu,
maknanya bisa saja bukan kami tetapi aku, saya dan lain-lainnya.

Terkadang kita sering terjebak dengan pertanyaan seperti ini. Model
pertanyaan seperti ini bisa jadi berangkat dari kepolosan dan keluguan,
namun di sisi lain bisa jadi merupakan usaha untuk membodohi umat Islam yang
awam dengan bahasa arab dengan menggunakan pertanyaan menjebak ini. Hal ini
tidak aneh dan sudah sering dilakukan.

Kata ?Nahnu` tidak harus bermakna arti banyak, tetapi menunjukkan keagungan
Allah SWT. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah. Sebenarnya dalam bahasa
Indonesia ada juga penggunaan kata ?Kami? tapi bermakna tunggal. Misalnya
seorang kepala sekolah dalam pidato sambutan pesta perpisahan anak sekolah
berkata,?Kami sebagai kepala sekolah berpesan . . . ?. Padahal yang jadi
kepala sekolah hanya dia seorang dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang
?Kami?. Lalu apakah kalimat itu menunjukkan bahwa kepala sekolah sebenarnya
ada banyak atau hanya satu ?.

Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan
nilai kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang
asing yang tidak mengerti rasa bahasa Indonesia. Atau mungkin juga karena di
barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.

Selain kata ?Nahnu?, ada juga kata ?antum? yang sering digunakan untuk
menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah
kalian (jamak). Secara rasa bahasa, bila kita menyapa lawan bicara kita
dengan panggilan ?antum?, maka ada kesan sopan dan ramah serta penghormatan
ketimbang menggunakan sapaan ?anta?.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=9468


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke