----- Original Message ----- 
From: oke 
To: [EMAIL PROTECTED] ; deny multi ; novly 
Sent: Wednesday, August 01, 2007 6:41 PM
Subject: Kisah pendeta senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam : bermimpi 
bertemu Rasul


Ya Tuhanku... Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku... sungguh telah tertutup 
semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu... Janganlah Engkau halangi aku 
mengetahui kebenaran... manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya 
Tuhanku... jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan... tunjukkan kepadaku 
jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar...

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu 
dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang 
mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu 
tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang 
duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. 


Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang 
menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke 
arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana 
aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-'Alam al-Islami 
di sana. 



Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang 
hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku 
menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan 
santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. 

Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat 
dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar 
dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya 'Sily.' Aku dapat 
bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama 
Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta 
ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting. 

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama 
temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah 
sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang 
petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di 
kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. 

Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah 
tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku 
katakan, "Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?" ia tersenyum 
dan berkata, "Ya, tentu saja boleh." 

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, 
kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.! 

Sily berkata, "Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat 
untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga 
salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku 
yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang 
mereka subsidi. 

Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program 
tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan 
berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di 
kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk 
sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu 
memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. 

Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang 
hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit 
di antara pendeta-pendeta lainnya. 

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa 
hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan! 

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang 
berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih 
yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si 
penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan 
agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan 'agama orang Arab.' Kami 
tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. 

Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat 
orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana 
yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang 
Islam yang miskin di Afrika Selatan. 

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, "Bukankah anda seorang pendeta?" Aku 
jawab, "Benar." Lantas ia bertanya kepadaku, "Siapa Tuhanmu?" Aku katakan, 
"Al-Masih." Ia kembali berkata, "Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di 
dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, 'Aku adalah Allah atau 
aku anak Allah. Maka sembahlah aku'." 

Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat 
menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan 
mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan 
jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak 
menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata 
bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. 

Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah 
bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini 
tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil 
menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa 
arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun 
rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah. 

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. 
Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka 
tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan 
ucapan, "Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan 
memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab." Aku katakan, "Kalau begitu, coba 
beri jawabannya!" Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun 
yang mampu memberikan jawaban. 

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku 
berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak 
sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di 
hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam 
gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan 
bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh. 

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk 
di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke 
langit seraya berdoa. 

Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini 
bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, "Ya Tuhanku... Wahai Dzat yang telah 
men-ciptakanku... sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali 
pintuMu... Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran... manakah yang 
hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku... jangan Engkau biarkan aku dalam 
kebimbangan... tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang 
benar..." lantas akupun tertidur. 

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat 
luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah 
ruangan tersebut muncul seorang lelaki. 

Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya 
dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang 
tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, "Wahai Ibrahim!" 
Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun 
di ruangan itu. 

Lelaki itu berkata, "Kamu Ibrahim... kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah 
engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?" Aku jawab, "Benar." Ia berkata, 
"Lihat ke sebelah kananmu!" Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana 
ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan 
mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau 
mengetahui kebenaran!" Lanjut lelaki itu. 

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan 
menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul 
pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu 
berada. 

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, 
sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini 
semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan 
mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa 
kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban 
putih berada. 

Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, 
mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di 
kota Johannesburg. 

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di 
rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. 
Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. 
Aku katakan, "Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah 
yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat." Lalu aku 
mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian 
dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu. 

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. 
Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku 
mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, "Selamat datang ya 
Ibrahim!" Aku terperanjat mendengarnya. 

Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan 
ucapan-nya, "Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari 
kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai 
Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam." Aku katakan, "Benar. Aku sedang mencari 
kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku 
mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. 

Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?" Ia menjawab, "Dia 
adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW." Sulit 
bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku 
peluk dia dan aku katakan kepadanya, "Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian 
yang datang menunjukiku agama yang benar?" Ia berkata, "Benar." 

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah 
memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia 
mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi 
untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. 

Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. 
Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, "Demi 
Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa 
para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah." 
Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku 
lihat. 

Aku berucap dalam hati, "Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan 
kepadaku agama yang benar." Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan 
keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis 
sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT. 

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama 
mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka 
mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat 
gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, 
kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang 
muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi 
seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, 
sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria. 

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan 
teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai 
pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar 
diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah 
meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, 
"Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab." 

Aku katakan, "Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. 
Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk 
menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang 
Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang 
benar dan memeluk Islam." Mereka semua terdiam. 

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, 
kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, "Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk 
tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar 
pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan 
pangkat tertinggi di gereja." 

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, "Apakah kalian 
akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan 
pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku." Kemudian aku menasehati 
mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua 
orang dari kalangan pendeta. 

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat 
dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin 
agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan 
tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka," Sily mengakhiri 
kisahnya. 

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, 
disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang 
lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da'i Ibrahim Sily berasal dari 
kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da'i Ibrahim 
Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam 
agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. 

Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan 
suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar'i I 
yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan 
tepatnya ke kota Cape Town. 

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma'had Arqam, 
Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam 
untuknya dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?" Ia 
menjawab, "Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk 
berdakwah kepada Allah. 

Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka 
dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam 
agama Islam." 

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang 
hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju 
suatu daerah... medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. 

Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak 
meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku 
merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. 
Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, "Kalian manusia yang mempermainkan 
dakwah, ti-dakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!" 

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal... kami berjalan lamban... kami 
telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da'i 
Ibrahim Sily, Da'i berbangsa Spanyol Ahmad Sa'id berkorban, berjihad dan 
bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (alsofwah)

(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang 
dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di 
Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, 
TELP.021-4701616 dan swaramuslim.net) 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke