Kiat 11 : Perhatikanlah Kecenderungannya
DI ANTARA metoda yang efektif pada banyak situasi -tidak selalu- adalah
memenuhi kecenderungan-kecenderungan anak dan membuatnya puas. Karena di usia
kanak-kanak, seseorang ingin selalu merasa puas dan ingin segala kemauannya
terpenuhi. Jika kebutuhan dan kemauannya terpenuhi maka perasaannya akan lega
dan gembira. Dia akan melaju dengan penuh dinamika. Tapi bila keinginannya
tidak terpenuhi maka ia akan kesal, marah, dan bertindak bodoh dengan melakukan
sesuatu yang tidak disukai orang tuanya.
Rasulullah saw. telah membuat landasan besar psikologi dalam menyelesaikan
banyak masalah-masalah psikologis anak. Dan para sahabat telah merespon dan
melaksanakan kaidah tersebut. Ibnu 'Asakir meriwayatkan dari Watsilah Bin
Al-Asqa' -semoga Allah meridhainya- bahwa Rasulullah saw. keluar menemui Utsman
Bin Mazh'un yang tengah membawa anak kecil yang dibalut. "Ini anakmu, Utsman?"
tanya Rasulullah saw. "Ya, benar," jawabnya. "Kamu mencintainya? Tanya
Rasulullah lagi. "Tentu saja ya Rasul." Jawabnya. "Sesungguhnya barangsiapa
membuat senang anak kecil dari keturunannya hingga ia puas maka Allah akan
membuatnya senang pada hari kiamat," kata Rasulullah saw.
Kiat 12 : Memilih Waktu yang Tepat untuk Menasihati
PEMILIHAN waktu yang tepat mempunyai peran signifikan untuk mencapai hasil
dalam mengarahkan anak pada apa yang diinginkan orang tuanya dan dalam
mengajarinya tentang apa yang dicintainya.
Jika orang tua memilih waktu yang tepat dan mengesankan bagi anak maka akan
mempermudah jalan dan menghemat tenaga dalam proses pendidikan.
Rasulullah saw. sangat cermat dalam memilih dan memanfaatkan waktu dan tempat
untuk mengajari pemikiran anak dan meluruskan perilakunya yang salah, serta
membangun perilaku yang lurus dan benar. Beliau telah mengajukan kepada kita
tiga waktu utama untuk mengarahkan anak. Waktu-waktu itu adalah:
a. Saat Rekreasi, dalam Perjalanan, di atas Kendaraan
Hadits Ibnu 'Abbas -yang diriwayatkan At-Tir-midzi, mengatakan,
"Aku berada di belakang Rasulullah saw, pada suatu hari. Lalu ia mengatakan,
Wahai anakku..." (Al-Hadits).
Itu menunjukkan bahwa nasehat Nabi saw. itu dilakukan di perjalanan saat
mereka berdua, terkadang berjalan kaki terkadang pula naik kendaraan. Nasihat
itu tidak hanya dilakukan di kamar yang terbatas melainkan di udara terbuka di
mana jiwa si anak memiliki kesiapan lebih kuat untuk menerimanya.
Riwayat Al-Hakim memperkuat bahwa perjalanan mereka di atas kendaraan. Ibnu
'Abbas mengatakan, "Nabi saw. diberi hadiah seekor keledai kemudian beliau
menungganginya, dengan menggunakan tali. Beliau memboncengku di belakangnya dan
berjalan bersamaku, lalu menoleh kepadaku seraya mengatakan, 'Wahai anakku.'
Aku menjawab, 'Ya Rasulullah.' Beliau bersabda, 'peliharalah (agama) Allah,
niscaya Dia akan memeliharamu'." (Al-Hadits)
Sampai-sampai Rasulullah saw. menyampaikan sesuatu yang bersifat rahasia
kepada seorang anak di perjalanan, agar ia menjaganya. Itu tidak lain karena si
anak akan sangat terkesan dalam menerima hal itu dalam kondisi seperti itu.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah Bin Ja'far -semoga Allah meridhai
mereka, "Rasulullah saw. memboncengku di belakangnya kemudian membisikan
sesuatu yang aku tidak pernah sampaikan kepada siapa pun."
Rasulullah saw menggunakan perjalanan sebagai kesempatan untuk menanamkan
aqidah tauhid dan aqidah iman kepada taqdir, mendidiknya agar senantiasa
optimis dan berani dalam menghadapi kehidupan. Sehingga kelak ia menjadi orang
yang berguna bagi umatnya. Beliau juga mengajarkan bahwa manusia diperintahkan
untuk menaati Allah dan menjauhi kemaksiatan. Dan bahwa Allah swt. akan
menyelamatkannya saat terjadi kesulitan jika ia menunaikan hak Allah dan hak
manusia dalam keadaan lapang, sehat, dan berkecukupan.
Jadi dapatlah kita katakan bahwa waktu perjalanan adalah kesempatan yang baik
untuk menyampaikan arahan dan meluruskan kesalahan-kesalahan yang dilakukan si
anak dalam kehidupan keseharian-nya.
b. Saat Makan
Pada saat makan ini anak akan memperlihatkan watak aslinya dan tak berdaya
menghadapi keinginan untuk makan. Karena itu, kadang-kadang ia berperilaku
buruk dan merusak tatakrama. Jika orangtua tidak duduk bersama mereka secara
terus menerus saat mereka makan dan meluruskan kesalahan-kesalahan mereka maka
si anak akan tetap membawa bibit-bibit kebiasaan buruk.
Hal lain, jika orang tua tidak pernah menemani mereka saat makan ia akan
kehilangan kesempatan baik untuk memberikan pengajaran kepadanya. Adalah
Rasulullah saw. makan bersama anak-anak. Jika menyaksikan sejumlah kesalahan
maka beliau meluruskanya dengan cara yang simpatik yang dapat berpengaruh pada
jiwa dan akal mereka.
Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Umar Bin Abi Salamah -semoga Allah
meridhainya- ia mengatakan, "Dulu aku adalah anak kecil yang biasa berada di
kamar Rasulullah saw. Ketika tanganku mau menyuapkan makanan, beliau bersabda,
'Nak, sebut-lah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa
yang dekat denganmu'."
Dalam hadits riwayat Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban, Rasulullah saw.
bersabda, "Mendekatlah hai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan
kananmu, dan makanlah apa yang dekat denganmu."
Dalam riwayat ini Anda temukan bahwa Rasulullah saw. mengundang anak itu
makan bersamanya. Dan itu dilakukannya dengan lemah lembut: "Mendekatlah".
Kemudian beliau mengarahkannya pada cara dan adab makan.
Para sahabat pun, disertai anak-anaknya, biasa menghadiri walimah-walimah
terutama yang dihadiri Rasulullah saw. Dalam acara seperti ini mereka belajar
yang bermanfaat dan adab yang banyak, sehingga mereka membangun kepribadian
sedikit demi sedikit
c. Waktu Sakit
Sakit akan melunakkan hati orang dewasa yang keras apalagi hati anak-anak
yang memang masih penuh kelembutan dan mempunyai kesiapan untuk merespon. Anak,
saat dia sakit, mempunyai dua sifat sekaligus yang menjadi bekal untuk
meluruskan kesalahan-kesalahan perilaku maupun keyakinan. Pertama adalah fitrah
masa kanak-kanak dan kedua adalah sifat kelembutan hati dan jiwa saat sakit.
Rasulullah saw. telah mengarahkan kita dalam hal ini. Beliau menjenguk anak
Yahudi yang sakit dan diajaknya masuk Islam. Ternyata kunjungan Rasulullah saw
itu merupakan pembuka hidayah bagi anak
Bukhari meriwayatkan dari Anas -semoga Allah meridhainya- berkata, "Seorang
anak Yahudi yang melayani Rasulullah saw. jatuh sakit. Maka Rasulullah saw.
datang untuk membezuknya. Rasulullah saw duduk dekat kepalanya seraya
mengatakan, 'Masuk Islamlah.' Lalu anak itu memandang ayahnya yang ada
disisinya. Ayahnya mengatakan, Ikutilah Abal-Qasim (Nabi Muhammad saw).' Maka
anak itu pun masuk Islam dan Rasulullah saw keluar sambil mengatakan, 'Segala
puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka'.
Di sini kita melihat bahwa anak itu biasa melayani Rasulullah saw. Namun
demikian beliau tidak menyerunya untuk masuk Islam kecuali saat beliau
menemukan waktu yang tepat untuk itu Karenanya kita harus memilih waktu yang
tepat untuk mengarahkan anak-anak kita.
Kiat 13 : Bertahap dalam Menyampaikan Nasihat, Tugas dan Perintah
DARI hadits yang lalu, "Perintahlah anakmu shalat saat di berumur tujuh tahun
dan pukullah mereka saat dia berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika dia
tidak melaksanakannya) saat umur mereka telah mencapai sepuluh tahun," kita
dapat mengambil satu prinsip penting yang berpengaruh dalam jiwa anak. Prinsip
itu adalah : bertahap dan tidak menyerahkan berbagai persoalan kepadanya secara
sekailgus. Setiap fase mempunyai masanya sendiri. Shalat saja yang merupakan
tiang agama melewati tiga fase.
Fase pertama, sejak perjalanan awal hingga usia tujuh tahun adalah masa di
mana ia menyaksikan orangtuanya shalat lalu ia segera mengikutinya. Jika
orangtuanya melatihnya terus-menerus maka akan berbuah kebaikan.
Fase kedua, masa diperintah. Dan ini berlangsung dari usia tujuh hingga
sepuluh tahun. Pada masa ini ibu dan bapaknya memberikan perintah-perintah dan
memintanya untuk melaksanakan shalat.
Fase ketiga, masa layak untuk dihukum. Ini dimulai dari usia sepuluh. Pada
usia ini baru si anak dipukul bila tidak mau melaksanakan shalat.
Langkah-langkah yang bertahap ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap jiwa
anak. Dengan cara itu anak akan mudah merespon segala perintah. Sebab dia masih
sangat hijau sehingga perlu ada proses yang bertahap untuk memindahkannya dari
satu fase ke fase berikutnya. Perencanaan untuk mencapai tujuan apa pun,
betapapun ingin dicapai dengan cepat, namun tetap harus melewati fase-fase dan
langkah-langkah yang dirancang oleh kedua orangtua dan bekerjasama untuk
melaksanakannya.
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
[Non-text portions of this message have been removed]