Assalaammu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh,
Saya rasa info ini cukup penting...
Namun demikian, mohon konfirmasinya pada ahlinya... Plz.

Wassalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh,
Ediyus Hz
Jangan Mati Sebelum Berarti, Berbuatlah Yang Terbaik, Karena Hidup Hanya
Sekali 
________________________________

---------- Forwarded message ----------
From: agus.sumarna
Date: 4 Sep 2007 16:09
Subject: Jangan Berbuka Shaum Dengan Yang "Manis'
To:

Share info dari teman,

============ ========= ========= ========= ========

Sekedar berbagi info menjelang shaum Romadhon.. 
*Jangan Berbuka shaum Dengan Yang 'Manis*'

BENTAR lagi Ramadhan. Di bulan shaum itu, sering kita dengar kalimat
'Berbuka shaumlah dengan makanan atau minuman yang manis,' katanya.
Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : "Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab
(kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka
beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma
kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : "Apabila berbuka salah satu kamu, maka
hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka
berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci."

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau
berbuka shaumdengan air.

*Samakah kurma dengan 'yang manis-manis' ? Tidak. Kurma, adalah
karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) .* Sebaliknya, gula yang
terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita
konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana
(simple carbohydrate) .

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak
jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan
berbuka shaumdengan makanan atau minuman yang manis adalah 'sunnah
Nabi'.

Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka shaumdengan makanan
manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru
merusak kesehatan.

*Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka
shaum'disunnahkan' minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan
saya, Rasulullah mencontohkan buka shaumdengan kurma atau air putih,
bukan yang manis-manis.
*
Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis.

*Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori
rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi
kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan
Ramadhan sudah berupa 'manisan kurma', bukan lagi kurma segar. Manisan
kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya
agar awet dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma
impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat
mungkin harganya menjadi sangat mahal.*

Kenapa berbuka shaumdengan yang manis justru merusak kesehatan?

Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang
dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula
(karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen,
perlu diproses sehingga makan waktu.

Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak
naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks
seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara 'indeks glikemik' (glycemic index/GI) saja. Glycemic
Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam
tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan
itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula
menghasilkan respons insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat
menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa
mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah.
Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin
menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari
mereka.

Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan
gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya) , sehingga
respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh
akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi
Allah 'ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, *bila
berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu
sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa*. Jangan pernah
makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu
jawaban beliau.

Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia
adalah 'manisan kurma', bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan
gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.

Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks.

Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam
tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka
kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah.

Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan shaum yang justru lemaknya
bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong,
paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung
membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang manis-manis,
sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena
puasa.

Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat
seperti 'buah pir', penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum
masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah
'sunnah', maka shaumbukannya malah menyehatkan kita.

Banyak orang di bulan shaum justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru
tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di
atas, maka efeknya 'rajin shaum= rajin berbuka dengan gula.'*

Belajar sabar.*

Waham Umum

Oke, kembali ke topik. Nah, saya kira, "berbukalah dengan yang
manis-manis" itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits
tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan
bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya
kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka shaumyang
keliru di tengah masyarakat. Yang jelas, 'berbukalah dengan yang manis'
itu disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan
makanan di bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan
hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan
yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin
juga para sahabat yang lain, ingin sekali tahu.

Semoga tidak termakan waham umum 'berbukalah dengan yang manis'. Atau
lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa
dulu kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah:
"Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang."
Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan
sepertiga sisanya biarkan kosong.

"Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar
barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang," kata Rasulullah.

"Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk
daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh
tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari,
cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya,
dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu
Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma'di Kasib)

Semoga bermanfaat..

Wassalaamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

* *<http://groups. yahoo.com/ group/sma33ipa_ 94/message/ 2515;_ylc=
X3oDMTM0cW11czVh BF9TAzk3MzU5NzE0 BGdycElkAzIzODk4 MzEEZ3Jwc3BJZAMx
NzA1MDA1NTEyBG1z Z0lkAzI1MTUEc2Vj A2Z0cgRzbGsDdnRw YwRzdGltZQMxMTg4
ODgzNjAzBHRwY0lk AzI1MTU-
<http://groups.yahoo.com/group/sma33ipa_94/message/2515;_ylc=X3oDMTM0cW1
1czVhBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzIzODk4MzEEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDA1NTEyBG1zZ0l
kAzI1MTUEc2VjA2Z0cgRzbGsDdnRwYwRzdGltZQMxMTg4ODgzNjAzBHRwY0lkAzI1MTU-> >

[Non-text portions of this message have been removed]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke