Ramadhan Cinta
Oleh
Yonâ?Ts Revolta


Ramadhan adalah bulan pembuktian cinta.
Ketundukan adalah cinta, kebajikan adalah cinta,
derma adalah cinta, dan menata jiwa lebih dewasa adalah cinta.
Ramadhan, saatnya memberi makna istimewa pada cinta kita

(Anis Matta)

Dan, ramadhan kembali tibaâ?¦

Sudah siapkah kita menyambutnya..?. Tentu, setiap diri kita punya jawaban 
masing-masing. Jawaban yang berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka yang penuh 
suka cita menyambutnya, dengan perasaan senang karena dipertemukan lagi dengan 
bulan yang mulia ini. Merugi, mereka yang biasa saja, bermalas-malas 
menyambutnya, apalagi mereka yang tak senang atau merasa terkekang karenanya. 
Padahal kalau kita memahaminya, sungguh banyak hikmah yang bisa petik pada 
setiap ramadhan tiba.

Di dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman â?oPuasa itu untuk-Ku dan Aku yang 
akan membalasanyaâ? (Muttafaqunâ?Talaih). Dalam dimensi ini, kita memaknai 
bagaimana ibadah puasa adalah ibadah khusus. Ini adalah kesempatan kita untuk 
membuktikan cinta, kerendahan hati seorang hamba kepada sang khalik. Apa yang 
kita lakukan, puasa yang kita lakukan di bulan ramadhan, Dialah yang akan 
membalasnya. Bulan ini juga memberi kesempatan kita terhapus atas segala 
dosa-dosa kita. Doa-doa ampunan atas segala kesalahan terkabulkan, tentu dengan 
semangat pengharapan terdalam dari diri kita.

Lewat perantaraan Rasulullah, juga disebutkan tentang keistemewaan orang yang 
berpuasa â?o Sesungguhnya di surga ada satu pintu bernama Al-Rayyan, dari pintu 
ini akan masuk orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat, tidak ada siapapun 
selain mereka yang akan memasuki pintu ini, dikatakan, mana orang-orang yang 
berpuasa..?. Lalu mereka semua berdiri, tidak ada satupun yang memasuki pintu 
ini, jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, maka pintu itu ditutup, 
sehingga tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya�. 
(Muttafaqunâ?Tlaih).

Inilah dimensi transendental. Dimensi keTuhanan. Allah SWT telah menjanjikan 
kepada hambanya dengan kenikmatan kelak di kemudian hari jika benar-benar 
melakukan ibadah puasa dengan semestinya, sesuai sunnah-sunnah yang diajarkan 
Rasulullah. Maka, tak ada yang kita lakukan, selain kita memaknai bulan ini 
dengan bulan pembuktian cinta kita. Kita isi hari-hari puasa kita dengan 
ibadah-ibadah untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Bukan untuk 
apa-apa, semata-mata untuk meraih keridhoan Allah saja.

Lantas, bagaimana dimensi kemanusiaannya..?. Puasa, sebenarnya ada wujud 
solidaritas kemanusiaan. Sebulan penuh kita melakukan puasa, menahan lapar dan 
haus sepanjang pagi dan siang. Makna yang bisa kita ambil sebenarnya melatih 
kepekaan sosial kita, kepedulian kita kepada sesama. Kita, mungkin hanya 
sebulan merasakan lapar dan dahaga, tapi diluar sana, bisa jadi teramat banyak 
yang setiap hari menahan lapar, sudah terbiasa hidup dengan amat kesulitan dan 
memprihatinkan. Para pengemis itu, gelandangan itu, buruh-buruh kasar itu, 
orang-orang pinggiran kota itu, petani miskin itu.

Sungguh inilah bulan pembuktian cinta kita kepada sesama. Melihat dengan mata 
hati kita, teramat bersyukur kita sebenarnya. Sepanjang pagi dan siang mungkin 
kita sama-sama menahan lapar. Tapi ketika sore tiba, saat berbuka puasa, 
makanan-makanan enak toh masih sempat kita santap. Tidakkah kita pantas 
bersyukur karenanya ?. Bagaimana pembuktiannya, salah satunya adalah dengan 
derma kita untuk sesama, semangat untuk memberi dan berbagi dengan sesama. Kita 
asah mata hati kita untuk lebih peka atas nasib dan penderitaan orang lain. 
Lantas, kita berikan kebahagiaan sepanjang kita bisa untuk mereka. Membuat 
mereka sejenak tersenyum.

Demikianlah ramadhan cinta menyapa kita, tidakkah kita merindukannya..?

Purwokerto, 9-September-2007


. 
 
-- 
This message has been scanned for viruses and 
dangerous content by MailScanner, and is 
believed to be clean. 
-- 
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke