Assalaamu'alaikum wr. wb.
Dulu, waktu masih agak senggang, saya suka menulis kolom untuk milis
yang saya ikuti. Ini salah satunya. Siapa tahu dapat mencerahkan
pikiran kita dalam melakukan diskusi-diskusi selanjutnya.
Wassalaamu'alaikum wr. wb.
B. Samparan
Siapa Penyebabnya?
Seorang teman muda, aktivis Islam, datang ke rumah. Dalam obrolan dia
mengeluh. Saat ini, dia dan teman-teman kurangnya mendapat perhatian
dari penggede mereka. Akibatnya, aktivitas kolektif mereka menjadi
macet. Akhirnya, masing-masing menjadi lebih memikirkan kepentingannya
sendiri.
Di kampus, jika saya mengajak teman-teman muda untuk lebih berani
mengambil inisiatif dan meletakkan senior-senior yang sudah tidak
produktif duduk manis di belakang, maka seabrek situasi dijelaskan
untuk tidak merespon ajakan saya. Intinya menyatakan, Buat apa pak
mikirin yang idealis, wong sekarang semuanya hanya pada mikirin
kesejahteraan buat diri sendiri.
Mahasiswa saya lain lagi. Saya mencoba mengembangkan sistem active
learning dalam mengajar. Materi yang panjang lebar saya rangkum menjadi
ringkas dan praktis. Pada setiap pertemuan, satu materi saya berikan
untuk difotokopi. Saya minta mereka mempelajari secara mandiri di
rumah, dan mengerjakan tugas yang saya sertakan pada materi tersebut.
Pada pertemuan berikutnya mereka harus mempresentasikan pekerjaan
mereka, mendiskusikan bersama, dan melakukan perbaikan seperlunya jika
ada yang salah. Apa hasilnya? Banyak dari mereka yang tidak
mempelajari, apalagi mengerjakan tugasnya. Bahkan, ada yang tidak
memiliki fotokopian materi. Jika saya tanya, Bagaimana bisa begitu?
Beragam jawaban muncul, intinya menyalahkan keadaan.
Well, saya pun acap seperti itu. Kerap saya menyatakan, saya tidak
melakukan sesuatu karena situasi atau keadaan yang tidak mendukung.
Namun begitu, ketika berada di kesendirian, saya sering bertanya-tanya,
Benarkah seperti itu, benarkah saya tidak bertindak karena situasi dan
keadaan yang tidak mendukung?
Akhir-akhir ini, agak tiba-tiba, saya mulai melihat persoalan di muka
dengan cara yang agak lain. Saya mulai bisa melihat, misalnya, ketika
seseorang membuat saya marah dan saya marah, maka sebetulnya yang
memutuskan tindakan marah saya itu adalah saya sendiri. Lho kok? Lho
laiya tho, bukankah kalau saya memilih untuk tidak marah, maka saya kan
juga tidak marah. Jadi betul kan, yang memutuskan untuk marah atau
tidak marah hakekatnya memang saya sendiri.
Sudut pandang baru ini mulai membuat saya melihat kasus-kasus yang saya
ungkap di muka secara berbeda. Kini menurut saya, aktivitas kolektif
rekan muda saya menjadi macet sebenarnya bukan karena kurangnya
perhatian penggedenya, tetapi karena rekan muda saya dan teman-temannya
memang memilih untuk macet. Bukankah jika mereka memilih untuk tidak
memacetkan aktifitas kolektifnya, sebenarnya tersedia begitu banyak
ragam aktivitas kolektif yang bisa mereka pilih dan lakukan?
Jika para kolega saya memang memilih untuk merespon ajakan saya,
bukankah akan banyak skenario politis yang bisa disusun bersama untuk
merebut jabatan-jabatan strategis, sehingga inisiatif bisa kami pegang?
Rencana pengembangan, dengan demikian, bisa kami sutradarai agar tetap
mengacu pada nilai-nilai ideal yang menjadi keyakinan kami anak-anak
muda.
Pada kasus mahasiswa saya pun begitu. Bila mereka memang memilih untuk
membelajarkan diri secara aktif, pastilah mereka akan berupaya sekuat
tenaga untuk melakukannya. Mereka akan secepatnya berupaya mendapatkan
fotokopian materi, lalu mempelajarinya. Jika kesulitan menghadang,
mereka pastilah akan berupaya mengkonsultasikan kepada kakak kelasnya
atau malahan kepada saya sendiri. Tugas-tugas yang ada pasti akan
mereka kerjakan sebaik mungkin dan alat-alat bantu presentasi pasti
akan mereka siapkan.
Begitulah, kini saya mulai bisa melihat bahwa pilihan untuk melakukan
atau tidak melakukan sesuatu sesungguhnya menjadi tanggung jawab dan
hakekatnya ditentukan oleh diri kita sendiri. Jika saya melakukan
sesuatu, maka hal ini terjadi karena karena saya memilih untuk
melakukannya. Kalau saya tidak melakukan sesuatu, maka hal ini terjadi
sebab saya memilih untuk tidak melakukannya. Tidak ada faktor eksternal
apa pun yang bisa dijadikan kambing hitam atas pilihan yang kita buat.
Alasan yang sahih hanyalah, saya telah memilihnya
titik!
Lalu, apakah situasi dan keadaaan dengan begitu tidak mempengaruhi diri
saya lagi? Tentu saja masih berpengaruh, tetapi tidak sebagai faktor
penentu untuk memilih melakukan atau tidak melakukan. Situasi dan
keadaan hanya menentukan ragam tindakan yang harus saya lakukan.
Akhirnya, marilah kita selalu memilih untuk melakukan sesuatu! Pun jika
esok akan kiamat, hari ini kita toh masih bisa memilih untuk menanam
pohon!
House of the rising sun
22 Des 2005
____________________________________________________________________________________
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search
that gives answers, not web links.
http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC