4 Makna Iman yang Benar
Wajib Bertanggung Jawab
Sekarang, setelah kita mengetahui makna kalimat Laa ilaaha illallah
Muhammadur Rasulullah, akan kita paparkan kewajiban - kewajiban yang harus kita
lakukan sebagai konsekuensinya.
Apa makna mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan segala sesuatu? Ini berarti,
bahwa hidup kita bukanlah milik kita, melainkan milik Tuhan. Tangan kita bukan
kita yang memiliki; mata, telinga dan segala anggota badan yang ada pada tubuh
kita sesungguhnya bukan milik kita. Tanah yang kita tinggali, binatang yang
kita pekerjakan [ / ternakkan], harta dan barang - barang yang kita miliki
semuanya milik Tuhan, dan semua itu diberikan kepada kita sebagai karunia
dari-Nya.
Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa hidup adalah milikku,
tubuh adalah milikku, harta adalah milikku. Tidak bisa mengklaim hak
kepemilikkan sebagai pemilik yang sesungguhnya. Jika kita benar - benar yakin
bahwa Tuhan lah pemilik segala sesuatu, dua hal berikut otomatis mengikuti.
Pertama, karena Tuhan adalah pemilik yang sesungguhnya dan kita hanya sebagai
wakil (pengawas) saja, maka segala yang kita awasi itu harus kita gunakan
sesuai dengan yang Dia pesankan kepada kita. Jika kita tidak melakukan sesuai
dengan pesan-Nya, berarti kita menyelewengkan kepengawasan kita. Ini berarti
kita menipu Tuhan. Kita tidak punya hak menggerakkan tangan dan kaki kita
melawan kehendak-Nya, atau menggunakan mata kita untuk melihat hal-hal yang
tidak disukai-Nya. Kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang bertentangan
dengan perintah-Nya. Anak-anak dan istri-istri yang kita anggap milik kita,
hanyalah menjadi milik kita karena merupakan karunia Tuhan. Oleh sebab itu,
semuanya tidak boleh diperlakukan sesuai keinginan kita sendiri, melainkan
harus seperti yang diarahkan Tuhan. Jika kita melawan tuntunan Tuhan, berarti
kita membuat diri kita seperti perampok. Akan halnya kita menyebut tidak jujur
kepada orang yang mencuri milik orang lain, kita pun tidak jujur
jika memandang karunia Tuhan sebagai milik sendiri dan menggunakannya menurut
keinginan kita atau keinginan seseorang yang lain selain Tuhan.
Jika kita merasa menderita dengan bertindak menurut kehendak Tuhaan, maka
penderitaan lah yang akan terjadi. Jika kita mati atau badan kita terluka atau
keluarga sakit, atau uang dan harta kita mengalami kerusakan, mengapa kita
sedih? Jika Sang Pemilik sendiri merelakan hilangnya apa yang dimiliki-Nya, itu
adalah hak-Nya. Tentu saja, jika kita berbuat melawan kehendak Tuhan dan
mengalami kesukaran, niscaya kita akan mengakui karena kita merusak milik-Nya.
Kedua, kita tidak berbuat baik kepada Tuhan atau umat yang lain, jika kita
menghabiskan sesuatu yang diberikan-Nya tidak sesuai yang dikehendaki- Nya.
Kita sering merasa telah berbuat baik, tetapi itu bukan berarti kta telah
berbuat baik kepada Tuhan. Yang paling sering kita lakukan masih sebatas
kebaikan Tuhan kepada kita. Apakah ini prestasi yang layak dibanggakan?
Haruskah orang dipuji hanya karena memberi balasan kepada yang telah
memberinya? Ingat, muslim sejati tidak berhak bangga karena menghabiskan segala
hal untuk hal-hal yang dikehendaki Tuhan atau melakukan kewajiban-kewajiban
manusia kepada Tuhan. Sebaliknya, dia harus tetap rendah hati. Kesombongan dan
rasa bangga akan merusak amal salehnya. Orang yang mencari pujian atau
melakukan perbuatan baik agar mendapatkan pujian tidak berhak memperoleh pahala
dari Tuhan. Orang yang mencari balasan di dunia ini, ia hanya akan menerimanya
di dunia¡¨.
Perilaku Kita
Bayangkanlah kebaikan luar biasa yang diberikan Tuhan kepada kita. Dia
meminta dari kita sesuatu yang memang milik-Nya, namun menjanjikan bahwa itu
merupakan transaksi yang akan dibayar oleh-Nya. Betapa sebuah kedermawanan yang
tiada tara!
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. At-Taubah [9]: 111)
Demikianlah kebaikan Tuhan. Sekarang perhatikan tingkah laku kita. Kita
[sering kali] menjual kembali kepada orang lain sesuatu yang diberikan Tuhan
dan akan dibeli-Nya lagi dari kita. Dan betapa rendah harga yang kita terima
dari penjualan kita itu. Pembeli membuat kita melawan kehendak Tuhan. Kita
melayani mereka seolah-olah mereka adalah penopang kita. Kita menjual otak dan
tubuh kita sampai segala sesuatu ingin dibeli oleh musuh Tuhan ini. Adakah
sesuatu yang lebih tidak bermoral daripada hal demikian? Menjual sesuatu yang
telah dijual adalah sebuah kejahatan hukum dan moral, bahkan di dunia ini. Di
pengadilan dunia, kita mungkin dapat lari atau mengelak dari pengakuan atas
kejahatan semacam itu. Tetapi, apakah kita dapat lari dari pengadilan Tuhan?
Insyaallah bersambung..
(Sumber : al-Maududi, Abul A¡¦la . Let Us Be Muslims / Menjadi Muslim Sejati,
Jogjakarta : Mitra Pustaka, 1998)
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]