Arti Kalimah Thayyibah
Apa makna kalimat syahadat? Apa yang harus kita lakukan dalam kenyataan
dengan kalimat syahadat?
Makna harfiah kalimat syahadat adalah sederhana, Tiada Tuhan selain Allah
dan Muhammad adalah utusan-Nya
Kata illah dalam kalimat tersebut berarti Tuhan, Dzat inilah yang merupakan
Tuhan kita, Sang Pencipta, Penjaga yang mendengarkan dan mengabulkan doa doa
kita, dan yang layak kita sembah dan kita patuhi.
Mengucapkan laa ilaaha illallah berarti : Pertama, kita menyadari bahwa dunia
tidak akan ada tanpa adanya Tuhan, dan dunia ini hanya memiliki satu Tuhan
saja. Tuhan wajib ada. Dia lah Tuhan, dan tidak ada yang lain kecuali Dia
yang memiliki ketuhanan. Kedua, kita mengakui bahwa Tuhan adalah Tuhan
semesta alam. Kita sendiri, atau segala sesuatu yang kita miliki, atau yang
terdapat di dunia adalah milik-Nya. Dia adalah Sang Khaliq. Kehidupan dan
kematian berada di bawah kekuasaan-Nya. Kesedihan dan kenyamanan berawal
dari-Nya. Kesedihan dan kenyamanan berasal dari-Nya. Apa yang diperoleh
manusia, Dia lah yang memberi. Apa pun terlaksana melalui perintah-Nya. Dia
saja yang seharusnya diikuti. Kepada-Nya kita meminta. Kita adalah adalah hamba
atau abdi-Nya. Tiada Tuhan yang lain selain Dia. Kewajiban kita adalah
menyembah-Nya dan berada dalama hukum-Nya.
Inilah perjanjian yang mesti kita buat bersama Allah begitu kita mengucapkan
laa ilaaha illallah seraya menjadikan dunia sebagai saksi.
Jika kita melanggar perjanjian ini, tangan dan kaki kita, rambut yang
menempel pada tubuh kita dan setiap unsur yang ada di dunia dan akhirat serta
seluruh saksi yang kita angkat akan memberikan kesaksian di hadapan pengadilan
Tuhan. Kita akan menemukan diri kita dalam keadaan tanpa punya harapan dan tak
satu pun saksi mampu memberikan pembelaan. Tidak akan ada penasihat yang dapat
menolong kasus kita. Dalam kenyataan, segala penasihat hukum yang ada dunia
yang sering membengkokkan hukum untuk tujuan mereka sendiri, di pengadilan
akhirat nanti akan menjadi seperti kita, dalam posisi yang tanpa memiliki
harapan.
Pengadilan itu tidak akan membebaskan kita atas dasar pengakuan, saksi palsu
atau dokumen dokumen rekayasa. Kita bisa saja menyembunyikan kejahatan kita
di dunia, tetapi tidak bisa melakukannya di hadapan polisi Tuhan. Di dunia,
polisi mungkin bisa disuap, tetapi di akhirat tidak. Seorang saksi di dunia
bisa saja memberikan kesaksian palsu, tetapi saksi Allah tidak. Hakim di dunia
bisa saja berbuat tidak adil, tetapi Tuhan tidak akan pernah berbuat demikian.
Dan tidak ada tempat untuk melarikan diri dari penjara bagi orang orang yang
berbuat salah.
Adalah sebuah kebodohan bahkan ketololan yang tiada tara melakukan
perjanjian palsu dengan Allah. Sebelum membuat perjanjian, mari kita berpikir
masak masak, dan setelah itu mari kita benar benar setia untuk
menjalankannya. Kita tidak dipaksa untuk mengucapkan janji janji, karena kata
kata kosong tidak akan menguntungkan kita.
Menerima Kepemimpinan Nabi
Setelah Laailaaha Illallah, kita baca Muhammadur Rasuluulullah. Ini berarti,
kita menerima Muhammad saw sebagai orang yang melaui beliau Allah SWT
mengirimkan bimbingan-Nya. Jika kita mengakui Allah sebagai Tuhan dan Raja,
kita perlu mengetahui apa yang dikehendaki- Nya. Apa perbuatan perbuatan yang
harus kita kerjakan yang akan mendatangkan ridha-Nya dan apa perbuatan
perbuatan yang harus kita hindari yang akan mendatangkan kemurkaan-Nya? Hukum
apa yang harus kita ikuti untuk memperoleh ampunan dan menghindari azab-Nya?
Untuk menerangkan hal inilah Allah SWT mengutus Muhammad sebagai Rasul-Nya.
Untuk tujuan inilah Allah mengirimkan kitab suci melalui beliau.
Nabi yang hidup dalam bimbingan-Nya, menunjukkan jalan yang harus kita ikuti.
Oleh karena itu, ketika kita mengucapkan kata Muhammadur Rasuulullah, kita
berjanji untuk mengikuti tata cara dan hukum yang dituntunkan beliau dan
menolak segala hal yang berlawanan dengannya. Jika setelah membuat perjanjian
ini kita keluar dari cara cara hidup yang dituntunkan Nabi dan mengikuti
hukum hukum yang berlawanan dengannya, sekalipun diterima oleh masyarakat
luas, sungguh tidak ada penyelewengan yang lebih buruk dan lebih tidak jujur
dari diri kita.
Bagi kita, masuk Islam berarti menegaskan secara sungguh sungguh bahwa kita
akan menerima cara hidup yang beliau tuntunkan sebagai satu satunya hukum
yang benar dan kita dengan yakin akan mengikutinya. Atas dasar penegasan inilah
kita menjadi saudara sesama muslim, dapat mewarisi harta orang tua kita yang
muslim. Atas dasar ini pula kita menikahi perempuan perempuan muslimah, anak
anak kita menjadi absah dan memiliki hak untuk meminta pertolongan kepada
sesama muslim, menerima zakat, memperoleh perlindungan dalam hidup, hak milik,
kehormatan dan martabat kita. Tidak ada yang lebih tidak jujur daripada ketika
kita mengingkari janji kita ini.
Jika kita berjanji dengan mengucapkan Laa ilaaha illallaah
muhammadurasulullah (Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Muhammad adalah utusan
Allah). Dengan benar benar memahami maknanya, sungguh tidak bisa dipahami
jika kita tidak mematuhi hukum hukum Tuhan sekalipun tidak ada polisi yang
menjaga kita di dunia ini. Kalau ada orang yang berpikir bahwa bisa saja
mengingkari hukum hukum Tuhan karena polisi, tentara, pengadilan dan penjara
Tuhan tidak terlihat, bahwa sulit untuk mengingkari hukum dunia karena hadirnya
polisi, tentara, pengadilan dan penjara pemerintah, saya terusik untuk
mengatakan, Penegasannya melalui kalimat Laa ilaaha illallaah
muhammadurasulullah (Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Muhammad adalah utusan
Allah) tidak ada dalam kenyataan. Ia mencoba menipu Tuhan, dunia, umat Islam
dan dirinya sendiri.
Insyaallah bersambung
(Sumber : al-Maududi, Abul Ala . Let Us Be Muslims / Menjadi Muslim Sejati,
Jogjakarta : Mitra Pustaka, 1998)
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]