5 Keunikan Kalimah Thayyibah
   
  

  Marilah kita kaji lagi makna dan implikasi selanjutnya dari kalimah 
thayyibah, mengingat kalimat ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam 
Islam. Kita meski meyakini kalimah tersebut, dan kita masuk Islam adalah atas 
dasar kekuatannya. Pahamilah kalimah tersebut dengan benar dan sesuaikanlah 
hidup kia dengannya agar kita menjadi muslim sejati. Tanpa kalimah tersebut, 
kita tidak bisa disebut dan dikatakan beragama Islam.
   
  

  Perumpamaan
  

   
  Allah menyebut kalimah syahadat dengan kalimah thayyibah, “kalimah yang 
indah, suci dan bermanfaat”, dan memberikan pengertiannya dengan :
   
   
  24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan 
kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya 
(menjulang) ke langit,
  [786]. Termasuk dalam kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala ucapan 
yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan 
yang baik. Kalimat tauhid seperti laa ilaa ha illallaah.
   
   
  25. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. 
Allah membuat perumpamaan- perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu 
ingat. 

   
  26. Dan perumpamaan kalimat yang buruk[787] seperti pohon yang buruk, yang 
telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap 
(tegak) sedikitpun.
  [787]. Termasuk dalam kalimat yang buruk ialah kalimat kufur, syirik, segala 
perkataan yang tidak benar dan perbuatan yang tidak baik. 
   
   
  27. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh 
itu[788] dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan 
orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
  [788]. Yang dimaksud ucapan-ucapan yang teguh di sini ialah kalimatun 
thayyibah yang disebut dalam ayat 24 di atas. (QS. Ibrahim [14]: 24 – 27)
  

   
  Kalimah Thayyibah diibaratkan dengan sebuah pohon yang akarnya menghujam di 
bumi dan ranting – rantingnya menjulang ke angkasa, yang dipenuhi buah sesuai 
keinginan Tuannya. Berlawan dengan kalimah ini adalah kalimah khabitsah, 
kalimat yang jahat, korup, keimanan palsu, pernyataan yang tidak berarti, yang 
diibiratkan dengan pohon yang tidak berkembang, hanya menempel di permukaan dan 
mudah dicabut hanya dengan sekali cabut karena akarnya tidak memiliki kekuatan.
  

   
  Yang menarik dan indah adalah pengibaratan bahwa semakin banyak kita 
merenungkan kalimah ini, kita akan semakin dapat menyerap pelajaran yang dapat 
kita ambil darinya.
  

   
  Dua Jenis Pohon
  

   
  Mari kita camkan dua jenis pohon di atas. Yang pertama, betapa kuatnya pohon 
ini, mengakar dan tinggi, banyak rantingnya dan lebat daunnya. Bagaimana pohon 
ini memperoleh kekuatan dan keindahan semacam itu? Dari sifat buahnya, bijinya. 
Benihnya mempunyai sifat bawaan menjadi pohon besar. Dan sifat bawaan ini akan 
terbukti apabila tuntutan – tuntutannya, yaitu tanah, air, udara, siang hari 
yang panas, malam hari yang dingin dan lain – lain, dipenuhi; apabila seluruh 
unsur itu memperhatikan, mendukungnya; singkatnya, apabila apa pun yang menjadi 
tuntutannya terpenuhi.
  

   
  Jadi, dengan keunggulan – keunggulan benih ini berkembang menjadi pohon yang 
besar. Dengan memanen buahnya yang bermanfaat dan dengan keunggulan jenisnya, 
benih ini terus menunjukkan bahwa ia tumbuh menjadi pohon yang tinggi dan kuat, 
dan menunjukkan bahwa bantuan dari kekuatan – kekuatan tanah dan udara 
diberikan secara total. Tugas dari unsur – unsur itu adalah memberikan bantuan 
seperti itu, karena kekuatan yang ada di tanah, udara, air dan unsur – unsur 
lain yang menumbuhkan, mengembangkan dan mematangkan pohon itu merupakan sarana 
untuk mempertahankan keunggulan spesiesnya.
  

   
  Tetapi bagaimana dengan pohon yang satu lagi? Di mana letak kekuatan dan 
keindahannya? Akarnya hanya di permukaan, sampai – sampai anak kecil pun mampu 
mencabutnya. Pohon ini sangat lemah dan bisa tercabut oleh angin. Jika kita 
menyentuhnya, bisa tertusuk oleh duri – durinya. Buahnya pahit dan beracun. 
Hanya Tuhan saja yang tahu pertumbuhan pohon ini, kemudian layu. Mengapa pohon 
tersebut seperti ini? Karena tidak ada unsur yang bisa membuatnya tumbuh kuat.
  

   
  Jika tidak ada pohon jenis “unggul” yang tumbuh, maka bumi yang sifat 
alamiahnya tidak bisa kosong tanpa tetumbuhan, menerima tumbuhnya semak – semak 
dan alang – alang. Air memang memberikan makanan, dan energi disediakan udara, 
tetapi tidak ada satu unsur pun yang menerima keberadaan pohon ini sebagaimana 
yang diberikan untuk pohon “unggul”. Inilah mengapa bumi tidak merelakan akar 
pohon ini menancap, air tidak tulus memberikan makanan, demikian pula halnya 
udara. Oleh sebab itu, dengan keadaan seperti ini, pohon tersebut tidak sehat, 
mengeluarkan duri, dan buahnya pahit dan beracun. Ini menunjukkan bahwa bumi 
dan udara tidak membantu pertumbuhan jenis ini.
  

  

   
  Insyaallah bersambung…
  

   
  (Sumber : al-Maududi, Abul A’la . Let Us Be Muslims / Menjadi Muslim Sejati, 
Jogjakarta : Mitra Pustaka, 1998)

       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke