sebuah opini menarik dari sudut pandang SEQ! ... is it no wonder that
Republika has yet to publish this?

satriyo

---------- Forwarded message ----------
From: Rahmat SEQ <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Oct 30, 2007 2:50 PM
Subject: [...] Menyoal Paham Sesat
To: [EMAIL PROTECTED]


 .
tulisan ini pernah diposting ke harian REPUBLIKA, 25/10/2007, dan 
belum dipublikasikan, sehingga saya mempostingnya ke milis ini. 
Selamat membaca....

MENUAI "RAHMAT" BUKAN "LAKNAT"

"Pemerintah tidak boleh tinggal diam. Pemerintah harus segera 
menghentikan gerakan ini, usut dan tangkap pelakunya, termasuk siapa 
yang berada di belakang gerakan ini semua." (Republika, 25/10/2007).

Statemen di atas, disampaikan oleh Rais Tanfidh Nahdatul Ulama, KH. 
Hasyim Muzadi, yang mengomentari terhadap berkembangnya organisasi Al-
Qiyadah Al-Islamiyah, pimpinan Ahmad Moshaddeq. Setelah membaca 
pernyataan Hasyim Muzadi tersebut, yang dimuat di harian Republika, 
25/10/2007, dengan tajuk PBNU Desak Hentikan Al Qiyadah Al Islamiyah, 
penulis tersentak dan termenung cukup lama, dan bertanya-tanya dalam 
benak pikiran, mengapa statemen itu harus keluar dari mulutnya orang 
bijak, yang memimpin ORMAS besar, Nahdlatul Ulama? Bukankah ia juga 
adalah salah satu tokoh Organisasi Lintas Agama?

Sebelum mengeluarkan pernyataannya, seyogyanya ia melakukan verifikasi
dengan cara dialog bersama pendiri Al Qiyadah Al Islamiyah, sehingga
mengetahui secara transfaran konsep umum tentang pemahamannya terhadap
ajaran Islam. Atau mungkin, ia telah berdialog dan mengkaji dengan 
seksama terhadap pemahaman Ahmad Moshaddeq, dan mengambil kesimpulan 
bahwa Al Qiyadah Al Islamiyah adalah sesat dan merusak aqidah Islam. 
Parameter apakah yang dipakai oleh KH. Hasyim Muzadi dalam menilai Al 
Qiyadah Al Islamiyyah dan organisasi-organisasi yang memiliki 
kesamaan dengan Al Qiyadah adalah sesat? Saya tidak mendukung dan 
mengingkari terhadap pemahaman-pemahaman yang disampaikan oleh Ahmed 
Moshaddeq maupun lainnya, tapi saya lebih senang melakukan chek and 
rechek kepada sumbernya, dalam menemukan sebuah permasalahan yang 
sedikit banyak berhubungan dengan kepentingan publik, kemudian 
menarik benang merahnya dengan penuh kebijaksanaan. Metode inilah
yang dipakai oleh ûlul albâb. Ketidakbijaksanaan dalam menilai 
pemahaman keagamaan seseorang maupun dalam sebuah payung 
keorganisasian, akan mendatangkan efek kurang baik bagi citra diri 
seseorang, dan kalau orang tersebut adalah memiliki jabatan publik,
maka dapat mengurangi nilai kebaikan image organisasi.

Penyesatan bukan hanya dialami oleh Al Qiyadah Al Islamiyah, melainkan
oganisasi lainnya pun nyaris mengalami yang sama, misalnya saja, 
beberapa bulan yang lalu, perguruan Mahesa Kurung (MK) telah 
disesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia Bogor, dengan alasan—salah 
satunya—percaya kepada perdukunan adalah perbuatan musyrik. Begitu 
juga dengan Ahmadiyah yang mengakibatkan kerugian bagi jama'ahnya 
bukan hanya sekedar mental, tapi fisik pun dialami cukup parah oleh 
mereka. Sebelumnya pun, Lia Edent dihukumi sesat, dan merugikan 
masyarakat, sehingga ia harus "nyantri" dulu beberapa saat 
di "pesantrren" yang biliknya dari besi. Entah, apa dan siapa lagi 
yang akan menjadi obyek penyesatan. Siapa dan apa motif dibalik 
gerakan penyesatan yang dilakukan oleh beberapa lembaga swadaya 
masyarakat, selain ormas resmi? Semoga budaya ini tidak berkembang 
dengan cepat di bumi para waliyullah, Indonesia. Cukup hanya di ranah 
Arab.

Kedalaman Ajaran Islam

Makna filosofi ajaran agama Islam cukup dalam, sehingga hanya orang-
orang cerdik dan pandailah yang dapat merasakan "manisnya" ajaran 
Islam. Ajaran Islam, kalau boleh saya ilustrasikan dengan 
sebuah "gitar", ia (Islam) dapat dipetik sesuai dengan keahliannya 
orang memainkan gitar. Kalau petikannya dangdut, sudah jelas yang 
mendengarkannya pun pecinta dangdut, dan biasanya para "pengamen" di 
jalanan yang memetik gitar dengan nada dangdut, mendapatkan imbalan 
recehan. Tapi, kalau gitar dipetik dengan petikan klasik, maka yang 
menikmatinya juga, adalah orang-orang tertentu yang menyukai musik 
klasik. Musik klasik, realitasnya, dimainkan hanya di gedung-gedung 
mewah, dan yang hadir pun orang-orang "menengah"; para pecinta musik 
klasik, bayarannya pun cukup mahal. Begitulah dengan ajaran Islam,
kalau ajaran Islam hanya dipahami metode "pemahaman" orang-orang 
umum, yang terjadi seperti sekarang ini, semua orang merasa punya hak 
untuk menyampaikan risalah Islam, sehingga para da'i yang seharusnya 
menyampaikan tuntunan, tetapi yang ada hanyalah menjadi "tontonan", 
masyarakat hanya senang dengan "guyonan" para da'i saja, sedangkan 
isinya sudah tidak diperhatikan lagi. Tidak heran, masyarakat yang
telah mendengarkan ceramah para da'i tersebut, setelah pulang ke 
rumahnya, yang diceritakan di keluarganya, ialah cerita guyonannya 
da'i, bukan substansi ceramahnya.

Untuk meminimalisir agar tidak mudah keluar pernyataan dalam menilai 
sebuah pemahaman keagamaan, hendaknya setiap orang, terutama orang 
yang memiliki kedudukan penting di organisasi kemasyarakatan untuk 
melihat terhadap ajaran Islam dari empat dimensi; dimensi syariat, 
dimensi thariqat, dimensi hakikat, dan dimensi ma'rifat. Dengan empat 
dimensi, pemahaman ajaran Islam akan berakarkan ke bumi bercabangkan 
ke langit. Keempat dimensi disampaikan dengan benar dan tepat oleh 
para guru yang struktur keilmuannya sampai pada pembawa pertama, 
Muhammad SAW. (dengan memiliki legalitas spiritual yang amanah), 
nasab para guru juga dapat dipertanggungjawabkan (sesuai dengan
bobot, bibit, dan bebetnya), dan kepribadiannya pun mencerminkan 
akhlak mulia, sebagaimana Rasulullah, menjadi suritauladan bagi 
umatnya.

Perbedaan pendapat yang mencuat di blantika pemikiran dan pergerakan,
sehingga keluar fatwa-fatwa sesat dari organisasi resmi masyarakat,
dikarenakan—mungkin, semoga ini tidak terjadi—para inohongnya kurang
memiliki kualifikasi sebagai seroang yang berilmu "luhur"; mengenal 
hakikat sejati dirinya, dan mengenal Tuhannya dengan pasti, serta 
telah sampai pada tapal batas ketuhanan dengan sempurna. Mereka yang 
telah sempurna ilmu ketuhanannya dan kemanusiannya, salah satu 
cirinya, tidak pernah menghukumi seseorang dikarenakan perlakuannya 
atau pemikirannya, melainkan mereka memberikan pengarahan dengan 
penuh kebijaksanaan terhadap orang-orang yang dianggapnya tidak 
sejalan lagi dengan ajaran dan tuntunan Agama, dan mengedepankan 
etika berkomunikasi dengan penuh kesantunan. Siapakah tipologi
ulama yang demikian?

Tuhan mencintai para hamba-Nya yang selalu mengedepankan 
kebijaksanaan, bukan mengedepankan hukuman. Karena dengan 
kebijaksanan-Nya, Allah melanggengkan kehidupan ini dengan penuh 
dinamikanya. Kalau kebijaksanan-Nya telah dicabut, maka entah apa 
yang akan terjadi? Para nabi dan rasul diutus ke dunia ini, dari 
mulai Nabi Adam as. sampai pada Nabi Muhammad SAW., adalah untuk 
menyampaikan kebijaksanaan. Mengapa kita tidak mengikuti jejak
mereka?

Menuai "Rahmat" Bukan "Laknat"

Era reformasi yang membuka kran nilai-nilai demokrasi dan universal 
bagi masyarakat untuk dapat direalisasikan, ternyata tidak bisa 
dinikmati dengan penuh kebebasan, setiap orang bebas menyampaikan 
pendapat, bahkan dalam ranah keagamaan pun, setiap orang bebas 
menjalankannya sesuai dengan pemahaman keimanannya, tapi tetap 
berjalan dalam koridor NKRI. Nah, bagi umat Islam, kebebasan ini 
sebenarnya menjadi gerbang utama bagi meningkatkan nilai-nilai 
pemahaman spiritual dalam setiap dirinya. Bukannya seperti yang
terjadi akhir-akhir ini. Fatwa sesat, musyrik, bid'ah, khurafat, dan 
klaim lainnya malah dengan bebas keluar, dan masyarakat dipaksa untuk 
mengikuti pemahaman ajaran keagamaan yang telah ada. Di manakah 
kebebasan untuk meningkatkan nilai-nilai keagamaan dalam diri? 
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar, dan hendaknya perbedaan 
tersebut disambut dengan peningkatan karya pemikiran, sebagaimana 
para cendikiawan sebelum tahun 1912.

Era reformasi hendaknya menjadi "rahmat" bagi masyarakat Indonesia, 
bukan menjadi "laknat" yang hanya dapat membawa ke alam keterpurukan; 
tidak mengenal kembali terhadap Tuhan sejatinya, yang dulu kala 
pernah bersaksi dengan-Nya, bahwa IA adalah Tuhannya, tetapi sekarang 
sudah melupakan eksistensi Tuhannya tersebut. Tuhan tidak di mana-
mana, Tuhan hanya ada dalam diri manusia. Bukan seperti judul film 
sinetron, Tuhan Ada Di mana-mana. Bagaiamana kita mengingkari 
kedudukan Tuhan ada dalam diri kita sendiri, sedangkan Tuhan sendiri 
telah menyatakan dalam kitab suci-Nya; "Aku lebih dekat dari urat 
lehermu." "Ingatlah Tuhanmu dalam dirimu." Semua kitab suci agama-
agama besar di dunia ini, menyatakan dengan jelas, bahwa Tuhan
itu hanya ada dalam diri manusia. Titik. Wajarlah, kalau problematika
multidimensi yang sedang menimpa bangsa Indonesia, salah satunya 
disebabkan oleh raknyat sudah tidak mengenal lagi terhadap Tuhan 
sejatinya. Syiar dakwah—bisa dibanggakan—berkembang dengan pesat di 
mana-mana, namun substansi agama sudah mengalami kekeringan. Spirit 
dakwah tidak lagi dengan mudah ditemukan dari mulut para da'i. 
Dinding agama telah hancur oleh umatnya sendiri, bukan hanya oleh 
umat lain. Ironis memang. Siapa yang dapat membangun kembali dinding 
agama?

Rahmat "SEQ"
SPIRITUAL ENGINEERING QUOTIENT "SEQ"
http://www.rahmatseq.blogspot.com
__________________________________________________
-- 


Kirim email ke