Bismillah

 

 

Assalamu'alaikum

 


Artikel


Selasa, 15 Mei 2007 - 8:52 WIB
Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah, KUNCI Pembebasan Al AQSHA
Oleh: Aly Farkhan Tsany


Jakarta - Telah 59 tahun Zionis Israel menjajah Palestina dan kawasan Masjid
Al-Aqsha, yaitu sejak proklamasi sepihak Israel tanggal 14 Mei 1948 Pkl.
16.00 waktu setempat. Warga Palestina melalui "Intifadhah Al-Aqsha"
bertahun-tahun lamanya dengan ruhul jihad yang tiada tara. Syuhada-syuhada
muslimin dan muslimat, orang tua dan anak-anak, berbekal batu, ketapel, dan
apa yang ada, telah menumpahkan air mata, keringat, darah, dan mengorbankan
jiwa dan raga membela kehormatan muslimin dan kemuliaan Masjid Al-Aqsha. 

Jihad membebaskan Al-Aqsha dari penjajahan Zionis Israel terus mendapat
dukungan dari segenap kaum muslimin dan komponen umat di dunia, khususnya
dari Indonesia negeri mayoritas berpenduduk muslim. Sebab, membebaskan
Al-Aqsha dan tanah suci Palestina bukan hanya tanggung jawab umat Islam di
Palestina saja, tetapi kewajiban seluruh umat Islam di dunia.

 Puncaknya, insya Allah Masjid Al-Aqsha dan kawasan Palestina akan dapat
dibebaskan oleh kesatuan kaum muslimin di bawah kepemimpinan panji Khilafah
'Alaa Minhaajin Nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian).

Hal itu terungkap dalam Tabligh Akbar bertema "59 tahun Penjajahan Zionis
Israel atas Palestina" yang digelar di Masjid Al-Azhar Kebayoran, Jakarta
Selatan, Ahad 25 Rabi'ul Awwal 1428 H. / 13 Mei 2007 M. pukul 13.00-15.00
WIB.

"Palestina dan Al-Aqsha adalah waqaf muslimin yang dimuliakan Allah dan
Rasul-Nya, 59 tahun terjajah oleh Zionis Israel. Kewajiban kita semua umat
Islam mengembalikannya kepada umat Islam," papar Ferry Nur, Sekjen Komite
Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA). 

Perilaku penjajah sebagaimana Allah nyatakan di dalam Surah An-Naml ayat 34
adalah membuat kerusakan, baik kepada manusia maupun alam sekitarnya.
Karenanya, penjajahan  Zionis  tersebut  harus  dihentikan dengan cara
bersatunya kaum muslimin secara terpimpin, ujarnya. 

"Pembebasan Al-Aqsha menjadi agenda kita bersama seluruh komponen umat
Islam. Kalau tidak, kita terancam sifat munafik. Yakni tidak mau memikirkan
nasib sesama umat Islam," tandas Ferry di hadapan 1.000-an massa muslimin
muslimat dari berbagai tempat di Jabodetabek, Bandung, Sukabu-mi, Semarang,
Banjarnegara, Surabaya, hingga Bandar Lampung. 

Ustadz Ferry mengingatkan, hubungan umat Islam Indonesia dengan Palestina
sangat kental sejak Kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Mufti besar Palestina
waktu itu, Amir Al-Huasaini, yang mensosialisasikan kemerdekaan Indonesia ke
negeri-negeri Timur Tengah. Saudagar Palestina Muhammad Ali Taher bahkan
rela mengambil semua uangnya di bank untuk perjuangan Indonesia melawan
sekutu.

 

Al-Aqsha Hak Muslimin

Mahmud Sulaiman Al-Adam utusan Al-Quds Institution pimpinan DR. Syaikh Yusuf
Al-Qaradhawi dalam sambutan atas nama umat muslim Palestina menyatakan,
Al-Aqsha Palestina bukanlah milik umat Palestina saja, tetapi  milik seluruh
umat Islam. Terbukti dengan adanya dukungan dari segenap komponen muslimin
di manapun berada, khususnya umat Islam Indonesia, untuk membebaskan
Al-Aqsha dari cengkeraman penjajah Zionis Israel.

Menurut Adam, yang juga koresponden Al-Jazirah untuk Indonesia, Zionis
Israel menjajah Palestina bukan seketika bisa, namun telah diplaning sejak
lama, melalui beberapa tahapan mukadimah.

Mukadimah pertama, melobi Negara-negara besar untuk menyetujui adanya warga
asing di komunitas umat Islam, yakni lewat Israel di Timur Tengah. 

Mukadimah kedua, rancangan Perjanjian Balvour tahun 1917 berupa penyerahan
tanah Palestina dari Inggris untuk Israel.

Mukadimah ketiga, berupa penciptaan musibah terbesar umat Islam yakni dengan
runtuhnya sentral kepemimpinan muslimin di Turki Utsmani.

Mukadimah keempat, imigrasi besar-besaran warga Yahudi dari Eropa, Amnerika,
Soviet, ke Palestina.

Mukadimah kelima, pengiri-man senjata dan aksi militer membantai umat muslim
Palestina. 

"Dalam satu malam saja, Zionis Israel membantai 300 nyawa tak berdosa warga
Palestina," papar Adam, seperti diterjemahkan oleh Amrozi M. Rais, Directur
Centre for Middle East Studies (COMES).

Saat ini, bantuan untuk warga Palestina masih terus diembargo dan diboikot
oleh dunia Internasional. Sementara negeri-0negeri muslim sekitar Palestina
tidak dapat bebruat apa-apa, ujarnya.

"Walau demikian, dengan kesadaran akan pentingya kesatuan umat dalam rangka
mengambil kembali kepemilikan Al-Aqsha bagi umat Islam, Zionis Yahudi akan
dapat dikalahkan," tandasnya.

 Hingga, batu-batu pun akan berbicara, menunjukkan bahwa di belakangnya ada
Yahudi, maka bunuhlah Yahudi, kata Adam, menukil janji Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

 

Al-Aqsha dan Khilafah 

Ustadz Al-Khaththath dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam kesempatan
yang sama menegaskan, satu-satunya cara membebaskan Masjid Al-Aqsha,
Palestina, hanya dengan jihad, dan jihad hanya dapat dilaksanakan dengan
adanya khilafah.

"Khilafah adalah milik muslimin, wajib kita amalkan sebagaimana dahulu
khalifah Abu Bakar hingga 'Aly bin Abi Thalib, mengamalkan Khilafah 'Ala
Minhaajin Nubuwwah," tegas Al-Khaththath.

Menegakkan Khilafah 'Alaa Minhaajin Nubuwah sesuai lisan Rasulullah adalah
perjuangan besar kita bersama, untuk membebaskan Al-Aqsha dari penjajahan
Zionis Israel. Karenanya, kita jangan mau diadu domba, papar Al-Khaththath. 

Ketua Pelaksana Harian Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam
(KISDI) Ahmad Sumargono yang hadir adalam Tablig juga menyampaikan,
membebaskan Al-Aqsha Palestina merupakan bagian dari agama  Islam itu
sendiri, sesuai dengan prinsip 'Asyidda 'alal kuffaar ruhamaa bainahum. 

"Kita memandang sesuatu berdasarkan ideologi bahwa Islam bukanlah agama
dalam arti sempit, hanya ibadah mahdhah semata. Tetapi menyangkut
keseluruhan masalah umat secara komplit," kata Sumargono. 

Sumargono mencontohkan, mengapa kita menolak Bush datang ke Indonesia,
karena secara ideologi Bush adalah musuh Islam, telah memecah belah dan
membantai umat Islam di mana-mana. 

"Membebaskan Al-Aqsha adalah wujud solidaritas kita sesuai Surah Al-Baqarah
ayat 120, sikap kita dan harta yang kita miliki kita korbankan untuk
kepentingan Islam dan Muslimin dengan ketulusan tanpa riya di dalamnya,
dilaksanakan dengan cara bersatu untuk melawan mereka" ujar Sumargono.

Wajibnya dunia Islam terpimpin oleh Khilafah 'Ala Minhaajin Nubuwwah dalam
membebaskan Al-Aqsha ditegasklan oleh Yakhsyallah Manshur, Amir Lajnah
Tanfidz Ghazwah Al-Aqsha Jama'ah Muslimin (Hizbullah) pada kesempatan yang
sama. 

Yakhsyallah menyampaikan, kesatuan muslimin dalam satu Khilafah 'Alaa
Minhaajin Nubuwwah sesuai surat Ali Imran ayat 103 dan dalil-dalil lain di
dalam Al-Quran dan As-Sunnah, merupakan kewajiban seluruh umat Islam.
Apalagi untuk membebaskan Al-Aqsha dari cengkeraman Zionis Israel.

Untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha umat Islam wajib bersatu dalam satu
keamiran muslimin, ujar Yakhsyallah, seraya mengutip hadits Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi Wasallam yang menyatakan bahwa tidak halal tiga orang
tanpa keamiran.

"Al-Aqsha lepas dari pangkuan muslimin karena muslimin tidak lagi
terpimpin," tegas Yakhsyallah, yang juga Mudir Ma'had Shuffah Hizbullah
Al-Fatah Cileungsi, Bogor.

Muslimin saat ini lebih banyak bicara tanpa pelaksanaan,    dan   hidup
sendiri  -  sendiri, disibukkan oleh kepentingan masing-masing. Sehingga
tidak peduli dengan permasalahan umat Islam, serta tidak peduli dengan
masalah pembebasan Al-Aqsha, jelas Yakhsyallah. Padahal permasalahan
Al-Aqsha, bukan masalah orang Palestina semata. Tetapi masalah umat Islam di
manapun berada.

Hal ini tidak bisa dibiarkan, apalagi Zionis terus berusaha menghilangkan
negeri Palestina dari Peta Timur tengah, dan menyamarkan Kubah Ash-Skahrah
sebagai  Masjidil Aqsha. 

Padahal sesuai firman-firman Allah, khususnya di dalam surat Al-Isra ayat 1,
hadits tentang kemuliaan Masjidil Haram Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha,
kita wajib memuliakannya dan membebaskan-nya dari Zionis Israel terlaknat,
tandasnya. 

"Karenanya kita nyatakan Ghazwah Al-Aqsha, perang membebaskan Al-Aqsha hak
kaum muslimin. Al-Aqsha Haqquna!" teriak Yakhsyallah, diikuti takbir "Allahu
Akbar!" 

Jamaah Muslimin (Hizbullah) memaklum-kan Ghazwah Al-Aqsha ke dunia Islam
sejak tanggal 24 Sya'ban 1427 H. / 17 September 2006 M. Pkl. 11.50 WIB.
Telah menyelenggarakan sosialisasi Ghazwah Al-Aqsha berupa Gerak Jalan /
Longmarch Cinta Al-Aqsha, Bedah Buku Zionis, Pameran Foto Kekejaman Zionis,
Pemutaran CD Palestina dan Perjuangan Islam, Seminar/Tabligh Akbar Al-Aqsha
Haqquna, pengumpulan dana Dinar Lil Palestina One Man One Dinar, Penerbitan
Kalender dan Buku Al-Aqsha, dan penyiapan mujahid Al-Aqsha. 

Sosialisasi Al-Aqsha Haqquna tahun 2006-2007 telah dilaksanakan di Jakarta,
Bandar Lampung, Bandung, Semarang, dan Pontianak. Direncanakan tanggal akhir
Mei ini akan diselenggarakan di Medan dan Banda Aceh, dengan menghadirkan
Dubes Palestina, Haji Abdurahman (Malaysia), Ferry Nur (Sekjen KISPA), dan
Yakhsyallah Manshur (Lajnah Ghazwah Al-Aqsha Jama'ah Muslimin (Hizbullah).

 

Istiqamah Melawan Zionis

Sementara itu, Dani Anwar dari gerakan Ihsanul Amal mengingatkan, agar umat
Islam istiqamah secara kaffah mengamalkan Islam dalam menghadapi Zionis
Internasional.

Ini karena Zionis terus-menerus mempengaruhi pikiran muslimin agar jangan
sampai muslimin memikirkan Al-Aqsha dan Palestina.

"Kalau ada umat Islam yang masih menganggap Al-Aqsha tidak ada hubungan
dengan muslimin karena letaknya yang jauh dan masih banyak persoalan lain
yang harus dipikirkan, maka ketahuilah bahwa dia telah terpengaruh pemikiran
Zionis!" tegas Ustadz Dani.

Ustadz Dani  menyatakan kaum muslimin kalau mau menang melawan Zionis
Internasional maka harus bersatu secara istiqamah dalam kepemimpinan
khilafah minhaji Rasulillah.

Dalam tausiyah dan doa penutup, Haji Rosihan Anwar dari jamaah Khaira Ummah
mengingatkan kaum muslimin untuk tidak berfirqah-firqah.

"Terjebaknya umat islam dalam kehidupan berfirqah-firqah merupakan kesalahan
fatal yang berakibat adzab yang pedih, sesuai  Surat Ali Imran ayat 105,"
ujar Haji Rosihan seraya membaca ayat tersebut.

Untuk membebaskan Al-Aqsha, umat Islam tidak boleh merasa lelah melangkahkan
kaki ke tampat taklim pembebasan Al-Aqsha, tidak boleh jenuh mengeluarkan
banyak biaya untuk mendukung perjuangan Al-Aqsha, dan jangan sampai frustasi
dalam berjuang.

"Kita semua harus istiqamnah dan fokus terhadap agenda strategis abad ini,
yakni Pembebasan Al-Aqsha dari cengkeraman penjajah," jelasnya sambil
berteriak keras "Allahu Akbar! Allahu Akbar!!".

Umat Islam juga dihumbau agar meninggalkan isu murahan yaitu meruncingkan
segmen perpecahan umat hanya karena persoalan khilafiah. Juga agar secara
terus-menerus menjauhi kemaksiatan serta berupaya semaksimal mungkin
mencegah kemungkaran yang ada di sekitarnya.

"Surat Al-Maidah ayat 78 dan 79 mengingatkan kita semua agar jangan
berkarakter Yahudi yakni tidak peduli dengan pencegahan kemungkaran yang
ada," paparnya di hadapan jamaah kaum muslimin dan muslimat.

Dalam Tablig Akbar tersebut terkumpul dana Palestina uang sejumlah
Rp5.855.300 dan US 5.

"Kami akan terus bantu kegiatan pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina.
Kami sekarang baru tahu kalau ternyata pembebasan Masjid Al-Aqsha dan
Palestina bukan tanggung jawab orang Palestina saja, tetapi kewajiban kita
semua," ujar seorang ibu rumah tangga seusai acara tersebut. (Afta

 

 

 

Terima kasih

 

Yayan. H

NC Drilling CMKS (I)

ext 101

 

" Sesungguhyna tidak Ada Islam tanpa Jama'ah dan tidak ada jama'ah melainkan
dengan Imarah, dan tidak ada Imarah melainkan dengan Tha'at "

Riwayat Ad-Darimy dari Tamim Ad-Dary,  Sunan Ad-Darimy,Bab F Dzihabil 'ilmi
darul Fikr, Kairo Mesir, 1398 H/ 1976 M juZ 1 halaman 78

 

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak
kamu kerjakan." Ash Shaff 61 ayat 3

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke