Sumber : http://dapu.blogsome.com/
   
  Potret Diri Generasi Nanti
   
  "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di 
belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap 
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah 
dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisaa : 9)
  Oleh :
  Ahmad Sopiani, S.Ag. [EMAIL PROTECTED]
   
  Hari itu, tidak lama selepas adzan maghrib, saya masih dalam perjalanan 
pulang di sebuah angkutan kota di pinggiran kota Bogor. Ketika melalui sebuah 
"Polisi Tidur", angkot yang saya tumpangi melaju lambat dan tiba-tiba saja 
seorang anak kecil melompat ke pintu angkot, lalu duduk di lantai angkot di 
pintu masuk.


  Umurnya baru sekitar 4 atau kurang dari 5 tahun, berkaos oblong, celana 
pendek, rambut kusam, kulit legam, mata berbinar tajam. Dengan suara sengau ia 
mulai menyanyikan lagu yang pertama sambil tangan kanannya memukul-mukulkan 
tamborein dari tutup-tutup botol yang dipipihkan ke tangan kirinya. Dengan 
syair lagu yang lebih sering salah dan nada yang amat tidak beraturan ia 
mengakhiri lagu pertamanya, dan disambung dengan lagu kedua yang isinya amat 
terang sebagai sebuah permintaan kepada penumpang untuk memberinya uang.


  Usai itu ia mengangsurkan gelas plastik bekas air mineral ke wajah-wajah para 
penumpang. Satu dua penumpang memberinya uang recehan, lebih karena kasihan, 
sebagian lagi hanya menggeleng dan sisanya tetap asyik dengan lamunannya 
masing-masing. Selagi angkot masih melaju anak itu melompat turun meninggalkan 
para penumpang angkot yang memandangnya dengan berbagai komentar dan kecamuk 
perasaan dalam benak masing-masing hingga akhirnya anak itu hilang dari 
pandangan ketika angkot melewati sebuah tikungan.


  Di tahun 90-an awal, seingat saya, jika kita bepergian kemanapun, kita hanya 
menjumpai pengamen satu-dua di bis-bis kota. Di tahun 90-an akhir ada banyak 
peningkatan, bukan lagi satu-dua di bis-bis kota, tetapi dua, atau tiga atau 
empat atau bahkan lebih bayak dari itu di satu bis kota yang kita tumpangi. Di 
tahun 2000-an, peningkatannya jauh lebih spektakuler lagi karena di samping 
intensitasnya yang jauh membengkak, ekstensitasnya pun menyebar dengan sangat 
luas. Para "seniman jalanan" kini menjangkau angkot-angkot dan mikrolet yang 
penumpangnya paling minim sekalipun hingga ke kota-kota kecil dan pinggiran 
kota seperti kenyataan yang saya ungkapkan di atas.

 
  Dulu, yang namanya anak jalanan sesungguhnya bukanlah melulu anak-anak. 
Tetapi lebih banyak yang merupakan orang dewasa atau beranjak dewasa. Kini anak 
jalanan lebih banyak yang memang anak-anak bahkan balita. Perkembangan dan 
pertumbuhan kuantitasnya semakin hari semakin mencengangkan. Dan karena 
demikian banyaknya, hal itu kemudian seolah-olah hanya sesuatu yang biasa tanpa 
dirasa sebagai suatu yang menakutkan dan mengkhawatirkan, padahal di jalanan, 
hal yang paling buruk yang tidak dapat kita bayangkanpun bisa saja terjadi.

 
  Dulu, semasa saya masih anak-anak, selepas Ashar akan makan lalu menghafal 
pelajaran diajari orangtua atau kakak, selepas Maghrib akan pergi ke Mushalla 
untuk mengaji dan bersosialisasi, selepas Isya pergi tidur, selepas Shubuh 
bermain bola di lapangan, ketika matahari mulai meninggi akan berjalan kaki 
berbarengan ke sekolah, pulang sekolah rame-rame mandi di kali, selepas Dzuhur 
bermain layang-layang, kelereng atau petak umpet sampai waktu Ashar menjelang. 
Setiap hari diisi dengan kegembiraan, tanpa perlu pusing dengan urusan-urusan 
yang tidak perlu menjadi pikiran anak-anak karena itu urusan orang dewasa.

 
  Apa hendak dikata, kini anak-anak harus hidup di dua sisi. "Anak-anak harus 
berkelahi dengan waktu, anak-anak tak sempat ni’mati waktu, anak-anak tidur 
dengan perut lapar dan diganggu mimpi buruk, anak-anak menjadi pecandu narkoba, 
anak-anak dieksploitasi sampai kering, anak-anak dipaksa untuk memecahkan 
karang hanya dengan jari yang lemah terkepal.(Bahwa ini tidak terjadi pada 
semua anak, ya Alhamdulillah) Fenomena anak jalanan sesungguhnya hanya 
merupakan sebagian kecil, hanya salah satu sisi cerita, dari representasi 
kenyataan yang terjadi terhadap anak-anak dalam kehidupan kita. Anak-anak lebih 
banyak yang menjadi korban dan alat tinimbang mendapatkan hak-hak yang 
seharusnya mereka terima. Semestinya masa anak-anak adalah masa-masa tertawa, 
bermain dan gembira. Semestinya masa anak-anak adalah masa-masa bermanja yang 
penuh ceria. Semestinya masa anak-anak adalah masa untuk belajar dan memupuk 
cita-cita. Tidak semestinya keluguan anak-anak menjadi bahan eksploitasi
 dari orang yang lebih dewasa. Tidak semestinya kepolosan anak-anak dijadikan 
bahan untuk menopang kehidupan malas orang tua. Tidak semestinya anak-anak 
diajak ikut menjadi korban keadaan "cuaca buruk" orang-orang sekitarnya.


  Mungkin tidak separah itu, tetapi kenyataan bahwa anak-anak kian hari kian 
banyak yang merintih mencari nafkah di jalanan menunjukkan kepada kita bahwa 
masyarakat ini tengah mengidap penyakit yang luar biasa berbahaya, yang hanya 
bisa dirasakan oleh mereka yang mengerti nilai-nilai kemanusiaan, tanpa perlu 
ia orang Islam atau bukan.

 
  Kenyataan bahwa sangat banyak anak-anak menjadi korban kekerasan orang tua 
atau orang yang lebih tua; kekerasan kata-kata, kekerasan fisik, bahkan 
kekerasan seksual. Demikian banyak anak-anak yang dimaki, dicaci, dipukul, 
diterlantarkan dan bahkan dibunuh dan atau diperkosa.


  Tahukah Anda bahwa mereka itu sebenarnya anak-anak kita juga. Anak-anak 
muslim, anak-anak yang akan melanjutkan eksistensi kita di dunia ini untuk 
menjadi hamba Allah SWT.? Lalu bagaimana mereka menjadi abdi Allah jika 
kenalpun tidak dengan Allah? Bahkan banyak yang tidak kenal orangtua mereka 
sendiri. Kita baru ribut kalau ada berita bahwa mereka dibawa ke gereja, di 
kasih makan lalu dikristenkan. Kita baru ribut kalau ada berita ada anak yang 
dibunuh setelah disodomi atau diperkosa, kita baru ribut kalau ada berita ada 
anak yang mati karena over dosis.


  Sesungguhnya, jika negara ini tidak salah diurus, hal itu dapat kita hindari 
mengingat demikan banyak potensi untuk kemakmuran dan kemajuan yang dimiliki 
bangsa besar ini. Jika pengurusan negara ini benar sejak awal, pastilah 
Undang-Undang Dasar yang antara lain menyatakan "Fakir miskin dan anak 
terlantar dijamin (kehidupannya) oleh negara" dapat direalisasikan. Bahkan 
mungkin teks seperti itu akan dihilangkan dari UUD karena tidak ada lagi yang 
namanya Fakir Miskin dan Anak Terlantar.

 
  Okelah, terlalu muluk mendambakan negara seperti itu, lebih baik kita mulai 
dari diri kita masing-masing. Mari kita berkaca, tanyakan pada diri-diri dalam 
refleksi di cermin itu, apa yang telah kau pikirkan (pikirkan saja dulu) untuk 
anak-anak bangsa. Ambil premis-premis minor yang biasa kita dapati dalam 
keseharian kita, lalu simpulkan apa yang tengah terjadi terhadap anak-anak 
bangsa. Penyadaran terhadap diri-diri untuk ikut peduli dan memikirkan terhadap 
apa yang tengah terjadi terhadap dunia anak-anak saja sulitnya bukan main, 
karena terlalu banyak yang berfikir; "Yang penting bukan anak saya".


  Tidak peduli dan tidak ambil peduli. Jangan lagi ini terjadi. Jika kepedulian 
itu sudah tumbuh, mulailah tengok kanan kiri kita, amati, amat banyak anak-anak 
di sekitar kita, bahkan mungkin anak kita sendiri dan anak dari keluarga kita, 
yang membutuhkan sedikit (sedikit saja dulu) kasih sayang dan sentuhan lembut 
di kepala. Saringlah, mana prioritas utama untuk dibantu, karena tidak mungkin 
satu orang membantu semuanya. Selanjutnya Anda akan tahu apa yang harus 
dilakukan, dan akan tahu bagaimana ni’matnya bisa membantu anak-anak meni’mati 
masa kecil mereka, dan tanpa sadar anda telah menegakkan potret anak masa depan 
yang tadinya tergeletak tak terurus dan kusam diterpa cuaca ketidakpedulian.


  Sesungguhnya kuncinya cuma dua; pertama taqwa, kedua perkataan yang baik dan 
benar. Apa itu taqwa, apa saja isinya taqwa, bagaimana realisasi taqwa, 
silahkan Anda gali Al-Quran dan Sunnah Nabi. Bacalah Al-Quran, pahami isinya 
(dengan terjemahnya cukup banyak membantu). Pelajari Sunnah Nabi, bagaimana 
Nabi bersikap terhadap anak-anak, hak-hak anak dan sebagainya dan sebagainya. 
Memahami ajaran Islam tentang anak-anak dari sumber aslinya akan lebih membekas 
di hati kita. Perkataan yang baik dan benar siapapun tentu tahu hakikatnya, 
termasuk pentingnya kata-kata positip terhadap pembentukan masa depan seorang 
anak. Pada akhirnya, "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang 
seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka 
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka 
bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." 
(An-Nisaa : 9) 
  Wallahu a’lam. 
  

 Ingin berpartisipasi dalam program Dana Abadi Pemberdayaan Umat ?
 silahkan kunjungi : http://dapu.blogsome.com/
  
 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke