Saya fw-kan comment saya atas posting yang sempat saya 
terima. Dari posting tsb gagasan yang menrik perhatian 
ialah generalisasi generasi salaf sebagai generasi yang 
ma'shum, sehingga dalam memahami ajaran Islam harus 
disandarkan pada generasi salaf.

----------------------------
Saya coba komentari paragraph yang belakang saja dech... 
Yaitu soal generlasisi ma'shum bagi sebuah generasi.

Menurut yang saya pahami, yang namanya ma'shum itu ya 
individunya. Jadi kalau sebuah generasi dinyatakan ma'shum 
saya sulit memahaminya (maafkan kelemahan saya). Yang 
jelas generasi salaf dimana Rasulullah Muhammad saw hidup 
memang jelas terkendali dibawah pengawasan Nabi. Bukankah 
kalau ada kesalahan dan permasalahan yang terjadi bisa 
langsung dimintakan solusinya kepada Nabi. Dan selama 
periode kenabian Muhammad saw hingga wafat beliau 
merupakan masa pembuatan Al Hadits sebagai sumber ajaran 
Islam (sekedar tambahan bacaan ttg sejarah penulisan 
Hadist lihat di 
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_hadits).

Sedangkan hadist tentang Muhammad saw sebelum menjadi Nabi 
merupakan bagian sejarah beliau saja (yang sudah barang 
penuh i'tibar); dan prilakunya tidak serta merta sebagai 
Al Hadits sumber ajaran Islam. Karena Nabi Muhammad itu 
sebelum menjadi Nabi (menerima wahyu) tidak tahu apa itu 
iman kepada Allah (lihat QS.42:52).

Generalisasi ma'shum bagi generasi semacam ini, 
dikhawatirkan membawa tuntutan untuk wajib mencontoh 
prilaku sahabat sebagaimana kwajiban kita mencontoh kepada 
Nabi Muhammad saw. Padahal yang ma'shum hanyalah Nabi 
Muhammad saja.

Prilaku Nabi Muhammad dan prilaku para sahabat itu setelah 
menjadi riwayat Hadits, maka hadist mauquf (berisi prilaku 
sahabat, bukan prilaku Nabi Muhammad) jangan dimasukkan 
sebagai asas syara', tetapi masukkanlah sebagai ijtihad 
sahabat (ijtihad tertinggi). Sekiranya kita mencontoh 
sahabat (generasi salaf lainnya) karena ketaatannya kepad 
Allah dan Rasul-Nya maka pada dasarnya sama juga dengan 
kita mencontoh ulama-ulama atau syeikh-syeikh sekarang 
atau siapapun asalkan dikarenakan ketaatannya pula kepada 
Allah dan Rasul-Nya. Kalau kita jujur seperti Abu Bakar ra 
bukan berarti kita itu mengikuti Abu Bakar, tetapi 
mengikuti ajaran Allah swt. Harapannya, penonjolan 
prestasi besar para sahabat dan tokoh umat Islam itu 
jangan menjadikan kita saling mengolok dan berpecah belah.

Ilustrasi lain: hadist yang menyuruh kita untuk mencontoh 
khulafaurrasyidiin. Sebutan 'khulafaurrasyidiin' dipahami 
sebagai khalifah yang empat (Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman 
ra dan Ali ra saja) dikhawatirkan merupakan akibat 
generalisasi ma'shum bagi generasi salaf. Lain halnya 
kalau khulafaurrasyidiin itu dipahami sebagai khalifah 
yang rasyid yang ada di dunia hingga akhir zaman kelak. 
Maka ke-rasyid-annya itulah yang harus dicontoh oleh umat 
Islam itu. Dan saat Nabi Muhammad mensabdakan perintah 
untuk mencontoh khulafaurrasyidiin itu, bukankah keemapt 
sahabat besar itu belum menjadi khalifah ? Memang, yang 
saya pahami ttg sebutan khulafaurrasyidiin itu, baru 
sebatas istilah dalam sejarah (tarikh) yang berkembang 
setelah Nabi Muhammad saw wafat. Apakah mungkin Nabi 
Muhammad menggunakan sebutan khulafaurrasyidiin dalam 
pengertian tarikh itu (yang hanya empat sahabat besar itu 
saja) ? Wallhau'alam.
Maaf, saya hanya tahu sedikit sekiranya ada yang kurang 
lengkap silahkan dilengkapi. Kalau ada yang salah silahkan 
dikoreksi. Jika ada harapan dan kekhawatiran yang saya 
sampaikan semata-mata hanyalah untuk mengingatkan kita 
bersama dan bukan sebagai tuduhan atau prasangka. 
Sekiranya saya merujuk kepada pemahaman sendiri, itu 
semata-mata untuk memberikan penekanan bahwa hal itu bisa 
dianggap dangkal dan sangat mudah untuk dibantah. Semoga 
Allah menunjuki kita ke jalan yang benar. Aamin.

joko s

On Thu, 1 Nov 2007 08:33:45 -0700 (PDT)
  Abdus Shomad Muhammad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

     ----- Forwarded Message ----
     From: farid_fadh <[EMAIL PROTECTED]>
     To: [EMAIL PROTECTED]
     Sent: Wednesday, October 31, 2007 2:43:58 PM
     Subject: [assunnah] Re: Makna: Kekeruhan dalam Jamaah 
Lebih Baik daripada Kejernihan

     assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

     ketika aqidah shohihah

....del ....

     Dan kembali kepada akidah dan manhaj salaf adalah 
jalan keluar dari seluruh masalah ini. akan tetapi manhaj 
yang haq ini tidaklah melazimkan orang yang berjalan 
diatasnya berarti ma'shum. Tidak ada manusia dikolong 
langit ini yang bebas dari kesalahan..apalagi kita yang 
bukan nabi dan rasul. akan tetapi generasi salaf secara 
keseluruhan, bukan individu per individu, adalah ma'shum. 
Maka penyandaran kepada mereka tidak buruk dan bahkan 
harus. karena tidaklah seseorang memahami al-quran dan 
as-sunnah dengan benar kecuali dengan pemahaman mereka, 
generasi terbaik yang pernah ada dimuka bumi. wallahu 
ta'ala a'lam. Jika ada kesalahan mohon diluruskan. 
wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
     Abu shofiyah farid fadhillah
     KFUPM, Dhahran, Saudi arabia
========================================================================================
"Sambil berpuasa, ikuti Netkuis Ramadhan 1428 H. Menangkan Laptop, Ipod dan HP 
Nokia di akhir periode netkuis dan dapatkan Flash disk di tiap minggunya dengan 
mengikuti Netkuis di http://netkuis.telkom.net/";
========================================================================================

Kirim email ke