--- In [EMAIL PROTECTED], "suhana032003" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

ini orang sebenarnya hafal nda rukun iman dan rukun islam sich??

hmm..memang anda pikir, MUI mengeluarkan fatwa dengan dalil perkataan
MUI sendiri???
hmm..aku jadi ingat kajian yg dibawa oleh bang Nirwan Syafrin
(pengantin baru-:)dan menyinggung masalah RT. Waktu itu aku
berkomentar.. "Nda usah GR lah para suami..karena kami wanita mentaati
kalian, bukan karena kalian yg memerintahkan kami, tapi karena Allah
yg meminta kami (wanita) untuk mentaati suami"

nah..begitu juga terhadap MUI yg mempunyai otoritas khususnya terhadap
umat muslim untuk mentaatinya, karena Allah yg meminta kita untuk
mentaatinya, dikarenakan apa2 yg dikeluarkan/dikatakan oleh mereka,
hanya penyambung perkataan Allah melalui firman2Nya.

jadi..kita umat muslim mentaati MUI bukan karena MUInya, tapi karena
apa2 yg dikatakan oleh Allah melalui firman2Nya dan Hadist Rasulullah
yg disampaikan/dibacakan lagi oleh MUI.

jelas..perkataan anda yg mengatakan ikut fatwa MUI tidak termasuk
rukun iman itu salahlahhhhhhhhhhhhhhh...karena secara tersirat anda
tidak percaya kepada Allah, Rasul Allah dan kepada Kitab Allah
(Al-Qur'an) yg merupakan rukun iman dan anda juga tidak bersikap
konsukwen sebagai muslim atas Kalimat Syahadat yg anda ucapkan tiap
sholat dan tercantum dalam rukun islam. 

kciannn dechhh loeeee...

salam
hana


--- In [EMAIL PROTECTED], "Zainal Fikri" <fikrimk@> wrote:
>
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> ikut fatwa MUI tidak termasuk dalam rukun iman...
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], Anwar Djaelani <anwar_asa@> wrote:
> >
> > Ass. Wr. Wb.
> > 
> > Inilah sebagian wajah "liberal" dosen di sejumlah
> > Universitas Muhammadiyah. 
> > Di Jawa Pos edisi 9 November 2007 (terlampir di bawah
> > ini), Pradana Boy -dosen Fakultas Agama Islam
> > Universitas Muhammadiyah Malang-, menulis opini
> > berjudul "Relativitas Kesesatan Aliran Sesat". Dari
> > judul itu, sangat terlihat dia ingin merelatifkan
> > fatwa MUI tentang sesatnya aliran –semisal- Al-Qiyadah
> > Al Al-Islamiyah. Dia menggugat, dengan mengatakan
> > bahwa "Jika MUI merujuk kepada seperangkat kaidah yang
> > dihasilkan oleh ulama
> > tertentu, MUI telah melakukan kesewenang-wenangan.
> > Seolah-olah MUI
> > memiliki hak paling mutlak untuk menentukan metode ini
> > benar dan metode
> > ini salah." 
> > Boy merelatifkan fatwa MUI itu dengan –antara
> > lain-menyoal  model tafsir Al-Qu'ran yang dipakai MUI.
> > Dia menukas, "Versi siapa?" Dan, yang "menarik", pada
> > saat yang sama dia menyodorkan (untuk dibandingkan)
> > dengan sejumlah "mufassir"- semisal- Nasr Hamid Abu
> > Zayd, Hassa Hanafi, Arkoun, Fazlur Rahman, dan
> > nama-nama lain yang "sejenis" dengan itu. Bahkan, tak
> > ragu pula dia untuk menonjolkan "tafsir" dari kalangan
> > nonmuslim
> > seperti Anthony John, John Wansbrough, atau Andrew
> > Rippin.
> >   
> > Sementara, di Sabili edisi 15 November 2007,
> > dikabarkan bahwa Maarif Jamuin (dosen Sosiologi
> > Universitas Muhammadiyah Surakarta) melecehkan hadits.
> > Di dalam kelas, dia menyatakan, pertama, bahwa hadits
> > adalah puisi tanpa realita dan makna. Kedua, orang
> > kere tidak bisa masuk surga, yang bisa masuk surga
> > hanya orang kaya. Ketiga, Akhwat pendiam adalah akhwat
> > bodoh. Keempat, mahasiswi bercadar dikatakan, "Apa
> > kamu sudah suci sendiri."
> > 
> > Akhirnya, saya ingin menyapa petinggi Muhammadiyah:
> > "Dosen berwajah `liberal' seperti inikah dosen ideal
> > yang diimpikan oleh Muhammadiyah?"
> > 
> > M. Anwar Djaelani
> > 
> > Wass. Wr. Wb.
> > 
> > 
> > Jawa Pos 09 Nov 2007,
> > 
> > Relativitas Kesesatan Aliran Sesat
> > 
> > Oleh Pradana Boy ZTF
> > 
> > MENYUSUL gonjang-ganjing lahirnya sejumlah aliran
> > sesat di Indonesia,
> > Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sepuluh
> > kriteria untuk
> > menilai apakah sebuah aliran bisa dikatakan sesat atau
> > tidak (Jawa Pos,
> > 6/11/2007). Dengan lahirnya sepuluh kriteria tersebut,
> > masyarakat Islam
> > di Indonesia akan memiliki pedoman yang bisa dirujuk
> > ketika berhadapan
> > dengan munculnya sejumlah aliran atau ajaran yang
> > dirasa "tidak lazim".
> > 
> > Tetapi, pada aspek lain, lahirnya kriteria MUI
> > tersebut tetap menyisakan
> > sejumlah persoalan mendasar. Pertama, beberapa
> > kriteria tidak bersifat
> > pasti. Artinya, sebagai sebuah ketentuan hukum yang
> > mengikat, semestinya
> > fatwa yang dikeluarkan MUI berkaitan dengan kriteria
> > aliran sesat itu
> > bersifat pasti dan tidak mengundang multiinterpretasi.
> > 
> > Beberapa kriteria tersebut mengundang penafsiran
> > beragam. Misalnya, MUI
> > menyebutkan bahwa salah satu kriteria sebuah aliran
> > dikatakan sesat
> > adalah ketika menafsirkan Alquran di luar ketentuan
> > kaidah-kaidah tafsir
> > yang berlaku.
> > 
> > Membingungkan
> > 
> > Pernyataan itu sungguh membingungkan dan memiliki
> > potensi "pemaksaan"
> > kebenaran yang sangat tinggi. Persoalan yang segera
> > mengemuka adalah
> > kaidah tafsir manakah yang dirujuk MUI? Dalam kajian
> > studi Alquran,
> > tentu saja ada kaidah-kaidah dasar yang harus dirujuk
> > ketika seseorang
> > ingin melakukan penafsiran dan pemahaman terhadap
> > Alquran.
> > 
> > Namun, sebagai produk manusia, metode atau kaidah
> > pemahaman dan
> > penafsiran Alquran senantiasa mengalami perkembangan
> > dan bersifat
> > kompleks. Studi Alquran pada masa aahabat, misalnya,
> > tentu akan berbeda
> > coraknya dengan studi-studi serupa yang berlangsung
> > pada masa
> > tabi'in.
> > 
> > Demikian pula, kajian Alquran pada periode tabi'in
> > memiliki
> > kecenderungan yang berbeda dengan pada masa imam
> > mazhab, misalnya.
> > 
> > Kompleksitas metodologi kajian Alquran bisa dibuktikan
> > dengan merujuk
> > kepada beragamnya cara yang muncul untuk mendekati
> > Alquran. Misalnya,
> > ada tafsir bi al-ma'tsur untuk menyebut penafsiran
> > yang menyandarkan
> > diri pada riwayat-riwayat hadis. Sementara ada juga
> > yang diistilahkan
> > dengan tafsir bi al-ra'yi, yaitu penafsiran Alquran
> > yang bertumpu
> > pada kerja-kerja akal. Belakangan juga muncul metode
> > tafsir maudhu'i
> > (tematik), yakni menafsirkan Alquran dengan cara
> > mengelompokkan
> > tema-tema tertentu yang dikandung Alquran.
> > 
> > Selain itu, sejumlah pemikir memiliki cara-cara unik
> > dalam mendekati
> > Alquran. Untuk menyebut beberapa contoh, bisa
> > ditampilkan Ahmad
> > Khalafullah yang mendekati Alquran dengan analisis
> > sastra melalui
> > karyanya al-Fann al-Qashashi fi Alquran al-Karim; atau
> > Nasr Hamid Abu
> > Zayd yang tampil dengan analisis teks dalam memahami
> > Alquran melalui
> > Mafhum al-Nash-nya.
> > 
> > Belum lagi menyebut Mawlana Abdul Kalam Azad, Fazlur
> > Rahman, Mohammed
> > Arkoun, Riffat Hassan, Sayyid Qutb, Hassan Hanafi,
> > Muhammad Sahrour,
> > Farid Esack, atau Quraish Shihab yang memiliki
> > metode-metode tersendiri
> > dalam memahami dan menafsirkan Alquran. Juga dari
> > kalangan nonmuslim
> > seperti Anthony John, John Wansbrough, atau Andrew
> > Rippin.
> > 
> > Jika MUI merujuk kepada seperangkat kaidah yang
> > dihasilkan oleh ulama
> > tertentu, MUI telah melakukan kesewenang-wenangan .
> > Seolah-olah MUI
> > memiliki hak paling mutlak untuk menentukan metode ini
> > benar dan metode
> > ini salah. Padahal, metode pemahaman dan penafsiran
> > Alquran bukanlah
> > Alquran itu sendiri.
> > 
> > Tegasnya, jika Alquran berasal dari Tuhan dan harus
> > diterima secara
> > tekstual sebagai hal yang benar secara qath'iy, metode
> > pemahaman dan
> > penafsiran berasal dari manusia dan karena itu tidak
> > mengenal
> > pemutlakan.
> > 
> > Kedua, sepuluh kriteria MUI itu juga menyebutkan bahwa
> > "kegemaran"
> > mengafirkan kelompok lain merupakan indikator sesatnya
> > sebuah aliran.
> > Selain tidak logis, pernyataan tersebut sangat ambigu.
> > Dalam
> > kenyataannya, tidak sedikit ormas Islam garis keras
> > yang sering
> > mengafirkan sesama muslim. Jika merujuk kepada
> > kriteria ini, sejumlah
> > ormas Islam Indonesia bisa dikelompokkan sebagai
> > aliran sesat.
> > 
> > Padahal, dari aspek-aspek lain, ormas-ormas itu justru
> > berusaha
> > menampilkan Islam yang murni dan otentik. Kriteria ini
> > dengan sendirinya
> > menggiring kepada kesimpulan bahwa hanya Islam moderat
> > -yang hampir
> > tidak pernah terlibat dalam tindakan takfir
> > (pengafiran- lah yang paling
> > benar di Indonesia.
> > 
> > Padahal, tidak demikian kenyataannya. Baik Islam
> > moderat, radikal maupun
> > liberal, sama-sama memiliki potensi kebenaran
> > masing-masing.
> > 
> > Selain itu, kriteria tersebut berpotensi menjadi
> > "senjata makan tuan."
> > Artinya, jika pengafiran menjadi kriteria sesatnya
> > sebuah kelompok,
> > sangat mungkin MUI adalah bagian dari aliran sesat itu
> > sendiri. Dalam
> > banyak hal, MUI sering bertindak sebagai "hakim" yang
> > memiliki hak
> > istimewa untuk menyatakan sebuah aliran atau kelompok
> > sesat atau tidak,
> > terlarang atau tidak.
> > 
> > Meski tidak secara eksplisit menyebut sebuah aliran
> > kafir, akivitas MUI
> > dalam melabel dan mengelompokkan aliran dan kelompok
> > tertentu sebagai
> > sesat, terlarang, dan tidak Islam, sebagaimana terjadi
> > pada pelarangan
> > paham Islam liberal, dan sesatnya sejumlah aliran
> > sesat, memiliki
> > hakikat yang sama dengan pengafiran.
> > 
> > Di sinilah apa yang sering diistilahkan Khaled Abou el
> > Fadhl sebagai
> > "tentara Tuhan yang sewenang-wenang" menafsirkan
> > ajaran Islam, muncul ke
> > permukaan.
> > 
> > Pradana Boy ZTF, dosen Universitas Muhammadiyah
> > Malang, alumnus
> > Australian National University, Canberra.
> >  
> > 
> > 
> > 
> >      
>
____________________________________________________________________________________
> > Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
> > http://www.yahoo.com/r/hs
> >
>

--- End forwarded message ---


Kirim email ke