Assalamu'alaikum wr.wb
 
Boleh saya ikut nimbrung masalah ini. Karena tayangan TV di Indonesia juga 
bagian dari program Yahudi - Nasrani untuk memperlemah iman dan akhlak ummat 
Muslim, sehingga kita memang harus mencegah - meminimalisasi anak2 kita dari 
tayangan2 tsb.
 
1. OK bisa menekan pemerintah (caranya ???)- mungkin bisa melalui jalur KPI. 
Tetapi lagi-lagi jalur ini tidak efektif, karena negara kita 
    yang sekuler yang membolehkan segala macam tayangan tanpa sensor : 
Kadang-kadang terjamahan bahasa Indoesianya saja 
    tidak disensor, misalnya ucapan2 - kata-kata yang jelek dari kartun anak; 
Goblok lah,, Begolah dll.Belum lagi perilaku kasar orang 
    tua terhadap anak yg ada di dalam sinetron2 (atau kekasaran antar sesama 
mereka).
 
2. Sehingga menurut saya yang paling efektif adalah kita bisa melakukannya 
melalui keluarga.
    Tayangan dibatasi di dalam keluarga : misalnya Untuk hari biasa : Senin - 
Sabtu hanya boleh nonton Sore sampai menjelang 
     magrib.   Setelah magrib NO TV! Hari Minggu : bisa dimulai dari jam 07.00 
- 09.00 - lalu dilanjutkan sore harinya.
 
    Terus.. gimana diselang-selang jam tersebut ? Kita harus menyediakan 
kegiatan untuk anak; kalau hari biasa kita minta mereka 
    belajar - membaca pelajaran walau 30 menit. Untuk hari libur, atau saat 
kita ada waktu luang kita berikan mereka cerita-
    cerita yang menarik dan mendidik; cerita-cerita islami (nabi-nabi) atau 
cerita pengalaman kita dimasa kecil. Banyak buku2 dijual 
    untuk kisah2 yang menarik. Seperti Kisah-Kisah Hewan di dalam AL Qur'an 
dari penerbit Gema Insani...
 
   Memang ini dibutuhkan komitmen dari semua anggota keluarga - termasuk 
pembantu (bagi yang mempunyainya) dan tentunya tugas 
   kita selalu mengecek ke rumah sewaktu-waktu... 
 
   Bagi keluarga yang mempunyai DVD - VCD, kisah-kisah seperti Ultraman dll 
dapat diimbangi dengan video2 dari Syamil; seperti Tupi 
   dan Ping-ping atau kisah2 nabi lainnya yang cukup menarik.
 
   Cara lain seperti kata Pak Nizami adalah dengan mendampingi mereka saat 
menonton... tetapi untuk SINETRON2, kita harus keras 
   kepada anggota keluarga bahwa tidak ada manfaatnya menonton ini...
 
  Apakah ini berhasil ?? ini adalah salah satu usaha yang saya terapkan di 
dalam keluarga saya. Memang belum 100 % berhasil, 
   tetapi ini salah satu cara meminimalisir pengaruh tsb.
 
  Semoga bermanfaat..
 
  Wassalam
 
 
 
 Indra SH. Daroesman


      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke