dari 
http://www.eramuslim.com/ustadz/fqk/7c14002348-sholat-iedul-adha-mana-harus-diikuti.htm

Sholat Iedul Adha Mana yang Harus Diikuti

Jumat, 14 Des 07 10:39 WIB


Assalamu 'alaikum Ustadz,

Setelah terjadi perbedaan yang signifikan pada penetapan hari raya idul 
fitri 1 syawwal 1428 H, maka kali ini pada waktu idul adha muhammadiyah, 
NU, MUI dan ormas Islam lainnya SEBAGIAN BESAR telah menetapkan tanggal 
20 Desember sebagai hari raya idul adha.

Sementara pemerintah saudi arabia menetapkan wukuf tanggal 18 Desember 
2007, sehingga idul adha versi arab 19 Desember 2007.

Mana waktu yang paling afdhol yang harus kami ikuti? Karenasetahu saya 
(mohon dikoreksi kalo salah) Idul adha itu semestinya mengacu ke waktu 
wukuf di arafah atau sebagai bagian dari ritual ibadah haji.

Mohon dalil yang memperkuat jawaban ustadz sehingga kami mantap dalam 
menjalankan ibadah sholat ied

Terima kasih

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Ksnusantara
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ini adalah pertanyaan 'langganan' yang datang tiap menjelang dua hari 
raya. Dansejak dahulu seringkali mengganggu rasa penasaran kita. Setelah 
urusan perbedaan ketetapan jatuhnya Hari Idul Fithri dua bulan lalu, 
sekarang giliran perbedaan ketetapan 'Idul Adha.

Sehingga ada teman berseloroh, kalau kemarin tokohnya Muhammadiyah 
'melawan' semua ormas termasuk Pemerintah, sekarang tokohnya semua ormas 
Islam bersama Pemerintah 'melawan' kerajaan Saudi Arabia. Dengan 
pengecualian Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) yang tetap setia ikut 
Saudi Arabia.

Pasalnya apalagi kalau bukan urusan perbedaan hasil ijtihad ketika 
rukyatul hilal awal bulan Dzul-Hijjah kemarin. Dan tentunya perbedaan 
hasil hisabnya juga.

Ijtihad Pemerintah Indonesia dan Ormas-ormasnya

Pemerintah RI (DEPAG) bersama dengan ormas-ormas Islam di Indonesia, 
bahkan juga dengan Malaysia, sepakat menyatakan tanggal 10 DZulhijjjah 
jatuh pada hari Kamis bertepatan dengan tanggal 20 Desember 2007.

Melalui sidang itsbat diputuskan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1428 Hijriah 
jatuh pada Selasa (11/12), sehingga hari raya Idul Adha 1428 Hijriah 
jatuh pada Kamis (20/12).

Ketua Badan Hisab Rukyat Depag, Muchtar Ilyas mengatakanbahwaijtima' 
menjelang awal bulan Dzulhijah 1428 Hijriah pada Senin (10/12) terjadi 
sekitar pukul 00. 41 WIB dengan ketinggian hilal antara 4-6 derajat 30 
menit. Dan ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih di bawah 
ufuk antara 5 derajat 30 menit sampai 3 derajat 30 menit.

Jadi rukyatul hilal yang diselenggarakan pada hari Ahad 9 Desember 
memutuskan bahwa malam itu kita belum lagi masuk ke bulan Dzul-Hijjah, 
karena hilal dianggap belum nampak. Maka keesokan harinya, Senin, masih 
terbilang bulan Dzul-Qa'dah tanggal 30. Tanggal 1 Dzul-Hijjah jatuh hari 
Selasa.
Hasil Keputusan Pemerintah Saudi Arabia

Berbeda dengan Indonesia dan Malaysia, pemerintah Arab Saudi malah 
memutuskan hari Ahad tanggal 9 Desember itu sebagai hari terakhir bulan 
Dzul-Qa'dah, karena hilal telah terlihat sore itu. Otomatis besok 
harinya Senin 10 Desember sudah masuk tanggal 1 Dzul-Hijjah. Dan tanggal 
9 Dzul-Hijjah jatuh pada hariSelasa tanggal 18 Desember, sebagai hari 
Arafah. Para jamaah haji akan memenuhi padang Arafah di hari itu. 
Keeseokan harinya, RAbu 19 Desember adalah Hari Idul Adha.

Umat Islam Bingung

Dan umat Islam pun bingung...

Mungkin kalau yang bingung sekedar umat Islam, masih wajar. Tapi kalau 
para ustadz dan penceramahnya juga ikut-ikutan bingung, suasana akan 
semakin seru.

Kenapa para ustadz jadi bingung? Sebabmereka akan terus menerus dicecar 
pertanyaan oleh jamaahnya, padahal mereka sendiri pun tidak juga masih 
berdebat dengan sesamanya tentang urusan ini. Jadi sama-sama tidak kalah 
bingungnya.

Bagaimana tidak bingung, kalau yang satu bilang begini dan yang satu 
bilang begitu. Yang satu komitmen kepada keputusan ormasnya atau 
Pemerintahnya, yang lain bilang kalau urusan Idul Adha serahkan saja 
pada Pemerintah Saudi Arabia.

Lalu bagaimana ini?

Maka kolom inilah yang kemudian jadi sasaran kiriman pertanyaan pembaca 
Eramuslim. Sekarang giliran kami yang bingung untuk menjawab. Mau tidak 
mau harus buka kitab untuk mencari rujukannya. Mungkin dikira kami tidak 
bingung, padahal sama saja, bingung juga.

Sebenarnya kalau kita buka kitab fiqih, kita akan dapati perbedaan ini 
sudah ada sejak zaman dahulu. Perbedaannya berkisar pada pertanyaan 
mendasar, apakah bumi kita satu mathla' atau terdiri banyak mathla'? 
Apakah dimungkinkan terjadinya perbedaan hasil rukyat antara satu 
wilayah dengan wilayah lain?

Maka dalam hal ini memang berkembang dua pendapat.

1. Pendapat Keragaman Mathla'

Mazhab Asy-Syafi'i termasuk yang menerima konsep perbedaan mathla'. 
Antara satu wilayah di muka bumi dengan wilayah yang lain, boleh saja 
terjadi perbedaan hari dalam menjatuhkan tanggal.

Bahkan untuk wilayah yang berdekatan, mazhab ini mengatakan setidaknya 
dalam jarak 24 farsakh sudah dimungkinkan terjadinya perbedaan Hari Raya.

Maka kalau sekarang ada yang berprinsip ikut kepada Keputusan Pemerintah 
negeri sendiri, walaupun berbeda pendapat dengan pemerintah Saudi 
Arabia, landasan mereka adalah ijtihad ini.

Landasannya bahwa masalah penetapan hari raya tiap wilayah di negeri 
Islam berhak untuk melakukan ijtihad sendiri dengan melakukan rukyatul 
hilal secara mandiri, bahkan hisab tersendiri. Di Saudi mau lebaran hari 
apa, itu terserah keputusan para penguasa di sana.

2. Pendapat Wihdatul Mathla'

Di sisi lain, ada kalangan ulama yang berprinsip sebaliknya. Mereka 
mengatakan bahwa yang lebih kuat adalah bahwa di muka bumi ini 
seharusnya ada keseragaman. Kalau ada satu orang di satu titik di 
permukaan bumi melihat hilal, maka semua orang sedunia harus ikut 
terhadap apa yang dilihatnya.

Di negeri kita, ada beberapa kelompok yang setia menggunakan pendapat 
ini, untuk Hari Idul Fithri. Dan pendukungnya semakin banyak pada saat 
Hari Idul Adha. Alasan mereka, sebab Idul Adha adalah urusan wuquf di 
Padang Arafah. Puasanya saja disebut dengan puasa Arafah, maka kita 
harus ikut wuquf di Arafah.

Maka kalau untuk'Iedul Fitri ikut ijtihad Pemerintah lokal, tapi 
kalauuntuk 'Iedul Adha ikut ijtihad Pemerintah Saudi Arabia.

Kajian

Kedua ijtihad di atas sama-sama kuat landasannya. Pendapat pertama masuk 
akal dan secara tidak langsung sebenarnya kita di Indonesia dan bahkan 
umat Islam di seluruh dunia selama ini -sadar atau tidak sadar- telah 
menjalankannya.

Pendapat kedua sebenarnya juga sangat bagus, meski belum pernah terjadi. 
Mengapa? Karena ada hambatannya, yaitu kalau memang harus berlebaran 
bersama, maka harus ada satu pihak yang disepakati sebagai rujukan. Lalu 
siapakah orangnya atau apa lembaganya?

Ternyata juga tidak ada selama ini yang disepakati. Maka tiap negeri 
Islam berijtihad sendiri-sendiri.

Kecuali khusus momentum hari Arafah, di mana saat itu memang ada agenda 
besar umat Islam secara international, yaitu berwuquf di Arafah. Tapi 
pertanyaannya, siapakah yang menetapkan jatuhnya hari wuquf itu?

Jawabnya pemerintah Saudi Arabia. Mereka memang pihak yang paling 
berwenang untuk menetapkannya. Kalau sudah ditetapkan, setidaknya semua 
orang yang kebetulan ada di negeri itu akan ikut. Termasuk juga jamaah 
haji dari ratusan negara, semua akan wuquf hari itu pada hari yang sama.

Sayangnya, wilayah pemerintahan Saudi Arabia tidak membentang hingga ke 
seluruh dunia. Wilayahnya jauh lebih kecil dari Indonesia. Jumlah 
rakyatnya juga jauh lebih sedikit. Jadi yang taat kepada Pemerintah 
Saudi Arabia hanya terbatas pada lahan yang sempit dan julah massa yang 
terbatas.

Seandainya wilayah Saudi Arabia membentang dari ujung barat Maroko 
hingga ujung timur Marauke, mencakup semua negeri yang berpenduduk 
muslim, maka kemungkinan penyatuan hari Raya bisa dilakukan. Saat di 
mana umat Islam punya satu pemerintahan yang diikuti oleh 1, 5 milyar jiwa.

Kesimpulan

Jadi kalau kita melihat dua kelompok berbeda pendapat, yang satu mau 
lebaran hari Kamis dan yang satu mau Hari Rabu, ya kita tinggal 
tersenyum saja. Tidak perlu sakit hati atau ikut-ikutan heboh dan bingung.

Sebab keduanya memang punya landasan yang masuk akal, logis, kuat dan 
sama-sama hasil ijtihad para ulama senior mujtahid mutlak di masa lalu. 
Adanya perbedaan hari raya, bahkan Idul Adha, memang sudah lama terjadi. 
Walau pun pendukung wihdatul mathali' akan jauh lebih banyak saat Idul Adha.

Wallahu a'lam bishsawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
------------------------------------------------------------------


dari 
http://www.eramuslim.com/ustadz/fqk/7c15095756-pendapat-tentang-hari-raya-039ied.htm

Pendapat Tentang Hari Raya 'Ied

Selasa, 18 Des 07 08:48 WIB

Assalamu Alaikum wwb,

Saya dapat jawaban Ustad ttg Beda Iedul Adha Tahun ini di Mail list 
warga muslim di Adelaide. Oya, background saya fisika teori, jadi paham 
sedikit ttg astronomi. Terakhir saya punya kajian tentang hilal, yang 
merupakan dasar dalampenentuan awal bulan (sudah tentu termasuk hari raya).

Bisa di baca di site berikut:

Http://www.fajar.co.id/news.php?Newsid=43175

Http://www.tribun-timur.com/view.php?Id=50954&jenis=Opini

Http://www.fajar.co.id/news.php?Newsid=42454

Begini Pa' Ustad, alasan kenapa Arab Saudi bisa saja merayakan Iedul 
Adha pada hari Rabu, 19 Desember 2007, karena mereka berada pada zona 
waktu lebih lambat 4-5 jam dari Indonesia.

Bayangkan saja, pada tgl 29 Zulkaeddah, saat terbenam matahari di Papua, 
hilal belum tampak. 1 jam kemudian matahari terbenam di WITA andaikan 
tetap hilalnya belum nampak. Terus ke barat Sumatra, Bangladesh, India, 
Iran..... Dan ternyata hilal teramati di Arab Saudi.

Artinya apa? Artinya, wilayah timur (Indonesia) mencukupkan bilangan 
zulkaeddah hingga 30, sedangkan Arab Saudi tidak. Itu sebanya mereka (di 
Arab) Ied Adha jatuh tgl 19 Dec, sedangkan di Indonesia adalah keesokan 
harinya, 20 Dec.

Kekeliruan selama ini karena orang banyak yang tidak sadar bahwa 
kemunculan hilal mestinya DIINFORMASIKAN ke BARAT, bukan Ke TIMUR.

Demikian untuk sementara.

Wassalamu Alaikum wwb,

Tasrief Surungan

Postdoctoral fellow Institute for solid state physicsTokyo UniversityJapan

Tasrief Surungan (nama Asli)
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang anda sampaikan termasuk yang menguatkan hujjah mereka yang 
mendukung perbedaan hari Raya. Karena bumi itu bulat, maka tiap titik di 
permukaan bumi menghadap ke langit yang berbeda. Sehingga bila ada hilal 
terllihat dari suatu titik di muka bumi, tentu belum tentu akan terlihat 
di semua titik yang lain.

Pengetahuan tentang bulatnya bumi itu baru diakui secara umum pada 
beberapa abad terakhir ini saja. Orang-orang di masa nabi, masa shahabat 
bahkan pada ulama salaf, agaknya belum menyadari hal ini.

Sehingga wajar pulabila kita mendapati ada beberapa ulama yang tetap 
ingin menjadikan seluruh muka bumi ini satu mathla', seolah-olah bumi 
ini rata seperti hamparan pada permukaan meja.

Memang seandainya bumi kita ini rata seperti meja, kemungkinan hilal 
akan terlihat dari seluruh tempat di permukaan bumi sangat besar. 
Cita-cita satu bumi satu mathla' memang mudah direalisasikan seandainya 
bumi ini tidak bulat tapi rata seperti meja. Sebab semua orang di 
permukaan bumi bisa melihat hilal bersama-sama dan akan kelihatan dengan 
jelas.

Ta'addul Mathali'

Di masa lalu tidak terlalu banyak ulama yang berprinsip ta'addud 
al-mathali', yaitu dimungkinkannya negeri-negeri Islam berbeda dalam 
melihat keberadaan hilal. Suatu wilayah yang memang melihat hilal boleh 
melakukan istikmal atau penggenapan usia bulan menjadi 30 hari. 
Sedangkan di wilayah lain karena hilal nampak, maka mereka boleh 
memutuskan usia bulan menjadi 29 hari.

Salah satu yang bisa disebut sebagai pelopornya adalah 
Al-ImamAsy-Syafi'i (150-204 H). Beliausejak awal cenderung mengatakan 
bahwa tiap tempat di muka bumi punya mathla' sendiri-sendiri. Oleh 
karena itu bisa saja mereke saling berbeda dalam urusan melihat hilal. 
Ada wilayah yang bisa melihatnya dan ada wilayah tidak bisa melihatnya.

Seolah-olah beliau sudah menyadari kalau ternyata bumi itu bulat. 
Pemandangan langit tiap wilayah tidak akan sama. Di wilayah yang satu 
hilal terlihat, di wilayah lain hilal tidak terlihat.

Dan karena bumi kita ini berputar pada porosnya dari arah barat ke 
timur, maka secara semu, semua benda langit akan terlihat bergerak dari 
timur ke barat.Bila ada hilal terlihat di satu tempat, wilayah yang 
sebelah timur tempat tersebut tidak akan melihatnya. Yang berada di 
sebelah baratnya saja yang akan melihatnya.

Dan kira-kira hal itulah yang terjadi pada saat rukyatul hilal kemarin 
Ahad 9 Desember. Di wilayah Indonesia dan sekitarnya, umumnya orang 
tidak melihat hilal. Namun 4 jam kemudian, orang-orang yang berada di 
Saudi Arabia bisa melihatnya.

Tentunya secara logika, mereka yang tinggal di sebelah barat Saudi 
seperti Afrika dan seterusnya, akan punya kemungkinan melihat hilal, 
asalkan tidak tertutup awan atau halangan lain.

Dua Mazhab

Namun realitanya memang demikian, bahwa di tengah umat berkembang dua 
mazhab. Yang satu inginnya semua wilayah disatukan dalam penetapanhari 
Raya, lepas apakah hilal terlihat atau tidak. Yang lain memberikan 
kebebasan kepada penduduk negeri itu untuk menetapkan sendiri 
waktu-waktu ibadah mereka, sebagaimana perbedaan jam untuk menetapkan 
waktu shalat.

Sehingga sampai kapan pun kemungkinan terjadinya perbedaan hari Raya 
tetap akan terjadi. Kecuali ada semacam kesepakatan antara para penguasa 
dan fuqaha' di seluruh permukaan planet bumi ini untuk bersatu dalam 
penetapan hari Raya.

Bayangkan kapan bisa terjadi para ulama dan penguasa dunia Islam 
berkumpul jadi satu, lalu mereka sepakat menandatangani pakta bersama 
untuk penetapan hari Raya. Kalau hal itu bisa terjadi, wah tentu sangat 
indah.

Tapi...

Kapan ya kira-kira hal itu terjadi?

Seorang murid tiba-tiba nyeletuk, "Pak Ustadz, mungkin kalau bumi kita 
sudah rata seperti meja", Kami hanya terdiam sambil mikir.

Wallahu a'lam bishshawab, Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc




ada yang punya pendapat lain??


salam hangat

rediyans
rediyans.blogspot.com


Kirim email ke