Assalaamu alaikum
Berikut penjelasan lebih rinci dari pihak PKS dan tanggapan buat 
tulisan Rizky Ridyasmara di eramuslim itu ... entah bisa dianggap 
tanggapan atau apologi ... :-(
semoga postingan ini bisa turut lebih menjelaskan duduk perkaranya 
dan kita tidak terjebak dalam fitnah sesama saudara seiman. amin
salam,
satriyo

=======================================

BAYANAT PENYELENGGARAAN SIDANG MAJELIS SYURA DAN MUSYAWARAH KERJA 
NASIONAL DI BALI PADA 1-3 PEBRUARI 2008

PENDAHULUAN
1. Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) PKS pada rapatnya tanggal 7 
Januari 2008, yang dihadiri oleh Ketua Majelis Syura, Ketua Majelis 
Pertimbangan Pusat, Presiden Partai, Ketua Dewan Syariah Pusat, 
Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum telah memutuskan bahwa 
kegiatan Sidang Majelis Syura (MS) ke-9 dan Musyawarah Kerja Nasional 
(Mukernas) 2008 dilaksanakan di Bali pada 1-3 Pebruari 2008.
2. Keputusan pemilihan tempat tersebut dibuat senafas dengan 
perkembangan pemikiran partai ke arah pemenangan pemilu 2009.
3. Penjelasan (bayanat) ini dibuat untuk mempermudah dan menjelaskan 
konsep acara serta publikasi kegiatan tersebut kepada kader dan 
simpatisan.
4. Alasan pemilihan dikelompokkan kepada kepentingan Internal dan 
Eksternal.

ALASAN INTERNAL
1. Mengokohkan dakwah Islam di Bali dan menegaskan komitmen dakwah 
kita, bahwa seluruh jengkal tanah air Republik Indonesia adalah 
teritori yang utuh dari medan dakwah PKS.
2. Mengokohkan posisi kader PKS di Provinsi Bali yang berjumlah 
sekitar 5.775 orang dan kader yang berjuang di daerah-daerah 
minoritas.
3. Mengokohkan posisi minoritas ummat Islam di Bali yang jumlahnya 
sekitar 323.853 (9%) dari 3.442.600 orang penduduk Pulau Bali.
4. Mengokohkan soliditas dan mobilitas PKS serta daya jangkau dakwah 
kita ke seluruh penjuru tanah air Republik Indonesia.

ALASAN EKSTERNAL
1. Menegaskan pengakuan PKS kepada pluralitas dan keanekaragaman 
agama, suku dan budaya bangsa Indonesia, dan berupaya menjadikannya 
sebagai sumber kreativitas kolektiv kita sebagai bangsa.
2. Dalam konteks keIndonesiaan, kehadiran PKS di Bali juga merupakan 
penghargaan kepada minoritas dan komitmen PKS untuk memberikan 
keadilan bagi semua warga Negara Republik Indonesia tanpa membedakan 
agama, suku dan golongannya.
3. Menegaskan komitmen PKS untuk ikut serta menciptakan perdamaian di 
seluruh wilayah Republik Indonesia, dan mengakhiri segala bentuk 
penggunaan kekerasan dan terorisme atas nama agama, mengakhiri 
konflik antar agama serta mempertahankan Bali sebagai halaman rumah 
Indonesia yang damai dan tentram.
4. Menegaskan komitmen PKS untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan 
Republik Indonesia.


Jakarta, 14 Muharram 1429 / 23 Januari 2008

Tanggapan tulisan "antara Bali dan Gaza" oleh Rizki Ridyasmara
www.eramuslim.com
*Oleh Syukri Wahid*

Dua hari menjelang keberangkatan saya ke Bali mewakili Balikpapan 
dalam acara mukernas PKS, sahabat saya menyampaiakan sms dan tulisan 
mengenai tanggapan tentang acara tersebut, baik yang ditulis oleh 
media maupun bebas perorangan, isinya beragam bisa positif dan 
negatif, tapi hari itu saya membaca tulisan yang dibuat oleh akhuna 
Rizki dalam eramuslim.com yang membuat saya terdorong untuk menulis 
sedikit mengenai hal ini, tulisan ini bukanlah untuk mencari 
pembelaan saya dan semua ikhwah yang diundang ke "Bali", namun 
semangat untuk saling menasihatilah yang membuat saya harus 
menulisnya.

Setidaknya ada beberapa poin yang menjadi sudut pandang tersendiri 
oleh akh Rizki dalam tulisannya itu, namun yang menjadi titik sentral 
adalah mengkomparasikan apa yang kita" buat" di Bali dengan nasib 
saudara kita di Palestina sana dan itulah yang menjadi judul tulisan 
beliau "antara Bali dan Gaza", namun ijinkan saya menyampaikan sebuah 
sudut pandang yang boleh jadi benar, boleh jadi salah, tapi ini bukan 
bicara benar dan salah, namun ini mengenai cara kita memandang sebuah 
kebijakan.

*a.Kita dan kehidupan berjama'ah*

dalam kehidupan kita berjama'ah kita pasti akan mengalami dinamika 
berjama'ah itu sendiri, kita adalah bagian dari jama'ah tersebut, 
sehingga kita juga adalah bagian dari dinamika tersebut. Memang dalam 
kehidupan kita berjama'ah ada satu karakter yang harus kita siapkan 
adalah menyiapkan ruang yang besar dalam jiwa dan pikiran kita, 
sebuah ruang yang saya sebut dengan "ruang kebersamaan" namun mungkin 
bahasa yang tepat adalah ruang ego kita jangan terlalu besar dari 
ruang tersebut. Hal ini menjadi penting sebagai tabungan kita jika 
ada persoalan atau kebijakan yang tidak sesuai dengan kemauan kita.

Umar bin Khattab dalam buku *tarikh khulafa* yang ditulis oleh imam 
as suyuthi, mengatakan ketika Nabi memutuskan untuk menerima 
perundingan dan menyepakati isi yang ditawarkan pihak Quraisy Makkah 
ketika terjadinya perjanjian Hudaibiyah tahun 6H, sampai-sampai 
beliau mengatakan kepada Nabi, *"bukankah engkau adalah Rasul 
Allah"*? Ini adalah pertanyaan bisa lahir dari "goyangnya ketsiqohan" 
terhadap qiyadah.

Bali adalah bagian dari strategi bukan bagian dari tujuan, tujuan 
kita berjama'ah sudah sangat jelas. Menerima keputusan mengapa harus 
diBali memang pasti banyak tanggapan, tetapi tidak sebanyak tanggapan 
semua sahabat kepada Nabi dalam peristiwa Hudaibiyah, sampai 
instruksi Nabi kepada sahabat untuk melakukan *tahallul *dan 
menyembelih hewan tidak direspon saat itu, sampai Nabi harus mencukur 
dan menyembelih hewan kurbannya sendiri.

*b. Tanah benda netral*

* *Tanah itu benda netral, yang bisa menyebabkan dia bisa menjadi 
hamparan baik dan buruk adalah orang yang hidup diatasnya. Ulama 
sirah kita berkata, bahwa Nabi dan rasul itu pasti akan dirinkan 
kepada kaum atau tempat yang paling bobrok akhlaknya. Nabi Muhammad 
SAW diturnkan kepada masyarakat jahiliyah Quraisy, sehingga dalam 
hadits yang diriwayatkan imam Malik, Nabi bersabda,*" innama buitstu 
liutammima makaarimal akhlaaq"* , sesungguhnya aku diutus kepada 
manusia untuk menyempurnakan akhlaq.

Sangking rusaknya akhlaq mereka, tidak segan-segan ketika 
*tawaf*mengelilingi ka'bah pun mereka "telanjang" dan ada yang sampai 
betul-betul "polos" tanpa busana, mereka tidak sedang berjemur 
disana, namun didepan tempat yang paling suci "baitullah" mereka 
telanjang, dalam *siroh* yang ditulis oleh DR.Mahdi Rizkullah Ahmad, 
ketika ditanya mengapa telanjang, mereka menjawab, ketika kami 
dilahirkan dalam keadaan suci oleh ibu kami dalam keadaan tidak 
berbusana, maka sekarang kami tawaf tanpa busana agar dosa-dosa kami 
diampuni oleh Allah SWT".

Bayangkanlah suatu saat di pulai dewata itu, diatasnya tumbuh dan 
berkembang "manusia-manusia" baru yang akan mempositifkan Bali yang 
sudah terlanjur menjadi daerah wisata mancanegara, bagaimana jika 
da'wah memenangkan kekuasaan di Indonesia, Bali mau kita apakan? Atau 
mungkin kita lepaskan saja Bali dari Indonesia karena dia adalah kota 
maksiat, tapi apakah Nabi melepaskan makkah, karena alasan 
masyarakatnya rusak?

Ketika syariat Haji turun, maka Nabi mengirim rombongan Haji perdana 
sebanyak 300 orang yang dipimpin oleh Abu Bakar ra, rombongan ini 
akan bergabung dengan rombongan Haji dari kaum musyrik yang juga 
masih melestarikan ibadah Haji sepeninggalan Nabi Ibrahim as, bisa 
antum bayangkan satu musim haji namun ada dua model Haji didalamnya, 
Haji versi Islam dan Haji versi jahiliyyah, yang sekalilagi ada tawaf 
yang dengan telanjang pada saat itu, namun turunlah surat at taubah 
ayat 1 s/d 6 yang kemudian Nabi SAW meminta Ali bin abu thalib 
menyusul rombongn Haji yang telah berangkat.
Ketika wukuf dipadang arafah maka Ali berpidato menyampaikan 
keputusan Nabi, diantara poin keputusan adalah untuk melarang lagi 
kaum musyrikin Naik Haji tahun berikutnya dan tawaf dalam keadaan 
telanjang, berarti setelah penaklukan kota Makkah tahun 8 H, Nabi 
tidak langsung mengeluarkan ultimatum tersebut, kejadian ini terjadi 
setelah perang tabuk tahun 9 H, sudah 2 kali musim Haji setelah 
penaklukkan Makkah, disitu ada pelajaran "waktu untuk menyiapkan 
melakukan ultimatum" da'wah, kita butuh kekuatan itu , dan yang 
penting lagi kita harus menyiapkan mereka menerima ultimatum kita, 
apakah setelah pidato keputusan Ali tiba-tiba rombongan haji 
Jahiliyah melakukan kegaduhan? Melakukan perlawanan? Tidak, mereka 
menerima sepenuhnya. bisa dilihat di semua buku sirah.

*c. Kekuatan untuk palestina *

* *Dari Bali para qiyadah kita akan menyusun strategi meraih 
kemenangan da'wah, menyusun rencana strategis agar da'wah bisa 
dikawinkan dengan Negara, menyusun langkah-langkah nyata mentiapkan 
rijaal da'wah untuk menempatkan mereka pada tempat-tempat penting, 
agar "tanah" dimana dia berpijak menjadi positif. Kita ingin 
memasukim *mihwar daulah,* karena dengan bernegara banyak hal yang 
kita bisa lakukan.

Dari Bali kita mencita-citakan kemenangan, yang dengan kemenangan itu 
kita mendapat kekuasaan, yang dengan kekuasaan itu kita bisa 
melakukan lebih banyak lagi untuk saudara-saudara kita di Palestina 
dan bumi Islam lainnya. Kita perlu legitimasi Negara untuk memuluskan 
agenda-agenda da'wah dikancah Nasional apalagi Internasional.

Sampai hari ini, tanpa bermaksud ujub, kita masih terdepan dalam aksi 
solidaritas Palestina, Qiyadah kita selalu mengatakan 3 D untuk 
Palestina, Doa,dana dan demonstrasi. Namun jika kita memiliki 
kekuatan dan kekuasaan Negara, lebih banyak lagi yang bisa kita 
lakukan, bayangkanglah kapan kita bisa memberikan advokasi politik di 
pergaulan Intersional, kapan kita bisa mengirimkan pasukan misi 
garuda kita untuk Palestina, kapan kita bisa mengeluarkan infak APBN 
untuk negara Palestina, semua itu dari kekuatan dan Negara dan untuk 
itulah kita bermukernas, tetap hati kita kesana akhi. Dari Bali kita 
menyusun kekuatan untuk saudar kita di Palestina.

*e. Ikhlaskan niat*

* *Saya sedikit terusik dengan tulisan media mengenai rihlah atau 
piknik, mungkin ini efek keterbukaan, tapi saya Cuma mengingatkan 
diri dan antum semua bahwa kafilah jihad ini sudah panjang, ada niat 
piknik dan ada niat da'wah, sebagaimana sabda Beliau dalam hadits ar 
ba'iin imam ana nawawi, *"sesungguhnya amal itu tergantung dari 
niatnya, barangsiapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka 
hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul-Nya, namun barangsiapa yang 
hijrahnya untuk dunia dan atau wanita yang ingin dinikahinya, maka 
dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan tersebut".*

* *Mari jaga keikhlasan kita semua, baik yang berangkat kesana maupun 
yang tidak berangkat, ikhlas dalam segala hal adalah senjata yang 
paling kita butujkan disini, karena seburuk-buruk akhlaq "di Bali" 
tidaklah lebih buruk dari masyarakat jahiliyah dahulu, dan sebaik-
baik kita sekarang, tidaklah lebih baik dari Rasulillah SAW.

-----------------------------------

ANTARA BALI DAN GAZA

Oleh Rizki Ridyasmara



--- End forwarded message ---


Kirim email ke