Kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah sering kali tidak menguntungkan 
rakyat. Dengan mengatasnamakan investasi serta pertumbuhan ekonomi, keluarlah 
kebijakan ekonomi liberal dari orang-orang yang berkuasa. Justru, rakyat 
semakin terimpit dan melarat. Aksi suap terhadap aparat, hukum yang bisa 
terbeli, menipu, dan merampok hak rakyat seolah menjadi hal yang biasa terjadi 
di negara kita. 
 
Lapangan kerja yang semakin sulit dicari meningkatkan angka pengangguran dan 
kemiskinan. Akibatnya, angka kriminalitas pun juga melonjak dari tahun ke 
tahun. Negara kita kaya, tapi miskin. Miskin harta tak mengapa, asal akhlak 
masih bisa terjaga. 
 
Namun, fakta kerap berbicara lain. Tuntutan memenuhi kebutuhan sehari-hari yang 
sulit, sedangkan harga sembako merangkak naik, rakyat tercekik. Di mana 
perhatian para penguasa itu? Kaum birokrat dan politisi acap kali tak sungkan 
membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan kepentingan mereka. Memperkaya 
diri sendiri, menancapkan kekuasaan, dan memperluas pengaruhnya.  
 
Masih segar dalam ingatan, Peraturan Pemerintah (PP) nomor 37/2006 tentang 
Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD. PP kontroversial 
ini kemudian direvisi oleh Presiden SBY. Irawan, pemerhati sosial dari Batam 
menyebut, itu hanya akan menghabiskan uang rakyat guna memuaskan ”syahwat 
kapital” partai politik dan politisi. 
 

 ***
 
Agaknya, kita perlu berkaca kembali kepada Rasulullah  SAW. Rasulullah pernah 
menolak bantuan para sahabat agar beliau tidak kelaparan. Padahal, bantuan 
tersebut bukan harta haram. Saat itu, sahabat mengetahui setelah salat dengan 
Rasulullah, terlihat di balik jubah beliau sehelai kain yang berisi batu kecil 
melilit perutnya yang kurus untuk menahan rasa lapar. 

Para sahabat menangis menyaksikan penderitaan Rasulullah, seraya membujuk 
beliau. Namun, Rasulullah menolak dan mengatakan: "Tidak para sahabatku. Aku 
tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi, apakah akan aku jawab 
di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada 
umatnya?” ”Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku. Agar tidak ada 
umatku kelak yang kelaparan di dunia ini. Lebih-lebih, tiada yang kelaparan di 
akhirat kelak.” Subhanallah.
 
Kalau saja ada di antara pemimpin kita yang mau lapar demi rakyatnya, tentu 
negara ini paling tidak bisa sedikit terhibur. Sebab, negeri yang gemah ripah 
loh jinawi ini kerap mengeluh karena sakit. Musibah seolah tiada henti. Mulai 
banjir bandang, gempa bumi, tanah longsor, pertikaian antarsaudara sebangsa, 
dan lain-lain. 


Eko Prasetyo
menjemput cinta di ufuk fajar


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke