Saat ini saya bukanlah anggota parpol manapun.
Dulu pernah juga sih jadi pengurus parpol tingkat kampung, tapi kemudian
memecatkan diri karena sesuatu dan lain hal.

Saat ini pun saya bukanlah simpatisan parpol mana pun, tapi masih bermimpi
mengharapkan partai2 Islam pada bersatu agar menghasilkan pemimpin dari
kalangan Islam juga yang bener2 membela dan mengayomi umat Islam. Tapi, ya
mungkin boleh juga kalau dalam otak saya mengatakan "asal jangan partai
sekuler". Di mana menurut saya, atas dominasi kemenangan 'partai2 sekuler'
ini menghasilkan pemimpin yang sekuler juga, hingga hasil dari kinerjanya
adalah kebebasan yang telah meremukkan sendi2 moral bangsa ini sampai begini
keadaannya. Pada tahu sendiri lah......di banyak segi kehidupan bangsa ini,
saat ini seperti apa.......

Tapi, setelah saya amati dengan cara pandang saya yang bodoh ini, mungkin
juga karena 'proklamasi kebebasan' yang dicanangkan para 'pemimpin sekuler'
tsb, maka cara pandang masyarakat Indonesia yang bahkan beragama Islam pun
memandang partai Islam sebagai sesuatu yang ekslusif. Atau katakanlah tidak
cocok dengan iklim Indonesia. Atau bahkan dikatakan akan menakutkan kalau
partai Islam menang mereka akan mengusung syari'at Islam dan mengebiri non
Islam (walaupun dalam benak sebagian orang Islam dan para partai Islam ini
merasa dan mengaku tidak akan mengebiri mereka kalo menang). Atau bahkan
mereka merasa takut kalau partai Islam menang bisa menjadi taliban ala
Indonesia, atau bakal banyak teroris. Mungkin begitulah cara berpikir
kebanyakan kita, karena didikan para 'sekuler2' itu.

Jeleknya lagi, akhir2 ini yang sering terjadi sesama orang Islam, atau
mungkin antar sesama pendukung/simpatisan partai Islam saling serang dan
saling menjatuhkan partai Islam lainnya. Yah.....habislah citra partai Islam
di mata awam. Kata mereka: "Tuh....lihat! Lihat!!!! sesama mereka sendiri
aja ga akur.....Sesama mereka sendiri aja saling serang.......Bagaimana
nanti kalau mereka menang dan ada di atas...wah..wahh..wahh.....bisa2 kita
yang tak sejalan dengan mereka bakalan ditendang!? Udahlah....jangan pilih
mereka....repot!!!" Dengan kata lain, mereka bilang: kita pilih partai
'sekuler' sajalah....dengan harapan mereka akan selalu minkmati kebebasan
seperti yang selama ini mereka rasakan.

Harapan (yang dulu pernah saya tulis juga): ayolah para partai Islam
bersatulah! Tidak harus bersatu menjadi satu partai, tapi bersama2 saling
membela sesama Partai Islam agar mendapat simpati dari umat Islam sendiri.
Janganlah saling serang yang akan menjauhkan umat Islam dari kalian dan
berlari ke partai sekuler. Kita2 para umat Islam yang peduli dengan
perjuangan Islam, ayolah berbaik sangka sesama kita, sesama partai Islam,
dan jangalah berburuk sangka.

Sebagai contoh, orang2 seperti saya yang belum mendapatkan 'tambatan hati'
di partai manapun berharap suatu saat mendapatkan partai Islam yang benar2
'sejuk' untuk menjatuhkan pilihan. Ayo silakan kalian (partai Islam)
berlomba untuk menyejukan hati kami dalam  memilih. Karena kalau boleh
berkampanye, sekali lagi prinsip saya: 'asal jangan partai sekuler'.

Sedikit trik yang hari ini ditulis Mohammad Qodari di harian Republika,
tentu kami mengharapkan partai Islam yang benar benar sejuk dengan keIslaman
dan bener2 mencari solusi nyata agar kami tidak 'kelaparan'. Dalam arti,
menciptakan situasi yang aman tenteram, damai, dan murah sandang pangan.
Kalau situasi ini tercipta, tentu kekhusyu'an dan kesyahduan kita dalam
beribadah akan semakin dalam. Seperti ini yang kita cari.


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of suhana032003
Sent: Thursday, February 21, 2008 9:43 AM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
Subject: [syiar-islam] Re: PKS : Asas Tetap Islam, Pluralitas Diakomodasi


--- In [EMAIL PROTECTED], "suhana032003" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

bagiku aneh aja..kalau komentar tifatul sembiring spt di bawah ini..

"Islam masih menjadi asas. Cuma, kami menjadi Islam yang rahmatan lil
'alamin. Kami akan selalu melindungi segala macam golongan. Anda aman
selama tidak melanggar hukum."

hmm..memang dengan mengangkat seorang non muslim sebagai seorang
pemimpin, yg mana islam dijadikan asasnya akan berjalan dengan baik??
or spt lagunya ratu "akan baik-baik saja.." halahhh..terlalu bermimpi
or naif bila berfikiran spt itu, karena secara langsung sudah
melanggar peringatan Allah yg melarang kita (muslim) menjadikan non
muslim sebagai pemimpin2. hmm..memang akan berhasil sesuatu yg
diberitakan buruk, mampu memimpin sesuatu yg diberitakan baik dalam
firman Allah?? spt salah satu ayat Al-Qur'an yg mengatakan bahwa
kalian (muslim) adalah umat terbaik sedangkan non muslim diberitakan
jika mereka tidak akan pernah berhenti untuk mempengaruhi kita agar
mengikuti keinginan mereka, hingga masuk lubang biawakpun suatu saat
'kita' akan mengikutinya.

jadi..nda usah mengkambing hitamkan rahmatan or menghargai pluralitas
dech..karena peringatan Allah dan RasulNYa sudah jelas.
halahhh..katanya partai islam dan berasaskan islam, mosok begitu aja
nda ngerti sehhh..???masih mau menjadikan non muslim sebagai
pemimpin?? jadi ingat komentar seorang pelawak nich..?? JANGAN GILA
DONG..!! ^_^ hehehe

salam
hana

--- In [EMAIL PROTECTED], "Wido Q Supraha" <supraha@> wrote:
>
>
>
> Rabu, 20 Pebruari 2008
>
>
>
> PKS : Asas Tetap Islam, Pluralitas Diakomodasi
>
>
>
> Berikut petikan wawancara Presiden PKS Ir. Tifatul Sembiring dengan
wartawan
> Gatra Mukhlison S. Widodo tentang sikap PKS terhadap wacana pluralitas.
> Musyawarah Kerja Nasional Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang
berlangsung
> di Denpasar, Bali, 1-3 Februari lalu, memunculkan usulan untuk merekrut
> calon anggota legislatif dari kalangan non-muslim. Wacana itu lalu
> menggelinding bahwa PKS bakal berubah menjadi partai berasaskan
pluralitas
> yang terbuka bagi setiap golongan.
>
>
>
> Namun, sebelum gelindingan itu membesar, Presiden PKS, Tifatul
Sembiring,
> buru-buru meluruskan. Menurut Tifatul, partainya tetap sebagai
partai dakwah
> yang berasaskan Islam. Pluralitas atau keterbukaan masih sebatas usulan,
> wacana, dan beberapa wawasan yang akan dikaji dan didalami. Kepada
wartawan
> Gatra Mukhlison S. Widodo, Senin lalu, Tifatul memaparkan secara rinci
> tentang sikap PKS terhadap wacana pluralitas.
>
>
>
> Wacana agar PKS menjadi partai pluralis itu bagaimana ceritanya?
>
> Ide itu sebenarnya muncul dari kader-kader di daerah yang minoritas
> non-muslim, seperti di Bali, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Mereka
> berpikir, akan lebih baik jika di Papua, misalnya, yang mayoritas
Nasrani,
> diwakili kader PKS yang Nasrani pula.
>
>
>
> Bagaimana sikap partai atas usulan itu?
>
> Pada dasarnya, kami menghargai pluralitas. Falsafah perjuangan di
PKS, di
> bidang budaya menekankan untuk menghargai pluralitas. Dasarnya
terinspirasi
> oleh Piagam Madinah. Pada saat itu, Rasulullah Muhammad SAW membuat
> perjanjian di antara penduduk Madinah yang beragam kepercayaannya.
Intinya,
> Piagam Madinah menjamin kebebasan beribadah, larangan saling
menyerang, dan
> jika ada musuh dari luar menyerang, dihadapi bersama.
>
>
>
> Apakah PKS akan menjadi partai pluralis?
>
> Kami jelas Islam. Asas kami Islam, moralitasnya Islam. Tentang wacana
> pluralitas, jika di Majelis Syuro bisa diakomodasi, tentunya akan
> diakomodasi. Saya rasa, sebagai sebuah pemikiran, itu boleh-boleh
saja. Itu
> merupakan dinamika.
>
>
>
> Jadi, asas PKS belum berubah?
>
> Islam masih menjadi asas. Cuma, kami menjadi Islam yang rahmatan lil
> 'alamin. Kami akan selalu melindungi segala macam golongan. Anda
aman selama
> tidak melanggar hukum.
>
>
>
> Apakah ini berarti semua daerah bebas mengajukan calon anggota
legislatif
> dari kalangan non-muslim?
>
> Itu baru usulan, ya. Itu belum menjadi sebuah keputusan. Dan itu pun
terbuka
> di daerah-daerah minoritas muslim. Dalam sebulan ini akan dipercepat.
> Majelis Syuro mengadakan pembahasan soal ini.
>
>
>
> Meski PKS menghargai pluralitas, masih ada yang menganggap PKS
> fundamentalis. Tangapan Anda?
>
> Kita lihat saja faktanya. Kami ini berbeda dengan gerakan-gerakan Islam
> garis keras, gara kami bergerak, cara kami masuk ke parlemen. Kami juga
> berdemo di jalan tanpa membuat ketakutan di masyarakat luas. Kami
mencoba
> memberi pembelajaran politik terhadap masyarakat, begini caranya
berdemo,
> begini caranya ketika kita punya konflik dalam pilkada.
>
>
>
> Dengan sikap menghargai pluralitas ini, dikhawatirkan PKS merebut suara
> partai-partai Islam yang masih konservatif. Menurut Anda?
>
> Saya rasa, bukan soal menggerogoti, ya. Kami itu bukan ngetekin
(mengklaim),
> eh, ini konstituen kami nggak boleh masuk situ. Nggak ada aturan seperti
> itu. Semuanya serba terbuka. Pasar ini pasar bebas. Tidak bisa suatu
partai
> mengklaim, hai, kami ini partai nasionalis, ngapain PKS cari suara
> nasionalis.
>
>
>
> Dengan begitu, berapa target perolehan suara PKS tahun 2009?
>
> Target kami meraup 20% suara. Masalahnya, jika mengandalkan kader, kami
> hanya bisa meraup 10% suara. Kalau ingin naik di atas 10%, kami harus
> ekspansif mengincar massa mengambang. Itu sebabnya, sekarang kami
menyebut
> diri sebagai partai kader berbasis massa.
>
>
>
> Konstituen partai mana yang akan dijadikan target?
>
> Kami tidak membidik partai-partai begitu. Tapi, kalau memang ingin
> memperluas segmen, kami harus membidik segmen nasionalis. Captive market
> partai Islam, ya, segitu-segitu saja. Isu-isu kami harus lebih cair.
Kalau
> misalnya mau bergeser ke nasionalis, isu-isu kami tidak soal
fundamentalis.
> Ini kan tidak sesuai dengan target kami nanti.
>
>
>
> Partai mana yang menjadi pesaing berat ke depan?
>
> Menurut saya, dalam pemilu legislatif, kalau bahasa akhiratnya, itu
> nafsi-nafsi (masing-masing) berjuang. Tapi, kalau dalam pemilihan
presiden,
> masih tetap melakukan kombinasi antara nasionalis dan Islam. Sebab
Indonesia
> ini terlalu luas, terlalu banyak ragamnya. Kalau nasionalis jalan
sendiri,
> kelompok Islamnya juga bisa memainkan peran yang bisa membuat
instabilitas
> di pemerintahan. Kalau dua-duanya terakomodasi, pemerintahan relatif
akan
> stabil. Itu satu faktor yang harus didukung.
>
>
>
> M. Agung Riyadi, Anthony Djafar, dan Wayan Bakori (Denpasar)
>
> [Nasional, Gatra Nomor 14 Beredar Kamis, 14 Februari 2008]
>
> Sumber: GATRA
>
> Pengirim: Mohammad Yusuf
>
> Update: 20/02/2008 Oleh: Mohammad Yusuf
>
>
>
> Source : http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi
> <http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=4437> &id=4437
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

--- End forwarded message ---






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke