Perjalanan dakwah memang begitu panjang bahkan melebihi usia kita. Jika dakwah masih lurus, ya kita perlu dukung, lurus dalam arti niat juga caranya. Jika sudah melenceng ya perlu juga diingatkan, jika melenceng melulu perlu dipikirkan juga, masak mau memilih yang melenceng. Perjalanan dakwah melalui parpol sendiri melalui proses yang sangat panjang dan sebagian menyetujuinya sebagian yang lain tidak menyetujui. Namun Marhalah dakwah siyasi melalui parlemen ditempuh untuk memudahkan dakwah yg lainnya , terlepas dari yang setuju atau tidak.Yang perlu dikritisi adalah komitmen awal untuk memasuki dakwah di parlemen yang akan tetap islami dengan identitas islam. Artinya kedudukan hanya sebagai wasilah dakwah saja, bukan tujuan, karena Allah tidak akan melihat hasil namun proses. Percuma juga jika berhasil dalam satu tahap dakwah tapi dilakukan dengan cara yang kurang islami menurut saya. Sedikit sedikit kompromi.
Menurut saya suasana Dakwah sangat terasa ketika di PK dahulu. mungkin karena baru peralihan setelah sekian puluh tahun sama sekali tida menyentuh dakwah di pemerintahan. Kini sepertinya mulai ada penurunan, dari kualitas liqoat dsb.Jika merujuk pada prinsip prinsip dakwah Hasan AL banna sendiri, sepertinya mengalami jauh penurunan.jadi memang harus lebih ditingkatkan. sacara pribadi saya mengusulkan untuk tidak terlalu berkompromi, juga faham, al fahmu harus benar benar manjadi perhatian.Berilmu dulu baru beramal.ituakan lebih baik. Wass Wr Wb On 2/21/08, suhana032003 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > --- In [EMAIL PROTECTED] <insistnet%40yahoogroups.com>, > "suhana032003" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > bagiku aneh aja..kalau komentar tifatul sembiring spt di bawah ini.. > > "Islam masih menjadi asas. Cuma, kami menjadi Islam yang rahmatan lil > 'alamin. Kami akan selalu melindungi segala macam golongan. Anda aman > selama tidak melanggar hukum." > > hmm..memang dengan mengangkat seorang non muslim sebagai seorang > pemimpin, yg mana islam dijadikan asasnya akan berjalan dengan baik?? > or spt lagunya ratu "akan baik-baik saja.." halahhh..terlalu bermimpi > or naif bila berfikiran spt itu, karena secara langsung sudah > melanggar peringatan Allah yg melarang kita (muslim) menjadikan non > muslim sebagai pemimpin2. hmm..memang akan berhasil sesuatu yg > diberitakan buruk, mampu memimpin sesuatu yg diberitakan baik dalam > firman Allah?? spt salah satu ayat Al-Qur'an yg mengatakan bahwa > kalian (muslim) adalah umat terbaik sedangkan non muslim diberitakan > jika mereka tidak akan pernah berhenti untuk mempengaruhi kita agar > mengikuti keinginan mereka, hingga masuk lubang biawakpun suatu saat > 'kita' akan mengikutinya. > > jadi..nda usah mengkambing hitamkan rahmatan or menghargai pluralitas > dech..karena peringatan Allah dan RasulNYa sudah jelas. > halahhh..katanya partai islam dan berasaskan islam, mosok begitu aja > nda ngerti sehhh..???masih mau menjadikan non muslim sebagai > pemimpin?? jadi ingat komentar seorang pelawak nich..?? JANGAN GILA > DONG..!! ^_^ hehehe > > salam > hana > > --- In [EMAIL PROTECTED] <insistnet%40yahoogroups.com>, "Wido Q > Supraha" <supraha@> wrote: > > > > > > > > Rabu, 20 Pebruari 2008 > > > > > > > > PKS : Asas Tetap Islam, Pluralitas Diakomodasi > > > > > > > > Berikut petikan wawancara Presiden PKS Ir. Tifatul Sembiring dengan > wartawan > > Gatra Mukhlison S. Widodo tentang sikap PKS terhadap wacana pluralitas. > > Musyawarah Kerja Nasional Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang > berlangsung > > di Denpasar, Bali, 1-3 Februari lalu, memunculkan usulan untuk merekrut > > calon anggota legislatif dari kalangan non-muslim. Wacana itu lalu > > menggelinding bahwa PKS bakal berubah menjadi partai berasaskan > pluralitas > > yang terbuka bagi setiap golongan. > > > > > > > > Namun, sebelum gelindingan itu membesar, Presiden PKS, Tifatul > Sembiring, > > buru-buru meluruskan. Menurut Tifatul, partainya tetap sebagai > partai dakwah > > yang berasaskan Islam. Pluralitas atau keterbukaan masih sebatas usulan, > > wacana, dan beberapa wawasan yang akan dikaji dan didalami. Kepada > wartawan > > Gatra Mukhlison S. Widodo, Senin lalu, Tifatul memaparkan secara rinci > > tentang sikap PKS terhadap wacana pluralitas. > > > > > > > > Wacana agar PKS menjadi partai pluralis itu bagaimana ceritanya? > > > > Ide itu sebenarnya muncul dari kader-kader di daerah yang minoritas > > non-muslim, seperti di Bali, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Mereka > > berpikir, akan lebih baik jika di Papua, misalnya, yang mayoritas > Nasrani, > > diwakili kader PKS yang Nasrani pula. > > > > > > > > Bagaimana sikap partai atas usulan itu? > > > > Pada dasarnya, kami menghargai pluralitas. Falsafah perjuangan di > PKS, di > > bidang budaya menekankan untuk menghargai pluralitas. Dasarnya > terinspirasi > > oleh Piagam Madinah. Pada saat itu, Rasulullah Muhammad SAW membuat > > perjanjian di antara penduduk Madinah yang beragam kepercayaannya. > Intinya, > > Piagam Madinah menjamin kebebasan beribadah, larangan saling > menyerang, dan > > jika ada musuh dari luar menyerang, dihadapi bersama. > > > > > > > > Apakah PKS akan menjadi partai pluralis? > > > > Kami jelas Islam. Asas kami Islam, moralitasnya Islam. Tentang wacana > > pluralitas, jika di Majelis Syuro bisa diakomodasi, tentunya akan > > diakomodasi. Saya rasa, sebagai sebuah pemikiran, itu boleh-boleh > saja. Itu > > merupakan dinamika. > > > > > > > > Jadi, asas PKS belum berubah? > > > > Islam masih menjadi asas. Cuma, kami menjadi Islam yang rahmatan lil > > 'alamin. Kami akan selalu melindungi segala macam golongan. Anda > aman selama > > tidak melanggar hukum. > > > > > > > > Apakah ini berarti semua daerah bebas mengajukan calon anggota > legislatif > > dari kalangan non-muslim? > > > > Itu baru usulan, ya. Itu belum menjadi sebuah keputusan. Dan itu pun > terbuka > > di daerah-daerah minoritas muslim. Dalam sebulan ini akan dipercepat. > > Majelis Syuro mengadakan pembahasan soal ini. > > > > > > > > Meski PKS menghargai pluralitas, masih ada yang menganggap PKS > > fundamentalis. Tangapan Anda? > > > > Kita lihat saja faktanya. Kami ini berbeda dengan gerakan-gerakan Islam > > garis keras, gara kami bergerak, cara kami masuk ke parlemen. Kami juga > > berdemo di jalan tanpa membuat ketakutan di masyarakat luas. Kami > mencoba > > memberi pembelajaran politik terhadap masyarakat, begini caranya > berdemo, > > begini caranya ketika kita punya konflik dalam pilkada. > > > > > > > > Dengan sikap menghargai pluralitas ini, dikhawatirkan PKS merebut suara > > partai-partai Islam yang masih konservatif. Menurut Anda? > > > > Saya rasa, bukan soal menggerogoti, ya. Kami itu bukan ngetekin > (mengklaim), > > eh, ini konstituen kami nggak boleh masuk situ. Nggak ada aturan seperti > > itu. Semuanya serba terbuka. Pasar ini pasar bebas. Tidak bisa suatu > partai > > mengklaim, hai, kami ini partai nasionalis, ngapain PKS cari suara > > nasionalis. > > > > > > > > Dengan begitu, berapa target perolehan suara PKS tahun 2009? > > > > Target kami meraup 20% suara. Masalahnya, jika mengandalkan kader, kami > > hanya bisa meraup 10% suara. Kalau ingin naik di atas 10%, kami harus > > ekspansif mengincar massa mengambang. Itu sebabnya, sekarang kami > menyebut > > diri sebagai partai kader berbasis massa. > > > > > > > > Konstituen partai mana yang akan dijadikan target? > > > > Kami tidak membidik partai-partai begitu. Tapi, kalau memang ingin > > memperluas segmen, kami harus membidik segmen nasionalis. Captive market > > partai Islam, ya, segitu-segitu saja. Isu-isu kami harus lebih cair. > Kalau > > misalnya mau bergeser ke nasionalis, isu-isu kami tidak soal > fundamentalis. > > Ini kan tidak sesuai dengan target kami nanti. > > > > > > > > Partai mana yang menjadi pesaing berat ke depan? > > > > Menurut saya, dalam pemilu legislatif, kalau bahasa akhiratnya, itu > > nafsi-nafsi (masing-masing) berjuang. Tapi, kalau dalam pemilihan > presiden, > > masih tetap melakukan kombinasi antara nasionalis dan Islam. Sebab > Indonesia > > ini terlalu luas, terlalu banyak ragamnya. Kalau nasionalis jalan > sendiri, > > kelompok Islamnya juga bisa memainkan peran yang bisa membuat > instabilitas > > di pemerintahan. Kalau dua-duanya terakomodasi, pemerintahan relatif > akan > > stabil. Itu satu faktor yang harus didukung. > > > > > > > > M. Agung Riyadi, Anthony Djafar, dan Wayan Bakori (Denpasar) > > > > [Nasional, Gatra Nomor 14 Beredar Kamis, 14 Februari 2008] > > > > Sumber: GATRA > > > > Pengirim: Mohammad Yusuf > > > > Update: 20/02/2008 Oleh: Mohammad Yusuf > > > > > > > > Source : http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi > > <http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=4437> &id=4437 > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > --- End forwarded message --- > > > [Non-text portions of this message have been removed]

