Saat itu, mendung menggantung di atas langit Bandara Sepinggan, Balikpapan. 
Buku kecil itu menghanyutkan saya dalam lamunan hingga tak terasa sampai tiba 
di Juanda. Sebuah kisah laki-laki super di zaman khalifah Umar bin Khattab 
mengubah senyum ini jadi takjub. Renungan cinta terbalut dalam bingkai aroma 
wangi surga dan doa para malaikat yang selalu bertasbih mengagungkan nama Allah.

****

Alkisah, ada seorang pemuda yang bekerja sebagai penggembala domba. Jumlah 
domba yang dia gembalai berjumlah ratusan ekor. Bertahun-tahun dia bekerja 
tanpa pernah mengeluh meski hasil jerih payahnya tak seberapa. 

Suatu ketika, datang seorang musafir yang sangat kehausan setelah menempuh 
perjalanan jauh. Melihat ada pengembala domba tersebut, gembiralah hati musafir 
itu. Sang musafir meminta minum kepada si pemuda penggembala tersebut.  Namun, 
pemuda itu menjawab bahwa dirinya tak punya air minum untuk diberikan kepada si 
musafir.

Musafir tersebut kemudian memohon memelas agar diizinkan mengambil air susu 
dari seekor domba yang digembalakan si pemuda itu. Pemuda tersebut menolak 
dengan halus. "Ayolah, saudaraku. Tolonglah aku. Aku sangat haus. Izinkan aku 
untuk memerah dombamu sekadar beberapa teguk untuk menghilangkan dahagaku," 
ujar sang musafir. Pemuda itu menjawab, "Domba-domba ini bukan kepunyaanku, aku 
tak berani mengizinkan engkau sebelum majikanku mengizinkannya."

Pemuda mengatakan, "Kalau kau mau, tunggulah di sini sebentar. Kucarikan telaga 
dan kuambilkan air untukmu, saudaraku." Kemudian, pergilah pemuda tersebut 
mencarikan air untuk sang musafir. Setelah dapat, diberikannya air itu kepada 
si musafir. "Alhamdulillah, segar sekali rasanya," kata sang musafir. "Terima 
kasih wahai anak muda," lanjut musafir itu.

Kemudian, mereka sejenak beristirahat sambil berbagi kisah. Siang semakin 
terik. "Mengapa kau tadi tidak ikut minum," tanya musafir kepada pemuda tadi. 
"Maaf, saya sedang berpuasa," jawab si pemuda. Musafir itu tercengang mendengar 
pengakuan pemuda tersebut. "Matahari semakin tinggi, sedangkan engkau 
berpuasa?" tanya musafir itu penuh tanya. Pemuda itu menjawab, "Aku berharap 
kelak mudah-mudahan Allah menaungi diriku pada saat hari kiamat nanti. Karena 
itu, aku berpuasa."  

Rasa kagum dan penasaran membuat si musafir ingin mengetes keimanan sang pemuda 
penggembala tersebut. Lalu, musafir itu berkata, "Hai anak muda, bolehkah aku 
membeli seekor saja dombamu. Aku lapar, tolonglah aku." 

"Maaf tuan, aku tidak berani sebelum mendapat izin dari majikanku," kata pemuda 
itu.

"Ayolah anak muda. Domba yang kau gembalakan sangat banyak. Tentulah tuanmu 
tidak akan mengetahui meski kau jual seekor saja. Perutku sangat lapar, 
tolonglah aku," rayu musafir tersebut.

"Aku sungguh ingin menolongmu. Kalau saja aku memiliki makanan, tentu akan 
kuberikan untukmu, tuan. Tapi, tolong jangan paksa aku untuk melakukan hal yang 
tak mungkin aku lakukan tuan," ucap pemuda tersebut.

"Tidak akan ada yang tahu hai anak muda. Kuberikan seribu dirham untukmu untuk 
seekor domba saja. Ayolah. Tidakkah kau kasihan kepadaku?" kata musafir itu 
yakin bahwa pemuda tersebut akan goyah dengan suap seribu dirham.

Musafir itu terus memaksa si pemuda untuk menjual seekor dombanya. Bahkan, 
musafir itu tambah gusar dan marah. 

Akhirnya, pemuda itu berkata, "Majikanku bisa saja tidak tahu jikalau aku 
menjual seekor dombanya. Sebab, jumlahnya sangat banyak. Dan mungkin saja, 
majikanku tidak akan menanyakan domba-dombanya. Dia tidak akan rugi meski aku 
menjual seekor di antara domba kepunyaanya. Tapi, kalau aku berbuat begitu, 
lalu di mana Allah? Di mana Allah? Di mana Allah? Sungguh, aku tak mau di dalam 
dagingku tumbuh duri neraka karena uang yang tidak halal bagiku."

Pemuda itu menangis karena takut tergoda berbuat sesuatu yang dimurkai Allah. 
Dia menangis karena kecintaanya kepada Allah.

Musafir tersebut tertegun. "Allahu akbar!!" musafir itu ikut menangis. 

"Katakan padaku wahai anak muda, di mana majikanmu tinggal. Aku ingin membeli 
seekor dombanya," kata musafir tersebut. 

Setelah mendapat jawaban tentang tempat tinggal majikan pemuda tadi, musafir 
itu memberikan uang seribu dirham tadi kepada si pemuda. "Terimalah uang ini 
untukmu, anakku. Ini uang halal. Kau pantas mendapatkan lebih daripada ini. 
Hatimu begitu mulia." Sang musafir yang tak lain adalah Khalifah Umar bin 
Khattab bergegas menuju ke rumah majikan sang pemuda tadi. Lalu, ditebuslah 
pemuda itu dengan memerdekakannya dari status hamba sahaya. 

Dalam lanjutan perjalanannya, Umar masih takjub dengan kisah yang baru dia 
alami.

Di mana Allah? Inilah kalimat yang menggetarkan hati Umar. Rasa takut kepada 
Allah tidak menggoyahkan iman seorang pemuda tadi meski dirayu dengan materi. 
Duniawi tidak mampu menyilaukan hati pemuda itu karena keteguhan iman yang 
hakiki. 



Eko Prasetyo,

untuk Aliya:
"Menjelang subuh ini, kutitipkan kecup mesra di keningmu. Berharap mendapat 
syafaat Rasulullah atas doa anak yatim darimu di hari pembalasan nanti.."


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke