Sepenggal Cinta dari Perempatan Jalan
Cuaca bisa berubah setiap saat. Iklim makin tak menentu sepanjang awal tahun
ini. Siang kadang terasa terik, lantas sore harinya bisa berubah gelap dan
turun hujan. Namun, situasi cuaca yang kadang tak bersahabat itu tak menciutkan
semangat insan Allah di suatu sudut perempatan jalan itu. Di situ, kita bisa
belajar tentang arti hidup. Sebab, di sanalah cinta ini dimulai.
Di perempatan jalan, tak jarang kita melihat gelandangan dan anak-anak jalanan
berada di sudut traffict light. Ada yang memasang wajah iba meminta belas
kasihan para pengendara yang kebetulan lewat. Ada pula yang gigih menjajakan
koran dan majalah meski kadang kulit mereka terbakar panasnya matahari. Bagi
pemerintah daerah setempat, keberadaan mereka dinilai mengganggu pemandangan
dan kenyamanan. Karena itu, tak sedikit di antara pengemis jalanan tersebut
kena garuk petugas ketertiban kota. Lantas, kita tak tahu bagaimana kelanjutan
nasib mereka setelah itu.
Suatu siang, saya melintas di kawasan Jl Dr Soetomo, Surabaya. Cuaca yang panas
makin membuat saya tak sabar menunggu tanda lampu hijau menyala. Sejenak
perhatian saya tertuju pada bocah cilik sekitar lima tahun yang sibuk
menjajakan koran di antara para pengendara. Saat menuju ke arah saya, anak
tersebut menawarkan harian Surya. ”Surya seribu, Pak,” kata bocah itu. ”Tumbas
(belilah) Pak, buat makan,” pintanya setengah merengek agar korannya saya beli.
Ya Allah, kalau sudah begitu, luluh hati ini tak tega untuk tidak membeli meski
sebenarnya saya sudah membawa harian Jawa Pos. Bagaimana tidak, bocah ingusan
yang seharusnya masih duduk di bangku TK itu sibuk berkelahi dengan waktu untuk
tetap survive di kota metropolis seperti Surabaya ini. Dia terlalu kecil untuk
mencicipi getirnya hidup di tengah jalan raya. Terlampau keras untuk merasakan
sukarnya mencari uang dengan kerja keras bagi bocah seumuran dia.
Sebelum lampu hijau menyala, selembar uang seribu rupiah sudah tertukar dengan
koran Surya. Sebenarnya, terlalu siang untuk bisa mendapatkan harian pagi
Surya. Namun, bila menatap rona berseri dari raut muka anak kecil tersebut,
hati saya gerimis. Berapa untung bocah itu dari penjualan koran seharga seribu?
Jelas, jumlah pendapatannya dari tiap koran yang terjual tidak sebanding dengan
kucuran keringat dan kerja kerasnya. Dia rela jual koran, tidak sekolah, serta
terkena panas dan hujan hanya untuk bisa bertahan hidup. Loper koran cilik itu
bukan pengemis meski dia berjualan dengan setengah merengek. Dia begitu hanya
agar bisa makan pada hari itu. Allahu akbar! Namun, hukum alam terus berputar.
Saya yakin, Allah adalah hakim paling adil. Tak perlu menuntut keadilan karena
Allah sekaligus jaksa paling mulia.
Lampu hijau sudah menyala di saat saya ingin berlama-lama tertegun dengan
semangat hidup anak itu. Semangat yang melecut saya agar tidak mudah mengeluh
di saat menerima kesempitan. Ini bukan pelajaran yang sulit untuk dicerna
dengan akal dan jiwa. Tapi, mencernanya pun membutuhkan sentuhan perasaan.
Nurani harus lebih banyak bicara agar saya bisa menikmati semakin dalam
pelajaran hidup dari bocah cilik tersebut.
Kendaraan saya mulai melaju meninggalkan perempatan jalan itu. Namun, lajunya
agak lambat karena hati ini terasa berat untuk segera berpisah dengan anak
kecil tersebut. Ingin rasanya menyampaikan terima kasih tanpa sepatah kata pun
kepadanya. Mengapa? Sebab, bocah itu mungkin tak menginginkan kata-kata sebagai
ungkapan terima kasih. Layaknya bocah tersebut, yang diinginkan oleh kaum bawah
dan miskin memang bukan kata-kata, apalagi janji. Mereka butuh uang untuk beli
makanan. Soal perhatian, mereka tak akan pernah memikirkan siapa memedulikan
siapa. Sebab, mereka merasa cuma kaum pinggiran yang terbiasa tak diperdulikan
penguasa. Yang penting hari ini bisa makan, soal besok itu perkara nanti,
itulah harapan mereka.
Dan bocah penjual koran tersebut, dia jauh lebih mulia ketimbang orang yang
malas berusaha. Lapangan kerja memang semakin sempit dan sulit dicari. Tapi,
menjadi pengangguran karena gengsi dan malas adalah alasan yang sulit diterima.
Sebab, dunia ini bukan ajang kontes menengadahkan tangan tanpa ada kemauan dan
usaha. Rezeki tak datang cuma-cuma dari langit turun ke bumi. Sebab, sekarang
adalah zamannya rezeki dijemput bukan ditunggu. Bocah itu telah membuktikannya
lewat kerja keras ketimbang jadi peminta-minta.
Betapa uang seribu sangat berarti bagi kaum yang hidup di jalanan seperti bocah
tersebut. Memang, Allah menciptakan orang kaya dan orang miskin agar kehidupan
dunia ini seimbang. Agar manusia bisa saling berbagi. Sebab, rezeki tak bisa
datang tiba-tiba tanpa ada usaha meski datangnya dari Tuhan yang mahakaya. Kita
terkadang tak sulit mengeluarkan lembaran puluhan ribu bahkan ratusan ribu.
Apalah artinya jikalau dengan uang seribu kita berbagi kasih dengan sesama yang
kekurangan seperti bocah itu. Dengan seribu rupiah, kita tidak hanya
berinvestasi. Namun, kita juga bisa mengolah hati dengan becermin pada semangat
hidup kaum duafa.
”Dan bumi telah Dia bentangkan untuk makhluk-Nya. Di dalamnya ada buah-buahan
dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang dan bijian-bijian yang berkulit
dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu
dustakan?” (QS: Ar-Rahman: 10–13).
Eko Prasetyo
Merindukan episode cinta lewat bibir senja di rumah Allah.
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]