dari http://www.almanhaj.or.id/content/328/slash/0
BOROK-BOROK SUFI: Syari'at Dan Hakikat, Al-Hulul Wa Al-Ittihad, Wihdah Al-Wujud 
 
 Oleh
 Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij
 Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]
 
 
 
 SYARI'AT DAN HAKIKAT
 Para pemimpin sufi mengatakan, bahwa setiap ayat mempunyai unsur lahir dan 
bathin. Atau, Islam itu terdiri dari syari'at dan hakikat. Syari'at, bila 
dibandingkan dengan hakikat, laksana buih. Hakikat merupakan tingkatan paling 
sempurna, puncak dan sangat tinggi dalam tangga peribadahan Islam.
  
 Cara agar mampu untuk mencapainya adalah dengan memiliki ilmu laduni, kasyaf 
Rabbani serta Faidh Ar-Rahmani. Dalihnya, hadits yang diriwayatkan imam Bukhari 
dari Abu Hurairah :
 
 "Artinya : Aku menghafalkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dua 
kantung ilmu. Adapun salah satunya telah aku sebarkan. Sedangkan lainnya, bila 
ku sebarkan akan dipotong tenggorokan ini". [Hadits Riwayat Bukhari dalam kitab 
Fitan]
 
 Padahal ini sebagai isyarat dari beliau rahimahullah tentang akan tidak adanya 
kaitan antara ilmu batin dan ilmu zhahir. Kalau tidak begitu, pasti beliau akan 
mencantumkannya dalam Al-'Ilm. Sesungguhnya, Al-Hafidz Ibnu Hajar telah 
menerangkan masalah tersebut secara rinci dalam kitabnya, Fathu Al-Bari I/216.
  
 Oleh karena itu, barangsiapa menyatakan Islam terdiri dari lahir dan batin, 
berarti dia telah menyangka Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam 
menghianati tugas kerasulannya. Tapi, inilah kenyataannya. Mereka berkeyakinan, 
Rasulullah hanya menyampaikan yang zhahir saja. Sedang, yang batin beliau 
beritahukan kepada orang-orang tertentu.[1]
  
 Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlepas 
dari yang mereka kaitkan kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan 
Allah, malaikat Jibril serta orang-orang shalih dari kalangan yang beriman 
menyaksikan yang demikian itu. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
 
 "Artinya : Pada hari ini Aku sempurnakan untuk mu agamamu, dan Aku lengkapkan 
untukmu semua ni'mat-Ku serta Aku ridhai bagimu Islam sebagai agama". 
[Al-Maidah : 3]
 
 Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah meminta persaksian dihadapan 
segenap manusia muslim yang berkumpul di bawah Jabal Ar-Rahmah pada hari haji 
akbar. Kata beliau, "Sesungguhnya, kalian akan ditanya tentang aku. Maka, 
apakah yang akan kalian katakan ?" Jawab mereka : "Kami bersaksi bahwa engkau 
telah menyampaikan risalah Rabb-mu dan telah menunaikannya. Engkau telah 
menasehati umatmu dan menunaikan kewajibanmu".
  
 Lantas beliau bersabda seraya mengacungkan telunjuknya ke arah langit dan 
menggerak-gerakkannya kehadapan manusia : "Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, 
saksikanlah". [Potongan dari hadits Jabir bin Abdullah tentang hajinya 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di-tahqiq ulang Syaikh Muhammad 
Nashiruddin Al-Albani dalam Hijjah An-Nabi, hal. 37-41].
  
 Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah menyatakan secara 
terang-terangan, dan hal ini sebagai hujjah nyata guna menampar setiap pendusta 
dan yang suka berbuat dosa. Kata beliau :
 
 "Artinya : Sesungguhnya seorang nabi tidak mengenal main isyarat (dengan 
mata)". [Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dari Anas. lihat Shahih 
Al-Jami' II/303]
 
 Maksudnya memberi isyarat dengan isyarat rahasia. Hal ini agar tidak ada 
seorangpun yang berburuk sangka yang menyebabkan tumbuhnya keyakinan, bahwa 
dalam agama Allah ada rahasia yang tidak banyak diketahui manusia.
  
 Yang semakna dengan hadits ini adalah sabdanya :
 
 "Artinya : Sesungguhnya tidak selayaknya bagi seorang nabi mempunyai mata yang 
khianat". [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa'i dan Hakim dari Sa'id. Lihat 
Shahih Al-Jami' II/307]
 
 AL-HULUL WA AL-ITTIHAD
 Sebagaimana kelomppok sufi berkhayal, siapa saja yang menempuh jalan ilmu 
batin, pada akhirnya akan mencapai tingkatan melebur bersama dzat Allah. Ketika 
itulah ia menempati dzat tersebut, hingga bercampur sifat ketuhanan dengan 
tabiat kemanusiaan. Bentuk lahirnya manusia, tetapi hakikat batinnya adalah 
sifat ketuhanan.
  
 Orang-orang yang berpikiran demikian, misalnya Al-Hallaj, ibnu Al-Faradh, Ibnu 
Sab'in dan lainnya dari kalangan sufi. Berikut ini kami paparkan sebagian 
perkataan mereka : Al-Hallaj berkata : [2]
 
 Maha Suci yang menampakkan sifat kemanusiannya,
 Kami rahasiakan sifat ketuhanannya yang cemerlang,
 Kemudian Ia menampakkan diri pada mahluknya,
 Dalam bentuk orang yang sedang makan dan minum,
 Hingga mahluknya dapat menentukannya, seperti
 jarak antara kedipan mata dengan kedipan yang lain.
 Siapakah dia ? Dialah Rabbu Al-Arbab
 yang tergambar dalam seluruh bentuk pada
 hamban-Nya, Fulan. [3]
  
 Dan Ibnu Al-Faradh berkata : [4]
 
 Tidaklah aku shalat kepada selainku,
 dan tidaklah shalatku kepada selainku
 ketika menunaikan dalam setiap raka'atku.
  
 Dan cukuplah bagi orang-orang sufi merasakan kesedihan tatkala Ibnu Al-Faradh 
berpayah-payah dibalik fatamorgana. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, tatkala 
menceritakan keadaan Ibnu Al-Faradh : "Orang yang mengucapkan sya'ir tersebut 
ketika meninggalnya mengucapkan syair sebagai berikut :
 
 Jika kedudukanku dalam cinta disisi-Mu,
 tidak seperti yang pernah aku jumpai,
 maka sesungguhnya aku telah membuang-buang umurku.
 Angan-angan yang menancap dalam diriku beberapa lama,
 dan pada hari ini aku mengiranya sebagai mimpi kosongku belaka.
  
 At-Tusturi berkata : [5]
 
 Akulah yang dicintai dan yang mencintai,
 tidak ada selainnya.
  
 Para syaikh tasawuf tersebut mencari-cari dalih dengan hadits yang berbicara 
masalah wali. Padahal, segala dalih dan alasan itu tak mendukung mereka. 
Misalnya sebuah hadits :
 
 "Artinya : Tidak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan 
perbuatan-perbuatan yang disunnahkan hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku 
mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk 
mendengar, dan penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, dan tangannya 
yang dia julurkan, dan kakinya yang dia langkahkan. Maka, jika ia meminta 
kepada-Ku, sungguh aku akan beri. Dan jika ia minta perlindungan kepada-Ku, 
sungguh Aku akan melindunginya". [Hadits Riwayat Bukhari, akan tetapi kami 
ringkas sesuai dengan makna pembahasan].
 
 Hadits ini menunjukan dengan sangat adanya pembedaan dan pemisahan. Dalam hal 
ini ada 'Abid (yang beribadah) dan Ma'bud (yang diibadahi). Sa-il (yang 
meminta) dan Mas-ul (yang diminta), 'A-idz (yang minta perlindungan) dan Mu'idz 
(yang melindungi). Sedang, orang-orang sufi tersebut mengaku bahwa Allah 
berdiam dalam dzat hambanya. Yaitu, jika Dia menjadi dia dan keduanya menjadi 
dua dzat yang menyatu.
  
 Betapa anehnya ! Bagaimana akal orang-orang sufi tersebut menerimanya dengan 
cara membenarkan kebohongan ini ? Dan bagaimana pula hingga lisan mereka 
mengulang-ngulangnya ? Sungguh, Kursi-Nya seluas langit dan bumi, maka 
bagaimana mungkin jasad manusia dapat menampung-Nya ?.
  
 Adapun hadits berikut :
 
 "Artinya : Langit dan bumi-Ku sempit bagi-Ku, akan tapi hati hamba-Ku yang 
beriman lapang bagi-Ku"
 
 Maka hadits ini adalah hadits palsu menurut kesepakatan para ulama ilmu hadits.
  
 WIHDAH AL-WUJUD
 Pemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wihdah 
al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa 
dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah. Maka, tidaklah segala yang 
nampak ini kecuali penjelmaan dzat-Nya semata. Yaitu, Allah. Maha Suci Allah, 
Rabb kita, Rabb yang Maha Mulia dari apa yang mereka sifatkan.
  
 Ibnu Arabi berkata : "Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah 
Allah mengetahui kecuali Allah".
  
 Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah orang-orang yang mengatakan :"Akulah 
Allah, Maha Suci Aku". Seperti, Abu Yazid Al-Bustahmi.[6]
  
 Katanya : "Rabb itu haq dan hamba itu haq. Maka, betapa malangku. Siapakah 
kalau demikian yang menjadi hamba ? Jika aku katakan hamba, maka yang demikian 
itu haq, atau aku katakan Rabb, sesungguhnya aku hamba".
  
 Dikatakan pula : [7] "Suatu saat hamba menjadi Rabb tanpa diragukan, dan suatu 
saat seorang hamba menjadi hamba tanpa kedustaan".
  
 Keberanian mereka kepada Allah sampai puncaknya ketika tukang sya'ir mereka, 
Muhammad Baha'uddin Al-Baithar mengatakan : [8] "Tidaklah anjing dan babi itu 
melainkan sesembahan kita, dan tidaklah Allah itu melainkan rahib-rahib yang 
ada dalam gereja-gereja".
  
 Pensyarah kitab Aqidah At-Thahawiyah, Ibnu Abil 'Izzi Al-Hanafi, berkata 
:"Perkataan yang demikian itu mengantarkan manusia pada teori hulul wa 
al-ittihad. Hal ini lebih keji daripada kafirnya orang-orang Nashrani. Karena 
orang-orang Nashrani mengkhususkan menyatunya Alllah hanya dengan Al-Masih, 
sedangkan mereka memberlakukan secara umum terhadap seluruh mahluk. termasuk 
keyakinan mereka pula, bahwa Fir'aun dan kaumnya memiliki kesempurnaan iman, 
sangat mengenal Allah secara hakiki.
  
 Termasuk dari cabangnya pula, bahwa para penyembah berhala berada diatas 
kebenaran, dan mereka sesungguhnya beribadah kepada Allah, tidak kepada 
lainnya. Keyakinan lainnya, tida ada perbedaan dalam penghalalan dan 
pengharaman antara ibu, saudara perempuan dan yang bukan mahram. Dan tidak ada 
perbedaan antara air dengan khamer, zina dengan nikah. Semuanya itu berasal 
dari sumber yang satu. Dan termasuk cabangnya pula, bahwa para nabi 
mempersempit manusia. Maha Tinnggi Allah dari apa yang mereka katakan". [9]
  
 Keyakinan semacam ini merupakan puncak tertinggi dari kekafiran, yang 
dengannya hancurlah seluruh agama, membatalkan seluruh syari'at, dihalalkan 
seluruh perkara yang diharamkan, dan disamakannya orang yang beriman dengan 
orang fasik, orang bertaqwa dengan orang binasa, muslim dengan mujrim, yang 
hidup dengan yang mati. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
 "Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang-orang muslim seperti 
orang-orang yang suka berbuat dosa, bagaimana kalian dengan apa yang kalian 
putuskan. Apakah kalian mempunyai kitab yang dapat dibaca ? [Al-Qalam : 35-37].
 
 Benar, mereka mempunyai kitab selain Al-Qur'an. yaitu, Al-Fushush Al-Hikam dan 
Al-Futuhat Al-Makkiyah. Dan telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
 
 "Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang yang beriman dan beramal shalih 
seperti orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Ataukah Kami hendak 
menjadikan orang-orang yang bertaqwa seperti orang-orang kafir". [Shad : 28].
 
 Dan apa yang kami paparkan di sini bukanlah hasil istimbath kami dan bukan 
pula ijtihad. Akan tetapi, semua itu adalah perkataan mereka yang diucapkan 
dengan lisannya. Yang syaikh paling senior diantara mereka selalu mengulang 
kekafirannya dan menyatakan kefasikannya.
  
 Bila pembaca menghendaki hakikat yang kami paparkan dan dalil yang kami 
kukuhkan, maka lihatlah kitab Al-Fathu Ar-Rabbani dan Al-Faidh Ar-Rahmani, 
karangan Abdul Ghani An-Nablisi hal. 84,85,86,87.
  
 Semoga Allah memaafkan kita.
 
 [Disadur dari kitab Al-Islam fi-Dha'u Al-Kitab wa As-Sunnah, cet.II, hal. 
81-97. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 17/II/1416H-1996M, dengan judul 
Borok-Borok Sufi]
 ________ 
 Fote Note
 [1]. Ihya'Ulumuddin, AL-Ghazali, I/19
 [2]. Ath-Thawasin. Al-Hallaj, cet. Masoniyah, hal. 139
 [3]. Tablis Iblis, Ibnul Jauzi, hal.145.
 [4]. Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah, XI/247-248
 [5]. Ma'arij At-Tashawuf Ila Laqaiq At-Tashawuf, Ahmad Bin 'Ajibah, hal.139.
 [6]. Al-Futuhat Al-Makiyah, I/354.
 [7]. Fushush Al-Hikam, hal.90
 [8]. Shufiyat, hal.27
 [9]. Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal.79
       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke