Buletin Gaul Islam
21 Juli 2005 - 13:51
Working Women
STUDIA Edisi 254/Tahun ke-6 (25 Juli 2005)
Perempuan bekerja, bukan hal asing lagi di jaman sekarang. Mulai dari
bidang berat seperti di perindustrian dengan menjadi tenaga yang menggerakkan
roda-roda mesin, jadi kuli bangunan hingga ke bidang yang emang sesuai dengan
fitrahnya seperti jadi perawat or guru.
Semua seakan berlomba-lomba untuk mendapatkan lahan pekerjaan di sektor
publik. Bahkan karena tidak mencukupinya lahan di dalam negeri, banyak dari
para perempuan yang eksodus ke luar negeri dengan menjadi TKW alias Tenaga
Kerja Wanita. Kalo kita mau mencermati mereka yang disebut TKW ini biasanya
berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang. Hayo?mana ada
professor Indonesia yang menjadi dosen di perguruan tinggi luar negeri disebut
TKW? Nggak kan? Sebutannya pasti bukan TKW.
Bukan masalah penyebutan ini yang bakal kita bahas di topik Studia kali ini.
Tapi ramainya perempuan di sektor publik inilah, sebab musababnya, fenomena
kemunculannya hingga sejauh mana hak perempuan dilindungi dikaitkan dengan
sistem Islam dan bagaimana cara mengaturnya. Duh..berat yah? Ah?nggak juga.
Lanjut yuk? Siapa takut!
Working women , beginilah nasibmu...
Pernah gak kamu baca surat kabar atau menyimak acara berita di TV tentang
nasib para TKW ini? Ato jangan-jangan ketika kamu baca surat kabar cuma kolom
gossip artis dan jadwal sinema aja yang kamu buka. Ato bila nonton TV, maka
acara infotainment jadi pilihan? Wah?kamu bakal jadi remaja yang kuper (kurang
pergaulan) dan kupeng (kurang pengetahuan) kalo gitu. Sorry ya, Non.
Nasib TKW ato nama kerennya working women , baik yang di dalam negeri maupun
di luar negeri sesungguhnya gak beda jauh. Bedanya mungkin bagi mereka yang
jadi TKW di luar negeri mempunyai prestise tersendiri karena pernah ke
Singapura, Malaysia, Hongkong atau bahkan Arab Saudi. Pulang-pulang bawa duit
banyak dan membeli selusin sapi dan berhektar-hektar sawah.
Eits, tapi jangan salah. Disamping kesuksesan para TKW yang mampu membawa
devisa bagi negara itu, sesungguhnya nasib ribuan yang lainnya jauh merana.
Banyak diberitakan media massa bahwa ada TKW asal Lampung yang terancam hukuman
mati di Singapura. Belum lagi yang ramai diberitakan baru-baru ini adalah TKW
yang bekerja di Arab Saudi yang disiksa oleh majikannya. Dan masih banyak lagi
kasus TKW yang tidak terekspos.
Sedangkan jadi TKW di negeri sendiri seringnya jadi pembokat orang kaya
dengan gaji standar yang seringkali di bawah UMR (Upah Minimum Regional). Sudah
bukan rahasia lagi kalo rata-rata orang Indonesia itu terkenal malasnya
(terutama orang-orang berduit) untuk melakukan pekerjaan domestik semacam
mencuci baju, piring, bersihin rumah, nyuci kendaraan, dll. Mereka cenderung
mengambil pembantu rumah tangga yang seringkali diperlakukan semena-mena.
Naudzhubillah.
Fakta TKW negeri sendiri juga banyak dijumpai di pabrik-pabrik sebagai buruh.
Mereka bekerja enam hari seminggu dan lebih dari delapan jam per hari dengan
upah yang sangat minim. Ketika UMR berkisar sekitar lima ratus ribu rupiah
untuk saat ini, mereka para buruh itu menerima gaji jauh di bawah itu. Belum
lagi apabila tidak masuk kerja karena alasan tententu, sakit atau keperluan
keluarga misalnya, maka potongan gajinya jauh lebih besar daripada
pendapatannya. Bisa-bisa mereka cuma kerja bakti selama menjadi buruh di pabrik
itu. Mengenaskan banget!
Ini masih fenomena TKW yang bergerak di sektor domestik dan buruh. Belum lagi
kita bicara tentang perempuan yang bergerak di sektor lain semisal guru,
perawat, pegawai kantoran, atau bahkan eksekutif muda. Begitu banyak PR yang
harus dipikirkan berkaitan dengan kondisi para tenaga kerja wanita ini.
Kenapa bisa begitu?
Sistem yang diterapkan atas kita saat ini adalah sistem kapitalisme dengan
asas liberalisasinya. Inilah akar masalah munculnya fenomena TKW ini. Ketika
semua ukurannya jadi materi, perempuan yang ?sekadar' menjadi ibu rumah tangga
dianggap tidak produktif. Produktif dalam isi kepala kapitalis adalah
mengerjakan sesuatu yang itu nantinya bisa menghasilkan uang.
Perempuan-perempuan yang semula bangga dan bahagia menjadi ibu rumah tangga
diperdaya untuk keluar rumah atas nama emansipasi dan kesetaraan gender. Mereka
tak lagi puas berdiam diri di rumah untuk mendidik anak dan menjadi pendamping
setia sang suami. Bahkan ketika harta sudah berkecukupan pun serasa ada yang
kurang bila ibu hanya tinggal di rumah. Jadilah mereka mulai mencari eksistensi
dirinya dengan bekerja atau aktif di luar rumah.
Padahal di sisi lain, begitu banyak perempuan keluar rumah untuk bekerja
bukan karena gengsi, tapi murni karena tuntutan ekonomi. Misalnya, karena
terlahir dari keluarga yang miskin dan tidak ada saudara laki-laki yang
menafkahi. Atau bila pun ada saudara laki-laki tetapi karena pemahaman Islam
yang minim, sehingga tidak merasa wajib menghidupi adik atau kakak
perempuannya.
Inilah lingkaran setan yang diciptakan oleh sistem sekularisme. Ketika agama
hanya digunakan untuk mengurusi urusan manusia dengan tuhannya, dan kehidupan
dunia diserahkan pada akal manusia untuk mengaturnya. Kacau bin balau, Neng.
Kondisi ini emang sengaja diciptakan untuk ada. Eksisnya sebuah ideologi
tidak bisa bersanding dengan ideologi yang lain. Begitu juga dengan
kapitalisme. Runtuhnya Sosialisme-Komunisme sebagai tandingannya, mereka
menoleh pada Islam sebagai ancaman. Maka sebelum Islam sebagai ideologi ini
muncul, diantisipasilah dengan cara menyeret para muslimahnya ke ruang publik.
Demi sebuah eksistensi, kata kalangan atas. Demi sesuap nasi, kata kalangan
bawah.
Lalu gimana dong Islam menyikapi persoalan TKW ini dengan benar dan bijak?
Islam juga mengurus TKW
Islam adalah aturan hidup yang lengkap, kita yakin itu. Tidak ada satu
persoalan pun yang lepas dari solusi Islam. Termasuk masalah TKW ini. Perempuan
dalam Islam begitu mulia dan dilindungi. Tidak ada kewajiban untuk bekerja
sebagaimana dibebankan pada laki-laki. Bahkan kewajiban para laki-laki yang
berstatus bapak, suami, kakak atau adik laki-laki untuk menafkahi perempuan.
Kewajiban laki-laki dan hak perempuan ini dibuat oleh Yang Maha Mengetahui
tentang hakikat manusia. Perempuan dengan seluruh fitrahnya begitu halus dan
lembut. Ia telah diberi amanah untuk mengandung dan melahirkan, sesuatu yang
tidak dimiliki oleh kaum Adam. Sehingga karena fungsinya keperempuanannya
inilah, Islam mengatur hukum bekerja baginya.
Dalam kehidupan Islam yang ideal, perempuan tidak ada kewajiban sedikit pun
baginya untuk bekerja. Bila pun ia memang memiliki potensi yang bermanfaat
untuk umat sesuai dengan fitrahnya, semisal dengan menjadi guru dan dokter,
maka ada syarat-syarat yang harus diperhatikan ketika keluar rumah.
Menutup aurat dengan berkerudung dan berjilbab adalah wajib bagi perempuan.
Lalu diperhatikan pula lingkungan tempatnya bekerja apakah ikhtilat/campur baur
ataukah tidak. Bidang pekerjaan apa yang ditekuninya, sesuai dengan fitrahnya
ataukah tidak. Jangan sampai sudah menutup aurat dan tidak ikhtilat tapi
pekerjaannya ternyata mengayuh becak. Duh? tega nian. Bukan bermaksud
meremehkan satu pekerjaan tertentu, tapi lihatlah perempuan secara fitrah,
fisiknya tidak sekuat laki-laki. Perhatikan tekstur kulit dan tulangnya, beda
banget. Belum lagi setiap bulan harus dikunjungi ?tamu' tertentu yang akan
semakin menambah lemah tubuhnya.
Karena itulah Islam tahu betul tentang hal ini. Dalam pandangan Islam,
perempuan tuh mubah hukumnya untuk bekerja. Selama aktivitas mubah ini
dilakukan dengan tidak mengabaikan yang wajib seperti menjadi pengurus rumah
tangga dan pendidik utama bagi anak-anaknya, maka bekerja adalah sah-sah aja
bagi perempuan.
Bandingkan dengan sistem kapitalisme yang begitu kejam dengan perempuan tapi
berkedok emansipasi. Perempuan-perempuan ditarik ke sektor publik, digiring ke
pabrik-pabrik untuk menjadi penggerak roda perindustrian. Mereka dibayar dengan
gaji lebih murah daripada laki-laki,
Tau nggak kamu fakta di lapangan bahwa betapa banyak perempuan yang tidak
boleh ambil cuti ketika nyeri masa haid datang. Belum lagi cuti melahirkan yang
begitu singkat. Hanya dengan dua atau tiga bulan mereka harus kembali bekerja
lagi. Anak yang seharusnya mendapat ASI hingga 2 tahun akhirnya harus menjadi
?anak sapi' karena terlalu banyak minum susu sapi.
Belum lagi pendidikan anak yang diserahkan begitu saja kepada pembantu dan
televisi karena sibuknya sang ibu. Kalo udah begini kondisinya, lalu kualitas
generasi mendatang kayak apa neh yang bisa kita harapkan?
Memang sih perempuan boleh bekerja. Tapi yang utama haruslah mendapat ijin
dari walinya dulu. Kalo masih gadis berarti ayahnya yang menjadi wali. Bila
sudah menikah maka suaminya adalah wali dari si perempuan. Tanpa ijin dari
walinya, maka sesungguhnya haramlah bagi perempuan untuk keluar rumah.
Kalo boleh nyaranin nih yah, profesi ?aman' sebagai wiraswastawati (ingat
ibunda Khadijah kan?) atau sebagai penulis (seperti saya ini.. hehehe? pede
banget!) adalah alternatif untuk perempuan memilih profesi. Atau bisa juga
sebagai guru, dosen, perawat, dokter dan profesi lain yang sesuai dengan fitrah
perempuan. Tentunya dengan tidak meninggalkan kewajiban utamanya sebagai ?ibu
dan pengatur rumah tangganya?.
Sayangnya, ketika tidak diterapkannya sstem Islam, semua memang serba salah.
Ketika wali mengijinkan perempuan untuk keluar rumah, kondisi situasi kerja
yang tidak kondusif bagi perempuan adalah kenyataan yang harus dihadapi.
Penjagaan dan perlindungan perempuan ketika keluar rumah minim sekali.
Sedangkan bila ayah atau suami sendiri yang banting tulang mencari nafkah,
masih saja belum mencukupi untuk keperluan rumah tangga. Jadilah perempuan juga
ambil bagian untuk menjaga agar dapur rumah tetap mengepul.
So , ternyata masalah TKW atau working women ini bukan melulu masalah ekonomi
atau sekadar aktualisasi diri. Tapi ada masalah mendasar alias sistem yang
melingkupinya. Ini juga kalo gak bisa dibilang malah akar permasalahan dari
semua keruwetan yang ada. Trus, gimana dong?
Apa iya, meski miskin perempuan gak usah kerja dan harus pasrah aja? Apa iya,
mereka yang diberi anugerah Allah dengan segudang potensi disimpan aja di dalam
rumah dengan alasan kondisi gak sesuai syara'? Apa iya, gak ada yang bisa kita
lakukan untuk mengubah kondisi ini? Padahal dalam al-Quran, Allah sendiri yang
berfirman: ?Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib (keadaan) sesuatu kaum
sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.? (QS
ar-Ra'd [13]: 11)
Ngaji dan dakwahkan jawabnya. Di mana pun kamu para muslimah bekerja, entah
karena tuntutan ekonomi keluarga ataupun memaksimalkan potensi diri, yang
penting jangan berdiam diri. Jangan sampai waktumu hanya habis untuk bekerja
saja. Tapi yang utama kemauan untuk mengubah kondisi tidak ideal ini (sistem
kapitalisme yang melingkupi kita) dengan sistem ideal yaitu sistem Islam.
Benar juga apa yang dituliskan Pierre Crabbites, dalam artikel ?Paham
Muhammad terhadap Kaum Wanita': ?Tiga belas abad silam, Muhammad memberikan
jaminan kepada kaum ibu, para isteri, dan anak-anak perempuan muslimah dengan
mengangkat derajat mereka, yang pada galibnya belum pernah diterapkan terhadap
kaum wanita pada sistem perundang-undangan yang berlaku di Barat!?
Oya, untuk berjuang mengubah kondisi ini gak mungkin bisa kamu lakukan tanpa
kamu sendiri tahu gimana Islam ngasih solusi. Dan itu semua gak bisa kamu
dapatkan tanpa ngaji. Tanpa belajar. So , yok ayok kita kaji Islam sebagai
bekal mengubah nasib TKW yang banyak kisah pilunya ini menjadi kondisi ideal
dengan Islam saja sebagai ideologinya. Setuju kan? Harus itu! [riafariana]
between 0000-00-00 and 9999-99-99
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]