Guru Sukarelawan
Bertahan dengan Gaji Rp 100.000 Per Bulan
  
Kompas/Lasti Kurnia / Kompas Images 
Udenda (kanan), seorang guru sukarelawan, menampung tiga murid kelas VI SDN 
Cikawung yang mengungsi di rumahnya selama berlangsung ujian akhir sekolah 
berstandar nasional (UASBN), di Cibitung, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (15/5).  
Selasa, 3 Juni 2008 | 03:00 WIB 
Oleh INDIRA PERMANASARI
Muksin sudah hampir tiga tahun mengabdi sebagai guru sukarelawan di SDN 
Ciroyom, sebuah sekolah terpencil di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat bagian 
selatan. Gaji yang cuma Rp 100.000 per bulan tidak menjadi penghalang.
Kerap muncul keinginan berhenti di benak pemuda berusia 22 tahun itu. Namun, 
setiap kali pula muncul wajah anak-anak yang selama ini diajarnya dan masa 
depan mereka. Ia pun kembali bersemangat. Sekolah-sekolah di wilayah terpencil 
bergantung pada keikhlasan hati para sukarelawan.
Menjadi guru sukarelawan di sekolah terpencil di Kampung Ciroyom bukan perkara 
enteng. SDN Ciroyom terletak di Kampung Ciroyom, Kecamatan Cibitung, Kabupaten 
Sukabumi. Kampung yang tak jauh dari Laut Selatan Jawa itu belum dialiri 
listrik. Sebagian besar warga kampung merupakan buruh tani atau penyadap nira 
kelapa.
Di SDN Ciroyom terdapat empat guru sukarelawan dan tiga guru berstatus pegawai 
negeri sipil, termasuk kepala sekolah.
Selain honor yang kecil, mereka juga harus menghadapi cobaan lain, yakni tidak 
adanya fasilitas perumahan untuk mereka. Jadilah ketujuh guru termasuk kepala 
sekolah tinggal di kantor sekolah yang sempit. Ruangan itu pun masih disekat 
untuk ruang tidur dan dapur.
Lantaran tidak ada toilet, setiap kali butuh membuang hajat, para guru terpaksa 
pergi ke Sungai Telanca, sekitar 500 meter dari sekolah.
"Beginilah kehidupan kami sehari-hari," kata Kepala SDN Ciroyom Sumarna.
Untuk makan sehari-hari, banyak warga yang memberikan beras saat panen. 
Guru-guru itu juga bergiliran memasak. Bahannya apa saja yang ditemukan di 
sekitar sekolah, seperti daun singkong atau jantung pisang. Kadang mereka 
bersama warga mencari ikan ke laut.
Sukarela
Keterlibatan Muksin menjadi guru sukarelawan berawal dari ajakan seorang mantan 
gurunya. Muksin masih ingat waktu itu dia sedang bermain bola ketika mantan 
gurunya sewaktu SD, Iskandar, memanggilnya. "Almarhum Pak Iskandar sedang 
menjabat Kepala SDN Ciroyom dan mengajak saya menjadi guru sukarela di 
sekolahnya. Waktu itu hanya beliau sendiri yang mengajar di SDN Ciroyom," 
ujarnya.
Muksin tidak langsung menerima tawaran itu. Selama seminggu dia berpikir keras 
sebelum mengiyakannya. Muksin yang lulusan D-2 Jurusan Pendidikan Guru Sekolah 
Dasar Kependidikan Islam atau Tarbiyah ditugaskan mengajar di kelas satu.
Seiring berjalannya waktu, jumlah guru sukarelawan pun terus bertambah. Namun, 
sekolah tempat para guru itu mengajar bukan tempat yang nyaman.
Bangunan sekolah dan atap rusak sehingga saat hujan murid-murid dibubarkan dan 
guru harus menyelamatkan buku-buku dari kemungkinan terkena air hujan.
Karena dijalani dengan ikhlas, lama-kelamaan semuanya mulai terbiasa. Anak-anak 
menjadi sumber kegembiraan para guru mengajar di sana. Di luar jam sekolah, 
terkadang mereka bermain di lingkungan sekolah dan mengunjungi para gurunya.
Tidak hanya para guru sukarelawan di SDN Ciroyom yang berjuang mengajar di 
kondisi serba terbatas. Di SDN Cikawung ada dua guru pegawai negeri sipil dan 
tiga sukarelawan. Udenda, salah seorang guru sukarelawan, dibayar Rp 150.000 
per tiga bulan atau sekitar Rp 50.000 per bulan yang diambil dari Bantuan 
Operasional Sekolah (BOS).
Medan menuju SDN Cikawung tidak jauh berbeda dengan SDN Ciroyom. Udenda, sang 
guru sukarelawan, juga memilih tinggal di perumahan sederhana milik sekolah.
Pada masa awal menjadi guru, Udenda hanya berdua dengan kepala sekolah yang 
bertugas di sekolah itu. Kemudian, satu per satu datang guru baru.
Sebagian besar guru sukarelawan tersebut belum berumah tangga dan bahkan tidak 
berani memikirkan berkeluarga. "Mau dikasih makan apa keluarga saya nanti 
dengan gaji Rp 100.000?" ujar Udenda yang sebelumnya selama dua tahun bekerja 
sebagai teknisi pendingin ruangan di Jakarta.
Bagi Udenda, menjadi guru merupakan pengabdian. Dia belum tahu sampai kapan 
bertahan menjadi guru sukarelawan. Yang jelas, saat ini, dia tidak tega 
meninggalkan warga di Cikawung yang membutuhkan pendidikan seperti anak-anak di 
daerah lain.
Muksin, Udenda, dan para guru lainnya bertahan menjadi guru sukarelawan karena 
pengabdian, perhatian, dan keprihatinan terhadap masa depan anak-anak di 
kampung terpencil.
Mereka rela berkorban dan mengabaikan kepentingan dirinya sendiri demi masa 
depan anak-anak yang mereka cintai.
 
Sumber : Kompas


      

Kirim email ke