Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh
Namaku Sutimen. Mantan pacarnya "Muslihah".
Ketika masih SD, kami suka bermain-main kelereng, main
alek-alek-an.
Pacarku Muslihah ini, wajahnya imut-imut, lumayan
cantiklah, chines face.Mata sipit, rambut lurus, bibir
merah merekah, alis bak semut beriring.
Kami sering pergi ngaji bersama-sama teman lainnya.
Kadang-kadang matanya melirik ke aku, dan mataku
melirik kedia(maklumlah anak mude....)
Sepulang ngaji, biasanya kami singgah disebuah warung
bakso. Dan karena Muslihah ini, anak orang kaya,
maklumlah ada darah keturunan China Islam, jadi kami
sering ditraktirin olehnya.Selagi makan baksopun masih
sempat-sempatnya mata sipit itu memandangku(dengan
mencuri-curi dan tersipu malu, kalau ketahuan olehku).
Setelah tammat SD, kami sama-sama masuk SMP San
Praciskus, sebuah SMP lumayan bagus, disiplin,
teratur, dan selalu menjadi juara diseluruh sekolah
yang ada dipropinsiku.
Di SMP itu, kami diajarkan ajaran Kristen Khatolik dan
Protestan. Bagaimana kami berdo'a dengan meletakkan
kedua tangan didada menyilang, kemudian kekepala, trus
kedada kembali.
Tahun-tahun berikutnya, kami juga sama-sama masuk SMA
di sekolah yang sama, sampaipun dikuliyah yang
sama.SLTA kami kali ini SMU yang mengarah kepada
ajaran islam.
Satu hal yang tak kusenangi dari pacarku ini adalah,
sikapnya yang plin plan, gampang terpengaruh dengan
lingkungannya.Dan ia suka mengubar fitnah, atas
kejadian yang tak ada faktanya.
Suatu kali, ada seorang yang mengaku-ngaku Islam,
namun ajarannya sangat jauh dan sangat berbeda dari
ajaran islam yang kekenal semenjak dari kecil, orang
tersebut mengajaknya kerumahnya, dengan penuh keramah
tamahan, santun dan segudang imeng-imeng
menggairahkan.
Entah kenapa, pacarku ini, terbawa ajaran tersebut,
setelah kutanya-tanya, apa nama organisasi/ajaran
tersebut, pacarku Muslihah menjawab :"Ahmadiyyah".
ternyata pacarku Muslihah yang imut-imut itu,dah masuk
kedalam perangkapnya, sehingga dengan tegas aku
mengatakan :
"Maaf, kita putus, karena kita sudah tak seaqidah
lagi". Bertahun-tahun, semenjak kecil, cinta telah
kita rajut bersama, bersama suka duka, cemburu, tawa
dan tangis, kini semua itu harus kita akhiri, kataku
padanya".
Air mata Muslihah berkaca-kaca, penuh butiran putih
menggelembung, bagai gumpalan salju yang tak
habis-habisnya.Matanya sembab karena tangisan air
mata, dan begitupun aku masih berbaik hati, dengan
memberikan seutas/selembar tissue yang ada
dikantongku.
Kecantikannya/kelembutannya, senyum manisnya, hilang,
sirna dimakan rayap, gelombang tak bertepi dimataku,
bukan hanya karena dia sudah jauh dari ajaran Islam,
ajaran kami berdua semasa kami mulai merajut tali
kasih.
Karena sakit hati putus cinta, maka Muslihah bingung,
mo dikemanakan pembalasan dendamnya padaku ini.
Eh...tiba-tida ada kejadian 1 Juni di Monas, hari
bersejarah itu.
Wow...pucuk dicinta ulam tiba, pikir Muslihah mantan
kekasihku itu.
Apa gumamnya:" Ini..ni..dianya..waktu pembalasan
dendamku padamu wahai Sutimen, kau telah memutuskan
aku begitu saja, tanpa pandang perasaan hancurnya
hatiku,..maka..terimalah pembalasanku dengan email
yang akan kusebarkan keseluruh penjuru Indonesia ini.
Aku tahu, ini fitnah, ini dusta dariku, dan aku sangat
tahu fitnah lebih kejam dari pembunuhan, dusta
dilarang dalam Islam, namun...aku tak kuasa, karena
Cintaku telah kau bakar seenaknya, maka rasakanlah
bagaimana sakitnya hatimu akan fitnahanku dibawah ini.
Kau tahukan penyebab utama fitnahanku ini? KARENA KAU
TELAH PUTUSKAN CINTAKU YANG MEMBARA-BARA DITENGAH
JALAN,..hanya karena kau begitu cintanya pada ajaran
Islammu itu, rela kau putuskan diriku yang cantik
jelita ini....
Demikianlah kronologis novel ini....
Wassalamu'alaikum. Cairo, 6 Juni 2008 Rahima
>
> Namaku Muslihah Razak, lahir dari keluarga kyai di
> sebuah desa di
> Kabupaten Cirebon. Dari kecil aku sudah bersekolah
> di sekolah agama.
> Pada sore harinya, aku juga ikut belajar kitab dan
> tata bahasa Arab,
> juga sekolah malam hari yang khusus mengkaji
> kitab-kitab kuning.
>
> Selesai Tsanawiyah aku langsung memasuki pesantren
> selama 4 tahun,
> dan kemudian melanjutkan ke IAIN Syarif Hidayatullah
> Jakarta, yang
> kini sudah berganti nama menjadi UIN, dengan
> mengambil Fakultas
> Syariah.
>
> Aku bangga dengan keislamanku, dengan panutan suri
> tauladan Nabi
> Muhammad. Beliau adalah seorang revolusioner,
> seorang yang lembut
> dan penuh kasih. Ajarannya begitu luhur, mampu
> merangkul dan
> melindungi semua kelompok apapun agamanya.
>
> Bagiku Muhammad bukan hanya sebuah nama atau pribadi
> tapi dia adalah
> akidah yang hidup. Raganya sudah meninggalkan kita
> tapi ajarannya
> akan hidup sepanjang jaman. Muhammad adalah kita
> semua, cerminan
> sikap yang lembut dan penuh kasih, anti kekerasan,
> pemaaf dan cinta
> damai.
>
> Aku bangga dengan keislamanku sampai ada peristiwa
> yang begitu
> menamparku dan membuatku merasa sangat terhina dan
> malu. Pada
> peringatan 63 tahun Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni
> 2008 di
> Lapangan Monas yang lalu, sekelompok orang dengan
> memakai kaos FPI
> berbendera hijau bertuliskan La Ilaha Ilallah,
> menyerang kami sambil
> mengumandangkan Allahu Akbar.
>
> Tatapan mereka sangat beringas. Teriakan ibu-ibu,
> suara tangisan
> anak kecil, jeritan perempuan-perempuan tidak
> membuat hati mereka
> luluh.Tidak ada satupun dari kami yang melakukan
> perlawanan. Kami
> hanya menghindar sampai terpojok di depan tugu yang
> di kanan kirinya
> ada pembatas. Kami masih tetap diburu walaupun sudah
> terpojok.
>
> Dari atas tugu mereka bahkan melempari kami dengan
> batu-batu besar
> yang pasti sudah dipersiapkan sebelumnya, karena
> batu sebesar itu
> tidak ada di taman Monas.
>
> Mereka memakai pentungan dan bambu berpaku untuk
> memukul teman-teman
> yang tidak bisa menaiki tembok pembatas taman.
> Teman-teman yang
> sudah jatuh tersungkur pun, masih ditendang dan
> diinjak-injak.
>
> Mereka menyerang siapa saja, tidak peduli orang
> Kristen, Hindu,
> Budha, Konghucu. Ibu-ibu yang memakai pakaian muslim
> pun mereka
> pukuli. Aku bahkan melihat ada anak kecil yang
> kepalanya dibenturkan
> ke tembok.
>
> Teman-teman kami banyak yang terluka. Tidak sedikit
> yang harus
> dirawat di rumah sakit, karena gegar otak, kepalanya
> bocor, atau
> memar. Luka fisik dapat kami obati, tapi luka batin
> begitu dalam.
>
> Secara pribadi sebagai muslimah aku begitu shock
> melihat bangsaku
> begitu beringas. Saat ini aku masih trauma mendengar
> kalimat Allahu
> Akbar, tulisan syahadat, dan semua panji-panji
> Islam. Semua nilai-
> nilai Islam yang kuyakini dari kecil seperti hancur
> berantakan.
>
> Aku marah dan tidak rela FPI mewakili Islam. Islam
> yang mereka bawa
> sama sekali tidak mencerminkan Islam yang lembut
> yang aku kenal.
> Islam tidak perlu pembela seperti mereka yang tidak
> punya hati,
> mereka yang tidak mampu mendengar jeritan dan
> tangisan saudara
> sebangsanya sendiri.
>
> Kata "maaf" terbersit dalam hatiku karena saat
> mereka meneriakkan
> yel-yel Islam, aku sempat menjawab dalam hati, kalau
> kalian Islam
> biarkan aku menjadi kafir karena aku tidak mau
> menjadi bagian dari
> kalian.
>
> Aku yakin lebih banyak muslim yang waras daripada
> mereka yang tidak
> waras. Namun suara mereka terlalu keras karena hanya
> itu yang mereka
> punya untuk menutupi kekerdilan hati mereka.
>
> Karena itu, mari teman-temanku kita saling
> bergandengan tangan. Mari
> kita membuat Nabi Muhammad terlahir setiap hari
> dengan perbuatan
> kita yang mencerminkan ahlak beliau yang penuh
> kasih.
>
> Kami yakin darah dan air mata teman-teman tidak
> sia-sia karena
> begitu banyak mata melihat kebrutalan FPI. Tidak ada
> satupun ummat
> Islam yang mau kalian wakili, kecuali orang-orang
> yang hatinya keras
> seperti batu.
>
> Aku mencintai kalian semua teman-temanku di FPI. Aku
> yakin kalian
> hanya kurang memahami. Tidak usahlah berbicara
> tentang agama yang
> jelas-jelas melarang kekerasan. Tapi bicara dengan
> kemanusiaan pasti
> kalian masih terketuk hatinya untuk tidak lagi
> menyakiti dan
> melakukan tindakan anarkis.
>
> Aku akan bergabung dengan kalian mencintai Nabi
> Muhammad sebagai
> uswatun hasanah. Dan seperti Nabi Muhammad, mari
> kita menciptakan
> perdamaian dimanapun kaki kita berpijak.[]
>