Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :"Sesungguhnya yang paling mulia disisi
Allah Ta'ala adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu".
Lantas, bagaimanakah kedudukan orang-orang yang dipuji oleh Allah dan
Rasulullah dari para sahabat radhiallahu 'anhum, seperti Aimmah Abu Bakar, Umar
bin Khattab, Imam Umar, dan Imam Ali R anhum, dan sahabat lainnya?
Kedudukan mereka sebagai orang yang taat pada Allah dan rasulNya, maka sesuai
dengan firman Allah Ta'ala juga : "Dan barang siapa yang mentaati Allah dan
RasulNya, mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat
oleh Allah yaitu: Nabi-nabi, para Shiddiqiin, Shuhada, Shalihiin, dan mereka
itulah teman yang sebaik-baiknya(sebaik-baik teman)(Q.S Annisa 69).
Lihatlah, setelah penyebutan kata "Annabiyyiin", Allah menyebutkan
"Asshiddiqiyyiin"(orang-orang yang suka shiddiq, baik perkataan, ataupun
perbuatan, yaitu yang jujur/shaadiq.
Kita lihat, siapakah para sahabat yang mashur mendapatkan gelar Asshiddiiq?
Yaitu Imam Abu Bakar Asshiddiq.
LANTAS, apakah sahabat-sahabat lainnya, tidak bersifat benar, tidak mendapatkan
pujian juga dari Rasulullah?
Dapat juga, dalam waktu dan tempat yang lain pula.
Seorang guru, bila memuji seorang murid dalam kelasnya si Ani pintar, itu bukan
berarti guru tersebut menafikan kepintaran murid lainnya.
Bisa jadi, saat ini si Ani yang disebut pintar, lain waktu maka si Rudy
dikatakan juga pintar.
Begitulah type guru tauladan, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah yang
cukup banyak memuji para sahabatnya.Tidak Aimmah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali
Ra. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab-kitab shahih Bab Manaaqib Asshahabah.
Kita lihat firman Allah Ta'ala :Q.S Hud 7 :"...Untuk menguji kamu, (siapa)
diantara kamu sebaik-baik amalan...?
Cukup banyak dalam AlQuran, setiap perkataan amalan, selalu dikaitkan dengan
kata Ahsana(Hasana), bukan "Akbara"(Kabirun), atau "'Adzama" atau
"Aktsara"(Banyak)
Ini dikarenakan amalan (ibadah) yang dituntut adalah yang baik, bukan dilihat
kadar besar, banyaknya, tetapi kadar kebaikan mutu(kwalitas) amalan itu. Sesuai
dengan AlQuran dan Assunnahkah(Syari'at Islam), serta ikhlaskah?
Amalan ibadah meski jumlahnya besar atau banyakpun, kalau tak ikhlas atau tak
sesuai dengan syari'at, bukanlah dikatakan amalan yang baik, bisa-bisa masuk
pada Ghuluw(berlebihan), atau Bid'ah(diada-adakan).
Sabda Rasulullah :"Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah Ta'ala
adalah yang berketerusan, meskipun sedikit" Ketimbang banyak hari ini, besok
tak ada sama sekali.
Wassalamu'alaikum. Cairo, 14 Juni 2008. Rahima.